Ada lontaran menarik dari blog Sarwono Kusumaatmadja dalam rubrik gado-gado:
Aneh tapi nyata
12 Sep 2006 11:11:19Koran REPUBLIKA dan majalah A+ dimiliki oleh orang yang sama, yakni Erick Tohir. REPUBLIKA membawa bendera Islam, sementara A+ membawa bendera busana, tren underwear, dugem dan sejenisnya.
Pemilik tabloid PULSA itu ternyata sama dengan pemilik tabloid KHILAFAH. Yang pertama penuh promosi premium call berbau esek-esek, yang kedua banyak promosi hal-hal berbau Islami.
Terus ada lagi, majalah HIDAYAH (-Intisari Islam) dan majalah POP ternyata juga saudara kandung. Penerbit keduanya sama, yaitu PT Varia Pop Nusantara. Bila HIDAYAH bermaksud mengokohkan iman pembacanya, maka POP cenderung menggoyahkannya.
Dalam obrolan dan diskusi tentang media memang sering terlontar pertanyaan: Apakah ada media yang ideologis atau teologis? Lebih-lebih, apakah ada media yang idealis dan menepati semua kode etik jurnalistik?
Biasanya, jawabannya pasti berputar-putar dulu, apa ukuran ideologis, teologis, atau idealis sebuah media, baru kemudian berdebat lagi seputar kode etik dan sebagainya. Apakah media yang reporternya menerima amplop itu tak idealis, atau justru ia realistis? Apakah tidak menerima iklan beer dalam medianya itu termasuk teologis, ideologis, atau itu justru itu hanya strategi pasar?
Gimana cara menilai sebuah production house yang memproduksi film-film tentang Tuhan, dan pada saat yang sama juga film-film yang dianggap pornografik?
Lalu, gimana kalau idealisme ternyata berbanding lurus dengan minimnya oplah dan keuntungan, atau bahkan pendeknya umur?
hampir bisa dikatakan tidak ada ketunggalan dalam hal ini. Bicara media adalah bicara segmen, content, oplah, sustainabilitas, konteks, untung-rugi. Dalam banyak kasus, yang disebut ideologi dan idealisme media dikalahkan oleh logika pasar dan untung-rugi.
September 15, 2006 at 9:11 am
Jawabnya: ADA. Silakan cari majalah “Hidup”.
September 15, 2006 at 11:16 am
hebat eh anik.
analisanya energik
komparasinya menarik
dan realitas “majalah hidup” itu memang menarik.
tanya ken apa?
September 18, 2006 at 4:42 am
[...] Setelah sebelumnya ramai-ramai dibicarakan mengenai aneh tapi nyatanya majalah Hidayah dan Pop yang awalan saya temukan di tempat pak Sarwono (isinya sudah dihapus?), pagi ini dapat lontaran klarifikasi dari pihak Hidayah melalui milis Halal-Baik-Enak terkait hal tersebut. [...]
September 18, 2006 at 8:33 am
Terima kasih buat pengirim klarifikasi Majalah Hidayah tersebut. Semoga pembaca blog ini juga mafhum.
Meski begitu, poin saya bukan pada kasus itu saja, tapi pada fenomenanya. Jadi biarlah pembaca yang menilai.
September 20, 2006 at 8:07 am
Edisi September ini, Syir’ah juga mengangkat tema seputar media-media Islam. Apa yang dikatakan Anick, dalam investigasi Syir’ah ada benarnya. Pembagian antara media yang ideologis dan pasar memang tak bisa hitam putih. Selalu ada irisan antara ideologi dan kepentingan pasar.
Berikut ini sekelumit data soal media Islam itu. Majalah Hidayah (terbit 2001) diterbitkan PT. Variapop Group dengan produk lain majalah Muslimah, Paras, Variasari, Anggun, Didik. Majalah Alkisah (terbit 2001) dibawah PT. Aneka Yess dengan produk lain majalah Aneka Yess, Keren Beken. Majalah Annida (terbit 1991) dibawah Ummi Group Media dengan produk lain majalah Ummi. Majalah Noor (terbit 2003) di bawah Pinpoint Publications dengan produk lain Warta Ekonomi, Perkawinan, Lisa, Salon, Info Linuk, Indonesia Tatler, PC Media, Audio Video, Audio Interior, Audio Mobil, Mobil Motor, Audiopro. Modal Syariah Business (terbit 2002) dibawah PT Global Comm dengan usaha lain Modal Multimedia, Ekbis Komunikasi, Global Mahardika Netama. Sabili (tahun terbit tak ada tahun pasti. kira-kira selang setahun setelah tragedi Tanjung Periuk, 1984) di bawah PT. Bina Media Sabili. Suara Hidayatullah (terbit 1988) Yayasan Penerbitan Pers Hidayatullah.
