Jogja Dalam Lima Babak

Babak 1

Sebagai hadiah karena telah mengalahkan Aria Penangsang, Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir, raja Pajang) memberikan satu wilayah yang disebut sebagai Alas Mentaok kepada Ki Ageng Pemanahan. Pemberian Alas Mentaok ini sekaligus menjadi penanda bermulanya misi syiar Islam ke wilayah baru.

Ki Ageng Pemanahan membangun sebuah langgar kecil setelah menemukan mata air yang berasal dari sebuah pohon beringin. Putranya, Panembahan Senapati Sutawijaya, lalu melanjutkan syiar Islamnya dengan membangun masjid yang lebih besar.

Dalam perjalanan membawa kayu jati dari Cepu dan Blora, bertemulah rombongan itu dengan komunitas Hindu di satu daerah. Omong punya omong, serombongan anggota komunitas Hindu juga tertarik untuk hidup di wilayah baru dan bersepakat mengikuti rombongan tersebut. Jadilah Masjid Mataram, sebuah masjid dengan dua identitas yang melekat: bangunan utamanya bercirikan Islam dan Jawa; sementara bangunan luar, yakni gapura dan pagar tembok yang mengelilinginya bercirikan Hindu, lengkap dengan patung tolak bala ala Hindu di atas gapura.

Sampai hari ini kita tahu, gapura Masjid Mataram adalah gapura dengan ciri Hindu. Masjid ini menjadi simbol kerukunan dan perkawinan tiga kultur: Islam, Jawa, dan Hindu.

Cerita singkat ini saya dengar dari Pak Warisman, Takmir Masjid Mataram yang berlokasi di Kotagede, Yogyakarta, pagi 28 Januari 2018. Sungguh pagi yang indah.

 

Babak 2

Memperingati 32 tahun berdirinya, Gereja Santo Paulus Pringgolayan hendak menggelar bakti sosial di rumah Kasmijo, Kepala Dusun Jaranan, Banguntapan, Bantul, D.I. Yogyakarta. Tanpa dinyana, sebelum acara dimulai sejumlah pemuda masjid dan ormas yang mengatasnamakan Islam mendatangi lokasi bakti sosial yang baru akan dimulai.

Tiga ormas kesohor ambil bagian dalam penolakan tersebut: Front Jihad Islam (FJI), Forum Umat Islam (FUI), dan Majelis Mujahidin Indonesia. Alasannya, mereka menganggap bahwa acara ini adalah bagian dari upaya kristenisasi.

Penolakan ini terjadi pagi 28 Januari 2018. Sungguh sepotong pagi yang menggelikan.

 

Babak 3

Tiga hari berikutnya.

Ditanya seorang wartawan, Sultan Hamengku Bawono X, penerus langsung trah raja Mataram, menanggapi kasus Gereja Santo Paulus dengan sangat “arif”: menganggap bahwa acara bakti sosial pihak gereja kurang tepat dalam pengemasannya. Menurut Sultan, kegiatan bakti sosial tidak perlu membawa nama gereja penyelenggaranya.

Berita tentang ini saya baca beberapa pagi yang lalu, 31 Januari 2018. Ini menjadi semacam konfirmasi bahwa intoleransi di The City of Tolerance ini semakin menguat. Dan kelompok intoleran seperti mendapatkan panggung untuk menjadi intoleran karena arah politik pemegang kekuasaan sedang memberi angin kepada mereka.

 

Babak 4

Hari ini saya ingin berandai-andai.

Seandainya saya adalah seorang sultan yang berkuasa atas wilayah Alas Mentaok yang menjadi simbol kerukunan itu, tentu saya akan mempertahankan citra rukun ini dengan segenap kekuasaan dan wewenang yang ada pada saya. Tentu saya akan berpihak kepada komunitas atau kelompok yang mengatasnamakan apa pun, yang berorientasi pada cara beragama yang ramah, toleran, dan sejuk.

Seandainya saya adalah seorang sultan yang telah turut mendeklarasikan kota wilayah saya sebagai The City of Tolerance, tentu saya akan dengan mudah menangkap kedok pengguna kekerasan dan produsen kebencian atas alasan agama dan sektarianisme. Tentu saya akan dengan mudah melakukan deteksi terhadap siapa pun yang menjadikan agama sebagai kuda tunggangan untuk mempersekusi kelompok lain.

