Struktur sistem kehidupan, seperti layaknya sebuah mobil, merupakan perpaduan dari ribuan unsur. Mobil akan berjalan normal jika semua unsurnya berfungsi sebagaimana mestinya. Meski berbeda tingkat pentingnya, seorang pemilik mobil tidak bisa mengabaikan peran sekrup dan hanya mengandalkan roda. Tanpa sekrup, roda akan berputar di luar jalur fungsinya.
Betapapun penting posisi seorang presiden, tidak mungkin roda kehidupan berbangsa berjalan normal tanpa keterlibatan petani, dan rakyat kecil pada umumnya. “Waja’alnakum syu’uban waqabaila,” demikian firman Allah. Manusia terdiri dari berjenis-jenis suku, kemampuan, potensi, profesi, “lita’arafu,” untuk saling kenal, saling sadar diri, serta menjalankan fungsi dan profesinya untuk kesejahteraan bersama.
Seorang presiden tidak boleh menyepelekan rakyat kecil, sekrup. Karena pada suatu saat, ketika semua sekrup bersepakat untuk tidak menjalankan fungsinya, sang presiden tidak akan berarti apapun. Karena seekor gajah pun akan dengan mudah dikalahkan oleh semut-semut yang bekerja sama. Ketika sang presiden merumuskan kebijakannya tanpa mempedulikan rakyat banyak, itulah saat di mana picu kemarahan disuntikkan kepada pemegang kedaulatan tertinggi tersebut. Dan pada saatnya, kemarahan itu akan mampu meluluhlantakkan singgasana sang presiden.
Pernahkah terbayang di benak Anda, jika saat itu al-Quran diturunkan di Indonesia, apa jadinya? Tentu saja al-Quran akan berujud teks berbahasa Indonesia. Dan Indonesia akan tercatat dalam sejarah sebagai tanah kelahiran Nabi Muhammad Saw.
Tentu saja konteks sejarah Arab juga turut mewarnai “rasa bahasa” al-Quran. Dan rasa bahasa ini yang sepertinya tidak banyak dipelajari oleh kita. Bahkan konon, saking tingginya penghormatan terhadap al-Quran, ada sebagian orang yang menganggap setiap tulisan Arab sama sakralnya dengan al-Quran.
“Berbeda antara orang berilmu dengan tidak berilmu,” demikian mafhum muwafaqah dari pertanyaan retorik Allah dalam salah satu firmannya. Tentu tulisan ini bukan bermaksud menyepelekan bahasa Arab. Justru karena kita orang Indonesia, mempelajari bahasa Arab menjadi bagian penting dari upaya memahami al-Quran secara utuh. Agar kita tidak terjebak untuk lebih mementingkan wujud teksnya daripada kandungan isinya.
Tradisi sastra Arab yang sangat tinggi ketika al-Quran diturunkan, sudah semestinya membuat kita berhati-hati memaknai teks al-Quran. Karena di balik teks yang bisa kita tangkap secara literal, permukaan, terkandung konteks sejarah dan rasa bahasa itu. Karena sifat universal al-Quran bisa kita pertahankan justru ketika kita paham konteks ketika al-Quran tersebut diturunkan.