September 21, 2006 at 1:27 pm
saya sangat menikmati tulisannya mas Anick ketika menulis Surat Untuk Pak ketua MPR, sekali-kali nulis untuk Pak Presiden Kek, atau pak lurah
Oktober 2, 2006 at 6:19 am
dimana2 bermuka dua dijadikan kewajaran sekarang….
Oktober 10, 2006 at 1:06 pm
Lho Nick, kok logika pasar yang disalahkan, la wong mereka bikin terbitan itu untuk cari duit kok, dengan embel-embel ideologi agama biar agak keren dan punya pasar yang segmented. Pemiliknya kan pengusaha, yang jelas-jelas tujuan utamanya adalah cari untung. Kalau penyebaran ideologi ia akan jadi Kyai Ba’asir…..
Oktober 12, 2006 at 12:43 pm
Logika yang dikembangkan tidak selalu seperti itu. Banyak pemilik bisnis yang meskipun manajemennya atau usahanya berbau islami, akan tetapi karena pemiliknya dari ‘kelompok’ tradisional dan sekedar berbisnis, maka tanpa ’sadar’ berbuat zalim. Beberapa ada yang semacam itu, tapi tidak bisa digeneralisasi secara teknis untuk menunjukkan suatu tindakan dan legitimasi pada sebuah apologi keadaan/kasus lain (mengambil kesimpulan secara induksi). Contoh serupa, banyak orang Islam yang taat, tapi justru menggunakan barang bajakan. Ini perlu pendekatan yang ikhlas dan lurus..
Oktober 12, 2006 at 6:34 pm
@ Mas Thamrin
Saya sedang tidak menyalahkan logika pasar. Saya sedang menegaskan bahwa apa yang disebut idealisme dan idelogi itu justru mengikuti logika pasar biasa. Kadang, untuk tidak mengatakan semuanya, mereka bekerja mengemas dan membungkus ideologi, agama, atau apapun untuk kepentingan perolehan segmen yang menjadi sasaran mereka.
Jadi salah beaka jika kita menganggap orang yang memroduksi majalah Islam seperti itu, atau memroduksi sinetron religius, adalah orang yang paling religius di antara kita.
November 30, 2006 at 3:50 pm
sing penting jualannye laku mas…
Januari 14, 2007 at 2:58 pm
pernah denger cerita melayu tentang 2 toko yg posisinya berseberangan jalan?
yg satu toko ‘Murah’ milik seorang pria dan satu lagi toko ‘Murah Sekali’ milik seorang wanita. tiap akhir minggu toko tutup karena pemilik kedua toko yang ternyata suami istri, pergi liburan
Januari 18, 2007 at 9:17 pm
bikin aja. tapi mungkin bagi pemilik media yang disebutkan disebutkan di atas, mereka berideologi membuat kedua2nya ideal untuk bisnis, memang seperti itulah contoh generasi yang dididik oleh orba.
Januari 31, 2007 at 8:49 pm
kenapa ideologi yang disalahkan……?
kenapa tidak orang yang memiliki ideologi yang membawannya untuk kepentingan pasar, sehingga ada isltilah seenak perut wae?
September 6, 2007 at 3:05 am
As. salam kenal buat Anick!
terima kasih bahasa yang dipergunakan untuk pejabat media kita sangat muluk! atas kepentingan umat. umat yang mana harus didahulukan apakah senasib dengan para penonton media, masyrakat kita cenderung mendengar daripada membaca hobi kalo suka hiburan.
kebutuhan dari pemilik media menuntut untuk memenuhi perangkat manajemenya, menampilkan ikalan yang disenamgi oleh masyrakat kita mayoritas heterogen.cenderung kepada hiburan yang berbau mendidik jarang diminati apakah dari pihak media kurang memperhatikan kondisi psikologis masyrakatnya atau demi kapitalis. tirani media memang menguntungkan sepihak akan tetapi kelompok sekte-sekte media juga unjuk gigi untuk menampilkan yang terbaik dari identitasnya mulai dari ciri teologis,ideiologis, kapitalis bahkan fundmentalis. paham-paham islam masuk kedalam media awalnya dari organisasi mengkerucut menjadi tradisi media.
ekspansi media islam belum cukup meyakinkan karena faktro kebutuhan manejmen sangat minim maklum diproyekiiiiiiiii!
September 6, 2007 at 3:08 am
keuatan ada pada negara selain legislatif,yudikatif,eksekutif persif (media)