Hari-hari belakangan ini kita mendapatkan tontonan realitas di luar kebiasaan: siaran langsung perang Irak, sadisme manusia satu terhadap manusia lainnya, pembantaian ribuan orang hanya karena ambisi sempit. Tontonan itu diimbangi dengan tontonan lain yang tak kalah menarik: jutaan orang, ratusan juta bahkan, di berbagai negara menolak perang yang dilakukan Bush dan pasukannya. Bahkan penduduk Amerika sendiri.
Barangkali, di saat-saat seperti inilah kita layak merindukan kejayaan Uni Sovyet di masa lalu, sebagai kekuatan pengimbang. Runtuhnya Uni Sovyet memunculkan dunia yang timpang: adi daya tunggal. Karena merasa besar sendirian, Amerika di tangan Bush tak ubahnya seperti raksasa di tengah kurcaci-kurcaci pesuruh. Kekuatan hegemonik ini mengancam bangunan kebudayaan dan peradaban yang dibangun bersama oleh semua negara, bahkan oleh Amerika sendiri.
Perang sudah terjadi, Bush sudah nyata-nyata menutup mata dan telinganya dari himbauan, ajakan, hujatan, bahkan kutukan jutaan manusia lain yang menolak perang. Adakah yang bisa kita lakukan? Jelas ada. Turun ke jalan menolak perang, berteriak mengutuk mengalirnya darah manusia, empati terhadap rakyat yang menjadi korban perang ini. Atau sekedar berdoa dan menyatakan ketidaksetujuan dalam hati, meskipun itu adalah bentuk keimanan yang paling lemah.
Kullukum ra’in, wakullukum mas’ulun ‘an ra’iyatih, demikian Nabi Saw. mengajarkan kepada kita, sebagaimana diteruskan oleh guru-guru dan pendahulu kita. Di negeri yang sedang merangkak ke arah demokrasi ini, setiap warga dituntut tanggung jawabnya untuk memilih pemimpinnya. Presiden, Gubernur, Bupati, Camat, Kepala Desa, Ketua RT bertanggung jawab terhadap kita sebagai pemilih dan pihak yang dipimpin. Sebagai rakyat kita juga punya hak, bahkan kewajiban, untuk mengawasi dan mengontrol kepemimpinan mereka.
Kabar bagus berhembus dari gedung DPR/MPR; pada pemilu mendatang, di samping memilih lambang partai, kita juga bisa memilih gambar/nama calon dari masing-masing partai. Meski bukan jaminan, paling tidak pemilih lebih bertanggung jawab karena lebih mengenal secara langsung seseorang berdasarkan kredibiltas yang dimilikinya, tidak lagi membeli kucing dalam karung. Sudah tentu jika semua calon yang diajukan bermasalah, pemilih berhak untuk tidak memilih alias menjadi Golput (golongan putih).
Tugas kita adalah memastikan bahwa pilihan kita didasarkan atas komitmen moral, kredibilitas, dan program-program kongkrit yang ditawarkan seseorang atau suatu partai. Tidak layak bagi kita memilih pemimpin yang sudah jelas korup, tak bermoral, dan menindas rakyat dengan kekuasaannya. Karena setiap pilihan kita akan kita pertanggungjawabkan ke hadapan Allah Swt. kelak. Karena setiap pilihan kita akan berpengaruh pada perjalanan Indonesia ke depan.