Seandainya saya adalah seorang sultan yang dulu adalah khalifatullah sayidin panatagama (gelar ini dihapus oleh Sultan HB X pada 2015 lewat “Sabda Raja”, bersamaan dengan penggantian gelar sultan dari Hamengku Buwono X menjadi Hamengku Bawono X), saya akan memastikan bahwa beragama yang benar tentu adalah beragama yang ramah, bukan marah. Bahwa sektarianisme dan ego kelompok tertentu tidak mungkin diberi panggung dalam konteks membangun wilayah yang majemuk dan kosmopolit.

 

Babak 5

Saya membayangkan Sri Sultan membaca catatan kecil ini lalu naik andong dan meluncur ke Masjid Mataram Kotagede, ngopi sore sama Pak Warisman. Tentu ngobrol sekopi sore akan nikmat jika ditemani semacam singkong rebus atawa sukun goreng, sambil cerita masa lalu. Suatu masa ketika masjid menjadi sesuatu yang dibuat dengan penuh filosofi yang sejuk dan merukunkan.

Semoga.

Anick HT

 

Pertama kali dimuat di mojok.co:

Jogja Dalam Lima Babak

Berita terkait:

Front Jihad Islam Bubarkan Paksa Baksos Gereja Katolik St Paulus Pringgolayan
Sejumlah Ormas Melarang Bakti Sosial Gereja Santo Paulus Yogya
Sri Sultan: Baksos Jangan Atas Nama Gereja. Sultan Sehat?
Indonesia Harus Melindungi Minoritas Keagamaan di Yogyakarta!

Sunda Wiwitan Melawan Diskriminasi

Sore itu kopi saya betul-betul pahit selepas mendengar seorang tokoh nasional bicara definisi agama. Ia adalah Din Syamsuddin, mantan Ketua Umum Muhammadiyah yang Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia. Mungkin saja beliau berbicara atas nama pribadi, mungkin juga mewakili sesuatu yang besar di belakangnya. Tapi, anggap saja tulisan ini tanggapan untuk Profesor Din sebagai pribadi—pribadi agung yang sudah malang melintang di dunia akademis, politik, maupun diplomasi internasional.

Alkisah, Ayah Mursid, tetua Selam Sunda Wiwitan yang selama ini diam didiskriminasi dan dianggap tidak beragama, baru-baru ini menyuarakan perlunya negara mengakui Selam Sunda Wiwitan sebagai agama dan dicantumkan dalam Kartu Tanda Penduduk.

Ayah Mursid tidak sendirian. Sudah lima tahun terakhir pemeluk Kaharingan di Kalimantan, yang oleh Orde Baru dihindukan, menuntut negara untuk mengakuinya sebagai agama sendiri yang terpisah dari Hindu. Mereka tidak merasa Hindu dan tidak menganut ajaran Hindu.

Ayah Mursid tidak sendirian. Cobalah sesekali Profesor Din mengadakan semacam rihlah nusantariyah atau semacam ekspedisi mengunjungi kawan-kawan kita warga Kajang di Sulawesi, penganut Sapta Darma di Yogyakarta, Kejawen dan Kapribaden di Jawa Tengah, Parmalim di Sumatra, Wetu Telu di Lombok, Marapu di Sumba, Adat Lawas di Kalimantan Timur, dan ratusan lainnya di seantero nusantara.

Mereka adalah warga negara Indonesia yang memiliki sistem ketuhanan dan kemanusiaan sendiri-sendiri, yang satu sama lain berbeda, apalagi dibanding enam agama yang menurut Profesor Din diakui oleh negara. Entah apa pula maksud diakui di situ.

Apakah Ayah Mursid semata bicara tentang KTP? Tentu saja tidak.

Ayah Mursid sedang berbicara tentang hak warga negara yang selama puluhan tahun didiskriminasi sejak lahir hingga mereka meninggal. Sejak mengurus surat nikah, akta kelahiran, hingga menguburkan warganya yang meninggal. Diskriminasi adalah sesuatu yang menubuh pada mereka. Jutaan dari mereka. Sejak disebut dengan sangat peyoratif sebagai penganut animisme-dinamisme hingga disebut “lain-lain” dalam statistik populasi penduduk Indonesia di Badan Pusat Statistik maupun survei-survei akademis.

