Mei 12, 2008
Kebebasan beragama bukan kebebasan mengacak-ngacak agama, umat Islam juga punya HAM
Jika yang dimaksud mengacak-acak agama adalah menafsirkan agama sesuai keyakinan mereka sendiri, apa yang salah dengan itu? Bukankah NU punya tafsir sendiri yang berbeda dengan yang lainnya? Begitu juga dengan Muhammadiyah, Persis, Wahabiyah, HTI. Bukankah ada ribuan tafsir terhadap Alquran, Sunnah, maupun fikih Islam?
Tentu saja umat Islam (yang lain) juga punya hak asasi, seperti halnya penganut Ahmadiyah. Karena itu prinsip Hak Asasi Manusia memiliki standar yang bisa dipakai secara universal kepada setiap kelompok, bahkan setiap individu. Umat Islam (yang lain) memiliki hak untuk meyakini ajaran Islam mereka dan beribadah menurut ajaran yang diyakininya itu. Begitu juga warga Ahmadiyah. Termasuk juga hak untuk menyatakan bahwa ajaran Ahmadiyah adalah salah atau sesat menurut mereka, sebagaimana warga Ahmadiyah juga memiliki hak untuk menyatakan penafsiran umat Islam lain terhadap Islam adalah salah dan sesat. Konsekuensinya, jika umat Islam (yang lain) meyakini Ahmadiyah sesat (atau sebaliknya), cukup jangan mengikuti ajarannya. Selesai. Siapa yang benar di antara dua, atau sepuluh, atau 72, aliran itu, biarlah pengadilan Tuhan nanti yang membuktikan.
Mei 12, 2008 at 4:24 pm
HAM itu universal
dan kebenarannya diakui oleh nurani
tapi saat hak beradu kepentingan, ada yang harus terjagal
mudah-mudahan tidak sampai kejadian di kasus ini
salam
Mei 19, 2008 at 9:47 am
mantap
Juni 3, 2008 at 1:51 pm
HAM dengan syariat islam tinggi mana????
ham buatan manusia…..
syariat islam buatan Allah…
tafsir boleh beda, tapi ga boleh melenceng
ada hal yang kaiannya dengan akidah yang tak boleh diganggu gugat….
umat selain islam ndak usah nyampuri urusan umat islam…
ahmadiyah adalah ahmadiyah dan bukan islam…
nabinya aja beda!!!!
boleh aja beda ormas..tapi tetap satu akidah…
kalo beda akidah…maaf, bkan Islam
kafir………..
Juni 3, 2008 at 5:14 pm
@joo: Syariat Islam buatan manusia. Manusia yg merumuskan syariat itu bukan? Walaupun sering dibumbui “ulama yg telah tercerahkan”, “dari golongan sahabat”, bahkan jika Anda menganggap Nabi saw yg membuat syariat Islam spt sekarang ini, Nabi pun manusia.
AlQur’an bukanlah syariat. Ia kumpulan firman Allah. Begitu kan yg kita yakini sebagai umat Islam, joo?
Juni 3, 2008 at 7:45 pm
Penafsiran boleh beda tapi klu masalah aqidah tdk ada perbedaan, NU, Muhammadiyah, HTI, dan berbagai ormas Islam lainnya tdk ada perbedaan dalam hal aqidah…trus ahmadiyah?????Kebebasan beragama bukan berarti bebas menodai agama tertentu….Ahmadiyah nabinya MGA sedang Islam nabinya Muhammad SAW, beda kan????Dalam Islam tdk ada nabi bernama MGA dari India.
Juni 4, 2008 at 9:42 am
Buat kamu Anick, agama kamu Islam apa bukan?
Kalau iya maka yang pantas engkau bela adalah saudara dekatmu. Dengarlah dalam hatimu Anick, jangan emosi. Idealisme hanya awal langkah. Semua orang punya idealisme (=EGO) tetapi percayalah itu bukan segalanya. Pada akhirnya nanti idealisme dirimu itu akan membenturkanmu sendiri disimpang jalan: EGO apa ketentraman orang banyak.
Jadi jangan lama-lama. Banyak sekali orang mengalah untuk kemashalatan orang banyak misalnya: ia tidak komen temannya merokok mesti ia benci merokok. Nah kamu pikirkanlah kamu mau membuat seisi Indonesia gerah apa masuk dalam harmoni kehidupan orang indonesia.
