Februari 2007


  1. Bukit cadas atau bukit batu, banyak bertebaran.
  2. India, terutama India Selatan, juarang banget ujan, sementara di bagian Utara, ada kasus beberapa turis meninggal karena kedinginan.
  3. Ada satu negara bagian kecil yang bernama Goa, bekas jajahan Portugis (negara bagian lainnya adalah bekas jajahan Inggris). Negara bagian ini adalah Bali-nya India, surga bagi para turis.
  4. Anti-amerikanisme di India lebih kuat daripada di Indonesia.
  5. Tidak seperti Jakarta, jalan-jalan malam di India mengasyikkan, tanpa kuatir dicopet atau dijambret. Tingkat kriminalitasnya lebih rendah.
  6. Ada kelompok kecil berbasis agama Hindu di India seperti FPI di sini. Mereka menggunakan spirit fundamentalisme yang mereka sebut sebagai Hindutva. Mereka juga cenderung menggunakan kekerasan dan menghalalkan konflik antar-agama.
  7. 90 % aktivis LSM India tidak merokok, sementara 80 % aktivis LSM Indonesia merokok. Ini asumsi, bukan hasil penelitian.
  8. Banyak perempuan India bekerja di sektor konstruksi. . Konstruksi
  9. Jum’atan di kampung muslim? Nggak perlu bawa peci. Di masjid disediakan peci plastik siap pakai.
  10. Tempat wudhunya duduk. sopan banget ya’. . tempat-wudhu.jpg
  11. Rata-rata masjid India melarang perempuan masuk ke dalamnya. So, jika Anda perempuan, lagi di jalan, maka nggak ada peluang untuk salat di masjid, atau untuk salat sekalipun. Susah nyari alternatif.
  12. Dewa Shiva (Syiwa dalam bahasa kita) punya seribu nama.
  13. Jangan mengira tinggal di India otomatis bisa bahasa bollywood (Hindi). Tak semua orang India bisa bahasa itu. Masing-masing negara bagian punya bahasa lokal sendiri. Sebagian dari mereka lebih familiar dengan bahasa Inggris daripada bahasa Hindi.
  14. Orang India suka makan pakai tangan, meskipun nasinya berkuah. Tapi bukan berarti nggak ada sendok di sini.
  15. Ada makanan yang bernama dosa. Terbuat dari tepung, rasanya tawar, bentuknya bulat pipih besar, dimakan pake bumbu. Menurut lidah saya sih nggak terlalu enak. . Dosa
  16. Satu-satunya pabrik Cocacola yang tutup karena protes masyarakat ada di sini. Tepatnya di West Bengal.
  17. Shahruh Khan mandu acara Who Wants To Be A Millionaire. So pasti kualitasnya jauh di atas Dian Sastro di sini.
  18. Nyari buku bajakan kaya’ di Senen? Bejibun. Udah buku aslinya murah, dibajak pula, so pasti lebih murah lagi.
  19. Mau jalan-jalan dan nggak pengen dehidrasi? Anda hanya cukup bawa botol minuman. Yang namanya fasilitas drinking water ada di mana-mana: pinggir jalan, tempat rekreasi, stasiun, terminal.
  20. Susah mencari restoran ber-AC juga di sini. Sudah gitu, pelayanannya rata-rata luamma bangget.
  21. Bagi perempuan tradisional India, gemuk itu indah. Tapi modernisasi dan Amerikanisasi mengubah gaya hidup India kota menjadi: langsing itu indah.
  22. Sapi sangat dihormati di sini. Jika ada sapi di tengah jalan, pengendara mobil mesti menunggu hingga sang sapi menyeberang atau minggir.
  23. Zat pewarna berbentuk bubuk yang dilekatkan di dahi perempuan disebut Bindi. Biasanya berwarna merah dan dipakai oleh perempuan yang bersuami, tapi sekarang anak-anak kecil juga memakainya.
  24. Kereta api di sini lebih lebar daripada di Indonesia. 15 jam di atas kereta api kelas ekonomi, kelas tidur (Sleeper), antar negara bagian, mengesankan.
  25. Om Liem mau bikin real estate di sini. Rakyat menolak tanahnya digaruk. Polisi menghadang demo warga. 11 meninggal.
  26. Beli SIM Card? Anda harus kasih fotokopi Visa atau KTP India, plus foto setengah badan.
  27. Kebanyakan muslimah di sini pakai baju hitam. . Muslimah
