Dalam sebuah forum diskusi terbatas, Nirwan Dewanto pernah melontarkan satu sindiran tajam terhadap para intelektual kita. “Seorang Cak Nur yang seagung itu” begitu kira-kira Nirwan saat itu, “pun tidak bisa disebut sebagai penulis buku. Tidak satupun buku yang ditulisnya.” Ia ingin menegaskan betapa ironisnya para intelektual di Indonesia yang tidak memiliki tradisi menulis buku serius. Yang ada hanya serpihan-serpihan pemikiran yang tercecer dari koran ke koran, dari seminar ke seminar. Yang ada hanya “buku”, kumpulan tulisan.
Mengapa buku utuh karya intelektual kita saat ini tidak banyak? Jawabannya tentu saja sangat beragam, dan bertingkat-tingkat. Secara umum, tradisi menulis kita terkait erat dengan sistem pendidikan, minat baca, dan terutama penghargaan terhadap karya intelektual yang masih sangat rendah. Tak usahlah jauh-jauh kita membandingkan tradisi intelektual kita dengan India misalnya—Cak Nur sendiri pernah menyebut perbandingan lulusan S2 antara Indonesia dan India, yaitu 1:60. Dibandingkan negeri jiran Malaysia yang dulu sempat mengimpor ratusan tenaga pendidik dari Indonesia, kita masih kalah beberapa langkah.
Di kalangan intelektual kita, kecenderungan untuk menggunakan koran, media massa, sebagai lahan berekspresi dan berartikulasi belakangan semakin dominan. Tidak hanya di kalangan penulis pemula yang menggunakan koran sebagai alternatif proses pembelajaran dan jenjang tradisi penulisan, namun juga di kalangan intelektual “tua”. Sindiran Nirwan di atas mempertegas kecenderungan ini.
Di Indonesia ini, sulit sekali kita menemukan seorang Karen Armstrong yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk meneliti dan menulis. Atau seorang al-Ghazali yang menghabiskan puluhan tahun mempelajari dan mengkritisi seluruh khazanah filsafat yang ada, sehingga melahirkan buku kontroversialnya Tahafut al-Falasifah dan melahirkan mahakaryanya, Ihya ‘Ulum al-Din.
Ada beberapa hal yang membuat kalangan intelektual kita menjatuhkan pilihan pada “koran”. Pertama, tentu saja secara finansial lebih menguntungkan. Bisa dibandingkan misalnya, buku serius setebal 200 halaman (setara dengan minimal 30-an artikel di media) yang ditulis intelektual muda biasanya hanya dihargai oleh penerbit sekitar 3 juta hingga 6 juta rupiah—tentu saja bagi penulis pemula, sistem jual naskah lebih “menjamin” daripada sistem royalti. Sementara, dengan honorarium sekitar 300 ribu hingga 500 ribu, 30 artikel di koran akan menghasilkan total honorarium sebesar minimal 9 juta rupiah.
Kedua, tulisan-tulisan yang mereka hasilkan di koran masih memungkinkan untuk “dibukukan”, berupa kumpulan tulisan. Jadi, untuk menghasilkan sebuah “buku”, penulis muda kita tidak perlu bersusah payah merumuskan runtutan persoalan dari A sampai Z secara sistematis dan berkesinambungan. Cukup dengan menulis sesering mungkin di media massa, lalu dikumpulkan dan dikategorisasi, dipoles sedikit dengan pengantar seorang intelektual “tua”, jadilah ia sebuah “buku”.
Ketiga, tersedianya ruang yang cukup untuk menampung tulisan-tulisan instan mereka, sementara peminat dunia tulis-menulis masih relatif sedikit. Tanpa birokratisasi yang rumit, mereka cukup mengirimkan naskah ke redaktur, selesai. Belakangan bahkan, sejak internet menjadi bagian penting kehidupan para intelektual, mereka cukup di depan komputer, lalu mengirimkannya via email, tanpa harus membeli perangko, kertas, dan amplop. Banyaknya media massa yang menyediakan ruang opini dan kolom ini juga membuat kalangan mereka memiliki alternatif jika tulisan mereka ditolak oleh satu media; tinggal mengirim ulang ke media lain yang standar klasifikasi kualitasnya lebih rendah daripada yang pertama.
Keempat, menjadi “intelektual koran” tidak membutuhkan energi berpikir yang berlebih. Cukup tahu sedikit masalah, parsial, menganalisis dengan sedikit teori, kutip sana-sini, selesai. Juga tidak perlu menjadi spesialis untuk tema dan ilmu tertentu. Apalagi, kecanggihan teknologi internet sangat memungkinkan seseorang untuk meracik-ulang dan “menjahit” milyaran bahan tulisan yang ada di dunia maya itu. Tidak heran jika sering kita melihat penulis-penulis muda bisa muncul tiga-empat kali tulisannya di media massa dalam satu minggu, dengan tema dan area concern yang berbeda.
