Lukisan monalisa tidak akan berharga mahal dan terkenal jika hanya terdiri dari satu warna, tanpa gradasi. Patung Liberty di Amerika tidak akan menjadi simbol kemegahan jika ia hanya satu dimensi, tanpa lekukan dan bentuk tiga dimensi. Datar, sedatar kertas. Qiraah Muammar tidak akan menjadi indah jika liukan dan naik-turun nadanya dihilangkan. Lurus, selurus peluit kereta api.

Ketika para malaikat memprotes keinginan Allah untuk menciptakan Adam, tentu saja Allah mengabaikan protes tersebut, karena penciptaan Adam dengan segala konsekwensinya adalah keniscayaan. Perwujudan Qabil dan Habil adalah sunnatullah. Hitam-biru-putih, siang-sore-malam, pelangi, adalah kemestian.

Perbedaan, kontras, gradasi, penafsiran yang beragam, akan melahirkan dinamika kehidupan. Kita, manusia, sudah sepatutnya merawat dinamika itu agar tetap indah, damai. Biarkanlah kehidupan itu selalu berwarna, karena keseragaman adalah mustahil, melawan sunnatullah. Jika Allah menghendaki, ia akan menghancurkan gereja dan sinagog. Tapi Allah tidak menghendakinya. Allah menghendaki dinamika itu, keindahan kontras, pesona perbedaan.