  28. Makanan populer di India: Chapatti, Phuri, Ruti (maksudnya roti), Ayam Tandoori, Nasi Biryani, Kari.
  29. Ada seorang remaja berumur 18 tahun yang punya kemampuan sebagai water detector. Otomatis seluruh badannya, terutama tangannya akan bergetar jika di bawah tanah tempat ia mendeteksi ada kandungan airnya.
  30. Susah nyari bus AC di sini. Kebanyakan odong-odong. Bus AC hanya untuk jarak jauh, sekali-kalinya naik bus AC, perjalanan 7 jam.
  31. Ada partai komunis yang namanya CITU. Logo palu arit menghiasi tembok-tembok kota. Mungkin kalau di Indonesia udah ratusan orang ditangkap gara-gara majang logo itu di tembok-tembok. Atau digrebek FPI.
  32. Orang India di Indonesia sodara’an sama orang India di India. Sering bangget aku ketemu orang India yang nanya: dari mana Anda? Ketika dijawab dari Indonesia, dia bilang: “Oh, saya juga punya sodara di Indonesia.” Sayang aku belum pernah ketemu Raam Punjabi di Jakarta, kali aja bisa ketemu sodaranya di sini.
  33. Hampir semua (mungkin memang semua) muslim India bisa bahasa Urdu. Bahasa ini seperti jadi pemersatu umat Islam di India.
  34. Sepeda onta yang jadi barang antik di Indonesia, di sini bejibun. Mayoritas sepeda onthel di sini modelnya ala jaman penjajah kita itu.
  35. Hati-hati nyopir di sini. Sopir suka pada ngawur dan nekat. Banyak perempatan dan pertigaan nggak ada lampu merahnya.
  36. Sopir di sini juga suka show of force dengan klakson melengkingnya. Hati-hati dengan kuping Anda jika berada di jalanan.
  37. Susah nyari temen ngrokok di sini. Di tempat-tempat umum seperti terminal, stasiun, apalagi airport, tegas-tegas dilarang merokok. Aku coba cari temen yang bisa nyolong-nyolong, gak ada juga.
  38. Di Jakarta, larangan merokok di tempat publik diiringi dengan kewajiban meyediakan smooking room. Tapi di India saya belom pernah menemukanya.
  39. Bajaj adalah merk, bukan jenis mobil. Mereka menyebut bajaj ala Indonesia dengan Rickshaw atau Otto atau Tuktuk.
  40. Tiap produk pabrikan ada label harganya. Sabun, sampo, buku, bahkan korek api yang super kecil. Label harga ini bukan dari toko, tapi dari pabriknya langsung. Jadi untuk produk macam ini, kita gak perlu takut ditipu.
  41. Majalah India Today, kaya’ Tempo or Gatra, dijual cuma 5.000 perak di sini (20 rupee)
  42. Nggak ada yang jual Sampoerna Mild di sini.
  43. Lelaki India suka gosok gigi di tempat umum.
  44. Glamour India hanya bisa ditemukan di film. Faktanya sebaliknya, seperti Indonesia, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Yang kaya 20%, sisanya miskin. .Omah welit
  45. Kebalikan dari umumnya kita, orang India suka geleng kepala untuk mengatakan “iya”.
  46. Lelaki India suka kencing sembarangan. Di tiap tembok, bawah pohon, pinggir lapangan, pinggir jalan, belakang rumah. .kencing
  47. Teh dan kopi tradisional India enak tenaaan, mixing dengan susu murni. Cara bikinnya atraktif. Tapi ini hanya ada di kampung-kampung. Yang disebut kopi di sini adalah kopi + susu. Juga yang disebut teh di sini adalah teh + susu. .Kopi Mix
  48. Tidak seperti di Indonesia yang kebanyakan orang Jawa, polisi di sini ternyata orang India juga.
  49. Kebanyakan rumah India memiliki tangga di luar rumah, menuju ke lantai 2, plus tempat menjemur pakaian di atas rumah.
  50. Orang India suka makan sambil berdiri. Yang namanya warteg emang nggak ada. Tapi yang namanya warung nasi di pinggir jalan, nggak pake bangku. Para pelanggan (kebanyakan lelaki), beli makan dan makan langsung di situ sambil berdiri.
  51. Airportnya bau pesing (Bangalore).
  52. Anak umur 5-6 tahun sudah bisa bahasa India.
  53. Bersambungs… (lumayan, udah lebih dari 50)