Kamu bukan Tuhan yang harus membuat semua sempurna. Jadi win-win solution adalah Ahmadiyah silahkan buat agama baru, semua senang kan? Apa susahnya sih? Bikin kek agama Ahmadiyah. Perkara selesai. Kecuali kamu mendapat keuntungan dari perlakuanmu itu.
Anick dkk, saya hanya minta kamu renungkanlah di hati paling dalam. Setidaknya mari membuat harmoni bukan meciptakan letupan apin dalam sekam yang jelas-jelas jauh dari kedamaian.
Juni 5, 2008 at 11:50 pm
Yang punya blog ini jelas-jelas tidak memahami agama Islam nampaknya. Tidak memahami kaidah-kaidah dasar. Nampaknya tidak pernah mempelajari ilmu fiqh, tarikh, dsb. Namun berani mengomentari tentang agama.
Juni 6, 2008 at 8:01 am
Akhirnya ketemu juga blog yang bahas Ahmadiyah. Jadi begini mas, mbak, om dan tante yang terhormat.
Islam dibuka dengan bacaan syahadat yang mengakui tiada tuhan selain Alloh SWT dan Muhammad SAW sebagai utusan-Nya. Itu yang merupakan pondasi dari agama yang bernama Islam, la kalau ada golongan Ahmadiyah yang mengakui ada nabi lain selain Muhammad SAW ya udah ganti aja agamanya dengan nama yang lain jangan Islam, kenapa? karena Islam ada ribuan tahun sebelum Ahmadiyah muncul dan itu hak patennya hanya milik umat yang mengakui sebelum tiada tuhan selain Alloh SWT dan Muhammad SAW sebagai utusan-Nya tidak ada nabi sesudahnya sesuai didalam alqur’an dan hadist nabi yang shohih.
Saya sarankan biar gak ribut-ribut agar Ahmadiyah dinyatakan memang benar keluar dari Islam atau kafir karena syahadatnya batal dan menghapuskan kata Islam dari semua aktifitasnya. Kalau perlu buat agama baru dengan nama Ahmadiyah atau Mirzaiyah kalau masih kurang Gulamiyah. Gitu aja kok repot-repot……..
Juni 6, 2008 at 2:35 pm
kebebasan memeluk agama kebebasan menista agama. mudah kan ? anak tk juga bisa beda-in. masa pinter pinter bisa bikin blog kalah sama anak tk ?
Juni 7, 2008 at 4:28 pm
Kesalahan persepsi pendukung Ahmadiyah
Sebelum memulai penjelasan saya, perlu saya perjelas bahwa segala macam bentuk anarki yang dilakukan kelompok tertentu (salah satunya FPI & LPI) adalah salah.
Menanggapi berbagai pernyataan yang dikemukakan oleh berbagai kelompok yang mendukung Ahmadiyah, menurut saya ada kesalahan persepsi. Mereka, yang mendukung Ahmadiyah, menyatakan demi keberagaman bangsa, demi kebebasan beragama dan berkeyakinan.
Perlu diketahui bahwa apa yang diyakini oleh Ahmadiyah, setelah diteliti dan dipelajari, adalah sesat. Karena mereka mengatasnamakan Islam, maka seharusnya Ahmadiyah dipahami sebagai bentuk pelecehan atau penghinaan agama Islam. Bukan demi kebebasan beragama yang dikumandangkan oleh para pendukung Ahmadiyah. Bila Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, umat muslim akan sangat tidak keberatan.
Ahmadiyah bukan sekedar masalah berbeda pendapat dalam berkeyakinan. Bila saya berkeyakinan atau pemahaman tertentu saya yang berbeda dan menjurus sesat dari agama saya, maka itu hak saya. Itu dosa saya. Itu urusan saya dengan Tuhan saya. Tapi bila saya mengajarkan, berdakhwah, mengajak, berkumpul, berkelompok dan berorganisasi, maka kegiatan tersebut tidak bisa dibenarkan dan didiamkan.
Keyakinan Ahmadiyah bukan sekedar perbedaan pendapat seperti mengenai perbedaan hari Idul Fitri, yang menurut saya bukan merupakan suatu prinsip dasar dalam Islam. Perbedaan pendapat Ahmadiyah sudah menyerang dan merusak dasar-dasar prinsip Islam.