Apakah Ayah Mursid bicara tentang KTP? Tentu saja tidak.

Ayah Mursid bicara tentang tanah dan alam yang melahirkan mereka, yang mereka jaga dan rawat dengan segala kesantunan dan tata krama yang mereka miliki, yang perlahan dirongrong oleh para oligarch atas nama pembangunan dan peradaban. Juga atas nama agama yang diakui. Juga atas nama keniscayaan modernitas yang diagungkan oleh para perusak alam itu.

Dan Profesor Din Syamsuddin bicara tentang definisi agama secara ilmiah. Entah seperti apa yang disebut ilmiah itu.

Jika yang disebut ilmiah adalah memosisikan manusia yang memiliki sistem ketuhanannya sendiri sebagai bagian dari sub-agama orang lain; jika yang disebut ilmiah adalah mengakibatkan mereka-mereka penganut “agama yang tidak diakui” sebagai belum beragama, dan karena itu mereka adalah objek yang boleh menjadi sasaran kristenisasi, islamisasi, dan sejenisnya; jika yang disebut ilmiah adalah memaksa anak-anak mereka untuk mengikuti pelajaran agama yang bukan agamanya sendiri, atau diwajibkan mengaku Islam atau Kristen atau Hindu atau yang lain ketika mereka melakukan transaksi di bank; jika yang disebut ilmiah adalah sesama warga negara dirundung karena kolom agama dalam KTP-nya kosong, atau bahkan di-PKI-kan; jika yang disebut ilmiah artinya harus melarang mereka masuk menjadi anggota polisi dan TNI atau menjadi pegawai negeri sipil; lebih baik saya tidak ilmiah sama sekali. Sama sekali.

Ya, saya memilih untuk tidak ilmiah.

Dan Profesor Din Syamsuddin bicara tentang konsekuensi: jika Selam Sunda Wiwitan diakui sebagai agama, akan ada ribuan agama di Indonesia.

Adakah yang salah dengan tumbuh berkembangnya ribuan agama di Indonesia? Atau mungkin profesor satu ini memang lebih nyaman dengan model fusi partai ala Orde Baru? Cukup enam agama yang diakui, yang lain silakan menginduk. Peduli amat apakah si anak mirip dengan induknya, atau dimirip-miripkan, atau dipaksa mirip, atau yang penting halaman depannya saja yang mirip.

Lalu apa yang terjadi? 11 Oktober 2008, serombongan anggota Front Pembela Islam menyambangi salah satu sanggar Sapta Darma di Balecatur, Sleman, dan merusak beberapa barang di sana. FPI menganggap Sapta Darma aliran sesat karena beribadah menghadap ke timur sementara di kolom KTP mereka tercantum Islam sebagai agama.

Nah, loh! Meminta agamanya dicantumkan, ditolak. Menuliskan agamanya dengan menginduk ke agama lain, dilarang pula beribadah menurut agama aslinya.

Demikianlah. Semanis apa pun kopimu, tentu mengandung kepahitan.

Anick HT

Dimuat pertama kali di mojok.co:

Sunda Wiwitan Melawan Diskriminasi

Berita terkait:

Tetua Baduy Minta Agama Selam Sunda Wiwitan Dicantumkan di Kolom KTP

Tetua Baduy Minta Sunda Wiwitan Ada di Kolom Agama E-KTP

Din Syamsudin: Selam Sunda Wiwitan Bukan Agama

MUI Anggap Sunda Wiwitan Bukan Agama

Secangkir Kopi Pagi Untuk Tuan Bima Arya

Tuan Bima Arya yang baik hatinya,

Rasanya agak basi jika saya mengajak Anda ngopi pagi ini jika hanya untuk bercerita tentang seseorang bernama Tsa’labah yang saleh namun miskin papa. Kisah ini sangat populer, meski dianggap kisah yang lemah alias dlaif.