Disclaimer:

Catatan kecil ini hanya sepenggal India, dan tak berniat merepresentasikan negeri India atau orang India secara umum. Meski dalam statemen dibilang atau terkesan umum, itu hanya berarti saya sering melihatnya. Itupun sejauh perjalanan saya, meliputi Bangalore (Karnataka), Tamil Nadu, Andhra Pradesh, Goa, dan beberapa desa di dalamnya.

Gadis kecil nan lincah itu bernama Roja. Umurnya menginjak 13 tahun. Ia bisa cerita banyak tentang keluarga dan lingkungannya. Dengan jernih ia bisa cerita tentang orang kaya yang menindas dan tak peduli pada orang miskin di sekitarnya, tentang sistem kasta yang menjerat dirinya sejak ia dilahirkan di muka bumi, tentang agama yang tak punya jawaban apapun terhadap penindasan dan kemiskinan. Ia adalah satu dari 74 anak yang beruntung bisa mengenyam pendidikan gratis di sebuah sekolah kecil bernama Bandhavi.

Sekolah ini didirikan oleh beberapa aktivis yang lama berjuang mengadvokasi kemiskinan dan penghapusan system kasta di India. Di luar 74 anak itu, ribuan, bahkan mungkin jutaan, anak lainnya tak bisa mengenyam pendidikan secara normal. Pada level pendidikan dasar, sebagian dari mereka memang boleh bergabung dengan pendidikan umum. Namun mereka harus mengikuti pendidikan di luar jendela, di luar ruang kelas. Mereka tak berhak duduk sebangku sekelas dengan anak-anak normal lain.

Roja adalah seorang Devadasi. Sejak umur 11 tahun, Ibunya yang juga devadasi sudah mendedikasikan Roja untuk menjadi salah satu bagian dari tradisi kuno yang masih bertahan itu. Devadasi adalah pelayan tuhan. Ia melayani “orang-orang yang dekat dengan Tuhan” dalam arti yang sebenarnya. Ia dididik menari, menyanyi, dan secara mental disiapkan menjadi “hidangan” para Yellamma (para pemimpin agama) itu. Ia tak berhak menyandang status istri, meski diperlakukan seperti istri (gundik).

Dalam kategori genetik, Roja adalah juga anak dari seorang Yellamma, karena ibunya juga seorang devadasi. Namun devadasi bukan istri, dan anaknya tidak berhak mendaku anak Yellamma.

Roja masih beruntung. Ia bisa menghirup udara bebas, kecuali pada saatnya nanti Yellamma yang telah memilihnya membutuhkannya. Ia lebih beruntung dari para pendahulunya, ketika para penguasa candi menyediakan tempat khusus bagi para devadasi, dan menampungnya di sana.

Dalam pandangan ibunya, ia juga patut merasa beruntung, karena menjadi devadasi mengangkat derajatnya. Menjadi devadasi berarti melayani Tuhan. Menjadi devadasi berarti menjadi bagian dari kehidupan pemilik kasta tinggi. Menjadi devadasi berarti hak hidupnya dilindungi.