Kepada para pendukung Ahmadiyah atas dasar kebebasan beragama dan berkeyakinan, perlu di ketahui asal mula historis gerakan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Menurut saya, semua itu bermula dari pertentangan dalam diri suatu agama di timur tengah sekitar abad ke 1 SM dan eropa sekitar abad ke 16, serta perbedaan pendapat di India sekitar abad ke 5 SM. Maka, jangan menyamakan (baik sadar ataupun tidak sadar) historis Islam dengan mereka. Setidaknya menjadi suatu rujukan dalam arti “kebebasan”.
Bahkan perbedaan antara Sunni dan Syiah yang bermula dari awal sejarah Islam merupakan perbedaan politik. Bukan prinsip-prinsip dasar keagamaan. Bukankah setelah nabi wafat, muncul nabi-nabi baru yang dibubarkan oleh Abu Bakar?
Saya bertanya kepada para pendukung Ahmadiyah, bila memang setelah diteliti dan dipelajari Ahmadiyah adalah sesat, dimanakah pemerintah dan hukum dalam membela suatu agama yang telah dilecehkan dan dihina? Dimanakah keadilan Pancasila dalam melindungi agama tertentu dari penghinaan dan pelecehan suatu kelompok yang menganggap dirinya bagian dari agama tersebut?
Saya mencintai Indonesia dan keberagamannya. Saya mencintai Pancasila yang saya anggap sebagai pemersatu dan penengah keberagaman Indonesia. Tapi, bisakah sekarang Pancasila melindungi salah satu warganya dari kelompok yang menyerang keyakinan warganya tersebut. Bisakah Pancasila, hukum dan pemerintah melindungi warganya (umat muslim) dari penghinaan dan pelecehan Ahmadiyah?
Ismail Daru H.
Juni 10, 2008 at 10:12 am
SUDAH JELAS AHMADIYAH MENGHANCURKAN ISLAM DARI DALAM DENGANKEDOK ISLAM KO DI BELA ,APALAGI ITU ORNG-ORANG MODEL GUSDUR.SELAMA GUSDUR MASIH HIDUP SUSAH UNTUK MAJU.COBALAH PENGIKUT DAN PENDUKUNG GUSDUR AGAK BERPIKIR SEDIKIT APA OMONGAN GUSDUR SELALU BENAR KO SELALU DI BELA.
SEBETULNYA BIANG KERUSAKAN BANGSA DAN AGAMA ISLAM ADALAH GUSDUR SEORANG YANG SOK TAHU..PADAHAL HANYA DENGAR DARI YANG BISIKIN SAJA,SEMENTARA YANG BISIKIN KAUM KAFIR YA JELAS RUSAK .SEBAIKNYA GUSDUR JADI PARA NORMAL SAJA NGGAK USAH NGURUSIN PKB / NU/ POLITIK DAN SOK BELAIN HAM .MASA ORANG YANG TIDAK JELAS AGAMANYA DI DUKUNG PENGIKUTNYA.
SUDAHLAH GUSDUR DUDUK DIRUMAH SAMBIL MERAMAL POLITIK ATAU MINIMAL JADI DUKUN GITU LAH…
Juni 24, 2008 at 7:35 am
membaca komentar-komentar di atas membuat saya tak habius mengerti…
yang paling saya heran adalah ketika orang-orang islam ala FPI dan HTI itu berkata bahwa ahmadiyah melanggar HAm orang islam? lah, apanya yang dilanggar? kan orang HTI dan FPI masih bebas menyembah tuhannnya, bebas sembahyang, bebas mengimani apa yang pengen diimani? apanya yang terlanggar?
saya sendiri seorang muslim, saya bukan penganut ajaran ahmadiyah, tapi saya tak pernah meras hak saya dilanggar oleh keyakinan ahmadiyah tuh?
Juni 25, 2008 at 4:34 am
@YoHang07
Mas Yoga, mas Anick ini belajar di IAIN lho.
Dia jelas bisa bahasa Arab, akses pengetahuan agama jauh lebih banyak dia.
Lah, sampeyan sendiri baru lulus SMU wis kemlinthi, sok tahu banget bilang mas Anick ngga tahu agama. Mas Anick itu orangnya rendah hati mas, nggak seperti sampeyan. Mbok ojo ngisin-isini esema siji lah.
Kuliah mung nang Elin UGM wae wis keminter.
Belajar dulu sana! Ngisin2i teladan.
Balung tuwo,
elektro itb
Juni 26, 2008 at 10:24 am
mengapa rus da ahmadyah,tu kan jelas2 agama yang tidak mengakui nabi Muhammad saw sbg nabi terakhir,n lebih baik pm tegas lam hal ini?