Konon, sekira 1400 tahun yang lalu, Tsa’balah datang kepada Muhammad SAW untuk didoakan menjadi kaya raya. Cerita punya cerita, ia lalu mendapatkan seekor kambing yang kemudian beranak-pinak hingga kota Madinah rasanya tak cukup menampungnya. Setelah kaya raya, ia bahkan merasa tak mampu untuk sekadar membayar pajak atau zakat.

Tentu saja bukan kisah itu yang ingin saya bicarakan.

Rasanya juga menggarami lautan jika saya cerita ke Anda bahwa ada sebuah negara di dunia ini yang namanya Iran. 90-95% penduduknya adalah penganut Syiah. Jika saya boleh berandai-andai: jika kebetulan Anda dilahirkan di negeri itu, potensi Anda menjadi warga Syiah adalah 90-95%.

Tentu bodoh jika saya menganggap Anda tak tahu bahwa tradisi Asyura adalah tradisi milik semua muslim. Tradisi ini bahkan melekat dengan tradisi lokal di beberapa daerah, sehingga muncullah bubur Asyura di banyak daerah di Jawa, upacara Tabot di Bengkulu, atau Tabut di Pariaman.

Ah, tentu fakta itu pun tak relevan-relevan amat, karena Anda menulis surat edaran pelarangan bukan karena tradisi Asyuranya, melainkan karena pihak yang menyelenggarakan acara Asyura tersebut. Juga karena desakan sekelompok umat yang mungkin saja Anda anggap sebagai representasi seluruh umat Kota Bogor.

Dan bukan itu pula memang yang ingin saya sampaikan ketika saya mengajak Anda ngopi pagi hari ini.

Demi mendaftar kisah-kisah heroik Anda seperti menendang kios penjual miras atau melempar gelas di tempat hiburan malam, saya juga tak yakin apakah perlu memuji atau mencela Anda pagi ini.

Mungkin tak perlu juga saya menanyakan mengapa Anda tak membiarkan saja para jemaat GKI Yasmin beribadah di tanah yang mereka beli sendiri, daripada mereka beribadah sembunyi-sembunyi atau menggelar tikar di lapangan Monas seberang Istana Negara.

Otomatis, tak ada perlunya saya menceramahi Anda bahwa negeri ini dibangun di atas fondasi perbedaan. Bahwa negara dibuat untuk berdiri di atas dan melampaui segala perbedaan itu. Bahwa mengasumsikan semua warga negara menjadi satu dalam keseragaman sama halnya dengan mengandaikan Sisifus bertepuk dada sambil menghisap cerutu di atas puncak bukit.

Ya, akhirnya dengan bulat saya memutuskan, saya menunggu Anda sepagian di warung kopi ini hanya untuk satu cerita, bahwa saya memiliki daftar yang saya buat sendiri, dengan argumen-argumen yang saya susun sendiri—terinspirasi oleh Pak Tino Sidin. Daftar ini saya beri judul: Daftar Anak Muda Berbakat.

Nah, pagi ini saya mau kasih tahu, sekaligus mohon izin Anda, nama Anda yang sudah terlanjur saya masukkan dalam daftar itu akan segera saya coret.

Bukan apa-apa, ini karena semalam saya mimpi ketemu almarhum Abraham Lincoln yang kasih saya sesobek kertas lusuh yang ternyata bertuliskan: “Semua orang bisa tahan dengan kesengsaraan. Tapi bila kau ingin mengetahui karakter seseorang, berilah dia kekuasaan.”

Anick HT

Dimuat pertama kali di mojok.co:

Secangkir Kopi Pagi Untuk Tuan Bima Arya

 

Berita terkait:

Keputusan Wali Kota Bogor melarang Asyura menuai kritik

Larang Asyura, Wali Kota Bogor Bima Arya Dianggap Berlebihan

Anda Minoritas? Menyingkirlah

Ketahuilah, Kisanak, ini negeri para penyembah angka. Jika jumlah golongan Anda kecil, siap-siap saja menjadi penonton di luar pagar. Tontonlah tingkah polah para pemilik angka besar yang lebih suka berbusa-busa berdebat tentang definisi dan pembagian kue kekuasaan. Siap-siaplah menjadi aktor pelengkap penderita; keberadaan Anda dipertahankan untuk menegaskan klaim negara beragam, namun posisi Anda sekadar dibutuhkan untuk dituding dan dicaci. Tentu tak selalu begitu. Kadang Anda hanya dianggap tidak ada.

