Di pagi yang suntuk, beberapa hari yang lalu, saya ikut menghadiri lokakarya tentang Kurikulum Sekolah. Lokakarya ini dibikin oleh sebuah lembaga riset yang concern di bidang pendidikan nasional.
Ada satu fakta menarik yang diungkap salah satu narasumbernya, bahwa secara umum kurikulum pendidikan nasional kita ini adalah kurikulum standar idiot. Matematika kelas 3 SMU kita sama dengan matematika kelas 2 SD di Belanda. Matematika Smester 4 di Indonesia sama dengan Matematika tingkat SMP di Belanda. Nah lho….
Kira-kira begini ceritanya. Beberapa tahun terakhir, ada semangat reformasi yang luar biasa di kalangan pejabat elite Diknas kita, entah karena memang reformis atau tuntunan publik yang makin terbuka, untuk membuka kesempatan sebesar-besarnya kepada sekolah-sekolah (SD-SMU) untuk mengembangkan kurikulum dan sistem pengajaran mereka. Karena itu, ketika menyusun standar kurikulum nasional, Depdiknas hanya memberi kisi-kisi general dari semua mata pelajaran. Itupun, karena mempertimbangkan tingkat level sekolah di berbagai daerah yang tingkat capaian prestasinya berbeda, dibuat kisi-kisi yang minimalis, alias standar idiot itu.
Cerita selanjutnya, oleh kalangan pejabat Depdiknas yang lebih bawah levelnya, Kanwil atau semacamnya, sosialisasinya masih bergaya Orba yang sok perintah (padahal di peraturan yang baru, yang namanya Kanwil itu hampir tidak punya kewenangan sama sekali). Konon, dalam bacaan mereka, kurikulum standar minimal itulah kurikulum yang harus diajarkan oleh sekolah-sekolah, bukan kurikulum minimal yang bisa dikembangkan berpuluh kali lipat.
Dus, informasi yang sampai di sekolah-sekolah kita jadinya: semua sekolah wajib melaksanakan kurikulum berdasarkan kisi-kisi dari Depdiknas, secara utuh tuh…
Ditambah fakta lain, para pengelola sekolah kita tak paham undang-undang, tak paham bahwa ada banyak kepentingan dan distorsi di balik ritual sosialisasi…
Yang cerdas dan jeli, itulah yang akan mengatasi zaman. Bayangkan, karena pengelolanya tahu betul bahwa kurikulum Depdiknas itu standar minimal, maka SMU Sancta Ursula misalnya menyiasatinya dengan menerapkan seluruh kurikulum Depdiknas itu dalam tahun pertama (kelas 1) sekolahnya. Kelas 2 dan kelas 3, kurikulumnya jauh melampaui kurikulum Depdiknas itu, disusun oleh pihak sekolah itu sendiri, berstandar internasional, bukan berstandar idiot.
Seorang peserta lokakarya nyeletuk: ”betapa bodohnya sekolah-sekolah Islam…”.
Nopember 21, 2006 at 8:50 am
waduh…saya jadi sedih….
rasanya seperti ada kejahatan di keluarga sendiri…dan saya tidak bisa berbuat apa apa…ini yang bikin tambah parah
Nopember 25, 2006 at 2:56 pm
ada anak yang SMA-nya di Jakarta, pindah ke Amerika di sekolah yang bagus . tiba-tiba dia yang biasanya merasa bodoh di Indonesia, merasa jadi pinter banget di sekolah sini, “Disini, pelajaran kok terasa jadi gampang banget ya. Di Indo perasaan susah-susah deh.”
that’s another fact, Nick. btw, kabaripun sae mawon tho pak?
Desember 2, 2006 at 5:41 am
Diknas pusat khan ibaratnya Nggiring kambing yang penting bisa masuk kandang (tujuan), lah oleh bawahannya (kanwil/kadep) kambing-kambing itu di kekang diseret2 entah kemana (mungkin gak tahu dimana kandangnya. Dengan harapan mungkin bisa sambil meres susunya agar bisa dinikmati sepuas-puasnya, bahkan kalau perlu kambing itu disembelih, akhirnya kambing2 itu tidak pernah sampai dikandangnya.
Gimana kang?
Maret 7, 2007 at 11:38 am
” 3 SMU kita sama dengan matematika kelas 2 SD di Belanda”
Kayaknya faktanya salah dhe… Kurikulum matematik SMU kita setingkat dengan Kalkulus di Universitas (termasuk universitas di dunia).
PS: Santa Ursula memang sekolah yang kualitas pendidikannya bagus. Anak-anak yang masuk pun sudah unggulan. Wong masuknya aja susah. Saya rasa banyak sekolah bahkan di luar negreri yang kalah dengan santa ursula. JAdi santa ursula gak bisa jadi perbandingan. Wong di Jakarta sekolah tersebut salah satu sekolah terbaik.
Buat apa belajar sesuatu yang tingkat kesulitannya tinggi kalau dasarnya gak ngerti. gak ada gunanya tuh. Jauh lebih penting ningkatin kualitas guru, daripada memaksakan kurikulum yang terlalu sulit.
Maret 14, 2007 at 2:05 pm
lagi2 whuashu….
Maret 14, 2007 at 7:26 pm
aww.
hmm, maish ada yg baca nggak ya?
haLo??
hehe, umm, gini nih, di luar negeri tuh jurusan bahasa dihargai nggak sih sebenarnya? cause, kadang2 saya ,merasa aneh dengan pilihan saya, tapi juga bangga dengan jurusan bahasa. Tapi takut kalo prospeknya nggak bagus.
gimana ya?
April 1, 2007 at 8:59 pm
kalau saya punya anak ntar akan saya masukkan kepondok pesantren yang super salaf (tradisionalis) yang asramanya hanya dari gubuk bambu (angkring),sekaligus tempat untuk anak saya tirakat guna mendapatkan ilmu ladunni seperti Gus Dur.yang penting untuk mencintakan anak yang cerdas bukan kurikulum dan tetek bengeknya tapi minat dan kesadaran anak itu sendiri utk belajar dan pemberian makan yang halal serta do’an dan support dari orang tuanya.
April 2, 2007 at 1:12 pm
Kurikulum terus berganti gak masalah, yang penting kesejahteraan pelaksana kurikulum juga naik dong. Jangan hanya bisa gonta-ganti, obok-obok aturan tapi nasib guru dicuekin.Sekolah Ursula emang bagus, tapi tanya dong guru-gurunya, bahagia gak mereka di sana ? Jangan hanya tuntut mereka untuk memajukan sekolah tapi kesejahteraannya dipandang sebelah mata. Banyak tuh teman-teman dari Ursula yang suka ngeluh soal kesejahteraan. Kacian…deh !
April 2, 2007 at 9:55 pm
@ Ussy
Saya juga jurusan bahasa tuh. Bangga aja sih…
Kebanyakan sekolah Catholic dan Christian memandang penting jurusan bahasa, karena ilmu pengetahuan di Univrsitas dianggap sebagai alat, dan bahasa adalah alat yang penting untuk step pengetahuan berikutnya.
April 28, 2007 at 8:38 am
memang bangsa kita tidak lebih baik dari bangsa lain, tapi saya lebih setuju kalo kita memberikan yang terbaik atau membangun bangsa ini. daripada terus mencemooh……….
toh bangsa ini merosot juga karena orang2 didalamnya………
nah,untuk depdiknas tolong lakukan yang terbaik bagi bangsa ini……….
kalian yang banyak mengatur kurikulum di indonesia………….
bagaimana kalau bangsa lain juga mencemooh kita sebagai bangsa yang idiot???????????????????