Menjadi Haji di Indonesia bisa sama dengan menjadi banyak hal:
- Ketua RT: dalam komunitas masyarakat tertentu, Pak Haji adalah orang yang dianggap selalu bisa memecahkan masalah-masalah di lingkungannya. Pak Haji dianggap lebih tahu bagaimana melerai pertikaian antar-keluarga, merumuskan solusi percekcokan suami istri, dan menjaga kerukunan antar-warga.
- Kyai: dalam banyak kasus, Pak Haji juga dianggap orang yang lebih beragama dan berilmu agama dibanding yang lain. Banyak orang lebih memilih Pak Haji menjadi imam salat mereka dibanding orang lain meskipun bacaan Quran orang itu lebih fasih. Pak Haji sering diminta menjawab persoalan hukum Islam meski ia tak pernah belajar tentang itu.
- Pengusaha: Pak Haji pasti lebih kaya dari orang yang bukan haji. Kadang, setelah menjadi haji mereka tak mau lagi bergaul dengan para miskin, dan memilih bergaul dengan komunitas para haji.
- Orang suci: berhaji berarti membersihkan segala dosa dari dirinya. Masyarakat kemudian menganggap bahwa Pak Haji tak bisa salah. Apa yang keluar dari mulut Pak Haji adalah kebenaran.
Namun, kini ada soal lain soal haji ini. Kini masyarakat tahu bahwa berhaji terkait dengan kebijakan negara, dengan urusan teknis yang melelahkan, dengan urusan kebijakan dan politik yang menyimpan banyak masalah. Berhaji juga terkait dengan korupsi, kolusi, nepotisme, suap, pembodohan, kebohongan publik, dan segala macam tetek-bengek duniawi.
Kini masyarakat tahu bahwa mentang-mentang berhaji adalah proses ibadah yang menuntut segala tindakan dan ajaran harus dijalani dengan keikhlasan yang sangat dan niat yang serba-tulus, maka jamaah haji bisa diperlakukan semaunya, dana pelaksanaan haji bisa dikorupsi sedemikian rupa.
Kini masyarakat tahu bahwa ada kasus yang disebut dengan Skandal Katering Said Agil Munawar, ada kasus Salah Menunjuk Katering, ada kasus Kuota, ada kasus Monopoli dan Buruknya Pelayanan, ada kasus Kerusakan Pesawat Pengangkut Jemaah, dan banyak lagi kasus-kasus yang tak kunjung padam.
Jadi, siapa bilang urusan haji adalah melulu urusan ukhrowi? Urusan haji adalah juga urusan publik, urusan pejabat publik, urusan kebijakan negara, urusan tradisi korup…
Januari 4, 2007 at 3:20 pm
“Berhaji juga terkait dengan korupsi, kolusi, nepotisme, suap, pembodohan, kebohongan publik, dan segala macam tetek-bengek duniawi”
>>
mungkin kalimat ini perlu diberikan penjelasan lebih agar gak misunderstand
Januari 4, 2007 at 8:23 pm
Passya,
Kasus yang saya sebut di bawahnya adalah contoh nyata betapa berhaji terkait dengan semua itu. Di masyarakat kebanyakan, karena haji dianggap sebagai ibadah yang sangat sakral, mereka mentabukan hal-hal yang terkait dengan perjuangan mereka terhadap hak atas biaya murah, protes terhadap pelayanan pemondokan dan kesehatan yang baik, demonstrasi mempertanyakan transparansi dana haji, dan semacamnya.
Di masyarakat kita sering muncul ungkapan-ungkapan seperti:
- Ssst, jangan tanya transparansi, ntar merusak niat haji kita!
- Hush, jangan protes, ntar ibadah kita terganggu.
Sudah saatnya kita mencoba membuka pikiran, bahwa memperjuangkan hak pelayanan dan kenyamanan dalam ibadah haji kita adalah bagian dari ibadah itu sendiri.
Semoga menjawab.
Januari 5, 2007 at 2:10 pm
soalnya di gerbang asrama pemberangkatan haji ada spanduk besar bertuliskan “HAJI UNTUK IBADAH” sih…
thanx atas pencerahannya
Februari 2, 2007 at 1:28 am
Stop politisasi Bisnis tahunan bernama Haji. Pasalnya, masih banyak masyarakat yang kelaparan, keminkinan, kena bencana.dll.
Jika, kelaliman terus terjadi mendingan ibadah rukun isalm ke lima itu dialiahkan fungsikan menjadi pengentasan kemiskinan..