Jikau kaum Anda mendirikan sesuatu, atau menyelenggarakan sesuatu yang terkait dengan identitas Anda, maka bersiaplah menyediakan ubo rampe berlipat ganda untuk menyumpal mulut dan mengekang tangan para penggertak. Mereka adalah pemilik kuasa atas segala alasan pembenar. Ya, mereka selalu benar, sejauh apa yang mereka inginkan belum terpenuhi. Konon, Tuhan pun ada di pihak mereka. Dan ketahuilah, para penggertak itu bisa beranak pinak.

Tapi percayalah, para penggertak itu juga manusia. Anda pasti tahulah kebutuhan dasar manusia itu apa. Maka untuk bertahan hidup, pintar-pintarlah cari tahu apa yang sejatinya dibutuhkan oleh manusia.

Ketahuilah, Kisanak, ini negeri para penyembah kuasa. Jangan percaya bahwa pemilik kuasa itu berdiri untuk dan di atas semua golongan. Aparat pelaksana kuasa juga manusia. Melekat dalam tubuhnya segala identitas dan kepentingan untuk bertahan hidup. Juga kepentingan para pemilik jumlah besar bernama mayoritas itu.

Jadi, kalau Anda minoritas, jangan berharap para pemilik kuasa itu ada di pihak Anda. Mereka memperlakukan Anda secara setara saja sudah menjadi isu langka. Mereka harus juga mempertimbangkan kepentingan kelompok yang lebih besar jumlahnya. Sebagian dari mereka bahkan adalah bagian dari kaum penggertak itu.

Mungkin saja sebagian kecil dari mereka ingin membela Anda sebagai manusia. Tapi mereka kalah suara, atau kalah kuasa. Atau mereka takut kehilangan suara. Atau memang mereka sudah membela Anda dalam kapasitas iman yang paling lemah, alias dalam hati.

Jadi, Kisanak, jika Anda minoritas, menyingkirlah ke pinggir. Tentu kalian tak akan dibuang, karena Bang Haji selalu butuh Sopo dan Jarwo untuk dituding. Sedahsyat apapun jaring Spiderman, takkan banyak artinya tanpa Green Goblin. Sebagaimana Yesus butuh Lucifer, dan Tuhan butuh Iblis.

Jika Anda minoritas, bersikaplah sebagai orang pinggir. Jangan terlalu berharap mengurus KTP berbiaya sama dengan Sang Mayoritas. Jangan berharap terlalu mudah Anda membangun rumah ibadah seperti halnya mereka. Jangan berharap suara Anda didengar, mesti sudah beribadah untuk ke-100 kalinya di seberang istana raja. Jangan berharap Anda cepat keluar dari pengungsian, dikembalikan segala harta, rumah, dan sawah Anda seperti semula. Apalagi berharap ganti untung.

Jika Anda minoritas, Anda hanya butuh kekebalan mental. Jika anak Anda dibully karena keyakinan yang Anda anut, jangan rumuskan itu sebagai masalah. Jika dalam KTP Anda tertulis agama orang lain yang sama sekali tidak Anda anut, jangan kategorikan itu sebagai diskriminasi. Anggap saja sebagai lucu-lucuan. Di zaman ketika apa yang disebut sebagai sweeping-sweepingan lagi musim, kadang kala menertawakan yang begituan ada gunanya juga.

Anda hanya butuh bersabar. Semoga saja di kemudian hari para Avengers berkumpul untuk menyeragamkan segala yang ada, sehingga kebenaran dan kemenangan tak lagi diukur dengan jumlah pengikut. Sehingga tak ada lagi yang disebut baik dan buruk. Semua menjadi baik, atau semua menjadi buruk. Dan sesama bis kota pun dilarang saling mendahului.

Anick HT

Dimuat pertama kali di mojok.co:

Anda Minoritas? Menyingkirlah

 

Berita terkait:

Ada 32 Gereja Ditutup Sepanjang 5 tahun, Jokowi Ke Mana?