Ia beruntung. Ia adalah golongan untouchable, dalit. Golongan di luar empat kasta ini tak boleh berhubungan dengan kasta manapun. Ia harus bertransaksi dan berjual beli di antara mereka sendiri. Ia harus memiliki candi sendiri untuk beribadah. Ia bahkan tak boleh lewat di depan rumah para pemilik kasta. Apalagi bersentuhan. Jika kebetulan bertemu di jalan, ia harus menundukkan muka dan menunggu sampai pemilik kasta melewatinya. Dalam satu desa, perkampungan dalit minimal harus berjarak 500 meter dari perkampungan pemilik kasta.

Pada suatu masa, para dalit juga dipekerjakan oleh para pemilik kasta. Mereka bekerja tanpa gaji. Mereka hanya memiliki hak mendapatkan jatah makan, jika ada sisa makanan dari para tuan tanah. Itupun dengan cara dilemparkan dari dalam rumah atau dari kejauhan.

Seorang dalit tak bisa dan tak akan bisa berubah menjadi pemilik kasta. Seorang dalit bisa kaya, tapi tak bisa berkasta.

Saat ini ada sekitar 180 juta warga India dalit. Sekitar 60 juta lainnya tersebar di Srilanka, Nepal, dan beberapa wilayah lain. Jumlah ini lebih dari total warga negara Indonesia.

Apakah Islam atau Kristen punya jawaban terhadap mereka? Ternyata tidak. Meski sistem kasta ini didasarkan pada ajaran Hindu, Islam dan Kristen tak mampu membebaskan mereka. Dus, kita bisa temukan kemudian, di komunitas Islam ada juga dalit Islam. Di komunitas Kristen, ada pula dalit Kristen.

Dalam praktek saat ini, tak semua negara bagian menerapkan devadasi system, meskipun sistem kasta dan dalit masih berjalan. Hanya beberapa negara bagian seperti Karnataka State dan Andhra Pradesh State. Itupun sebenarnya secara resmi pemerintah negara bagian sudah melarangnya. Namun para pemimpin agama Hindu seperti tak peduli, dan pada dasarnya mereka memiliki posisi tawar tersendiri berhadapan dengan pemerintah. Saat ini, tercatat lebih dari 40 ribu devadasi di seluruh India.

islamlib

sopp.jpgBersama beberapa kawan dari Filipina, Srilanka, Thailand, Burma, Nepal, Cambodia, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti semacam sekolah pendek yang disebut sebagai School of Peace. Program 3,5 bulan ini dibuat sebagai ajang untuk sharing, tukar pikiran, menyelami tentang konflik di negara masing-masing, belajar tentang bagaimana manusia bisa dengan gampang membunuh, menindas, mengeksploitasi manusia lain. mengapa agama, politik, ekonomi, ego, bisa membuat manusia menjadi monster dan menumpahkan darah manusia lain.

Kami ditempatkan di sebuah asrama di wilayah Bangalore, di pojok kota, Karnataka State. Area seluas 1-2 hektare ini bernama Visthar. Kami sekomplek dengan sekolah anak-anak perempuan kecil yang sedari umur 11-12 tahun sudah dipersembahkan oleh orang tuanya kepada para pemimpin agama di sini yang bernama Yellamma. Mereka disebut Devadasi (God Servant). Sejak umur segitu, mereka sudah ditentukan nasibnya di kemudian hari, dan tak mungkin menghindar dari nasib itu.

Mereka adalah anak-anak dari golongan Dalit (Untouchable), golongan di luar lima kasta yang tidak boleh berhubungan dengan seorangpun dari kelima kasta tersebut, kecuali bahwa suatu saat nanti, anak-anak itu harus menjadi “istri” tak resmi dari para pemimpin agama itu.

Posting ini hanya permulaan. Setelah ini saya akan cerita sedikit demi sedikit tentang Dalit, sistem kasta, politik air di India, dan tentang konflik di seantero Asia. Saya ingin berbagi dengan Anda.