Maraknya penerbit-penerbit baru pascareformasi memang memunculkan kegairahan baru di blantika perbukuan. Terlepas dari perdebatan dan hingar bingar soal kualitas cetakan dan terjemahan para penerbit yang bermunculan bak jamur di musim hujan–sehingga sempat memunculkan kategorisasi penerbit kacangan dan penerbit profesional–, hingga soal pelanggaran hak cipta penulis buku aslinya, munculnya penerbit-penerbit itu setidaknya menambah drastis daftar koleksi Perpustakaan Nasional kita. Bisa dibayangkan betapa kagetnya seseorang yang sudah lima tahun tidak berada di Indonesia, melhat begitu banyaknya judul buku baru yang terpampang di toko-toko buku.
Namun jika dilihat lebih jauh, mayoritas buku-buku baru yang muncul adalah buku-buku hasil pengolahan skripsi, disertasi, tesis, hasil-hasil penelitian, serta buku terjemahan. Juga buku yang terbit karena didanai oleh funding agencies. Di luar itu, sekali lagi, yang ada hanya “buku”, kumpulan tulisan.
Tentu saja tulisan ini tak hendak mengatakan bahwa opini di media massa, kolom di majalah-majalah, tidak begitu penting. Media massa adalah alat massif yang mampu mempengaruhi persepsi dan memperkaya perspektif publik. Tulisan ini hanya hendak mengajukan ajektif baru bagi para intelektual yang belum sempat “melirik” buku, sebagai “intelektual koran”.[]
Artikel ini aku tulis 27 Januari 2004, tapi belum sempat mempublikasikannya.
Agustus 4, 2006 at 11:03 am
hahahaha.. Mungkin karena orang endonesa lebih pilih baca koran daripada baca buku.
Minat baca ke buku yang tebel itu agak agak kurang kayaknya di endonesa..
Jadi ya gituh ituh..
ehhehe..
September 1, 2006 at 2:31 am
Menarik ulasan tentang intelektual koran ini. Kalau memang ini yang terjadi, jelas ini memprihatinkan. Dengan begitu kita bisa mempertanyakan ulang “apa benar mereka seorang intelektual?” atau mereka hanya sekadar seorang pemulung ide-ide orang lain terus dibuat menjadi sebuah gado-gado atau ramuan baru tanpa ada ide atau refleksi intelektualnya sendiri? Rimba eksistensi intelektual adalah buku, pengalaman, dan pisau analisis. Kurangnya minat baca, kurangnya keberanian berpikir sendiri (sapere aude), menjadi keprihatinan saya juga. Tapi, bagaimana caranya membangkitkan gairah massa untuk membaca buku? Dunia kontemporer dengan anak-anak kandungnya konsumerisme, hedonisme, telah mengangkangki kemampuan berpikir kita. Kita tidak lagi bisa memproduksi, tetapi kita dipaksa untuk mengkonsumsi. Benar kata Pram, kalau kita tidak bisa mencipta, kita hanyalah ternak. Ha ha ha, tugas kitalah yang masih sadar akan ini untuk mewartakan kebenaran bahwa kita semua sebenarnya bisa berpikir sendiri, kritis, dan bisa mencipta. Wah Mas, mbok ya, dipublikasikan gitu loh….sip.
April 10, 2007 at 12:11 am
Aku jadi teringat, suatu senja di kedai kopi seputar kampus Brawijaya Malang, tak terasa kuhabiskan dua cangkir kopi. Karena memang atmosphere diskas itu asyik. Bikinku enjoy.
Syahdan…, diskusi disepakati diusaikan. Sebagian banyak dari kami lebih memilih pulang, untuk aktifitas masing2. Dan aku, satu dari empat orang yang masih tersisa. Lanjutan obrolan terjadi lagi, lebih rileks. Dan joke-joke, pun ledek-ledekan keluar dari mulut kami. Sembari tertawa.
Dan, yang jadi bahan ketawaan adalah, salah satu teman kami dari Ngawi itu. Sejak dia ngomong, selalu merujuk pada koran nasional yang terbit pagi. Ledekan itu pun berakhir menjadi tawa. Masak yang lain selalu mengutip beberapa buku yang valid dan cerdas, eeee… malah yang satu ini bersumber dari koran.
Bagiku sih, nggak masalah. Asal saja kita bijak. Bukankah segala yang ada di depan mata adalah ayat?
TUK YANG PUNYA BLOG, bolehkah aku nge-link halamanmu ini di halamanku?
Terimakasih,
Ghurrun A. Ahmadi
http://adibahmadi.wordpress.com
April 11, 2007 at 10:38 pm
Ghurrun, sumonggo…