Inna Allaha jamil,  yuhibbu al-jamal

Allah indah, dan menyukai keindahan. Ungkapan simpel tersebut sangat akrab di telinga kita. Manusia, tentu saja juga memiliki kecenderungan menyukai keindahan, dalam berbagai aspeknya. Seni adalah keindahan. Islam mencintainya.

Alquran datang sebagai sesuatu yang indah, lebih dari puisi, di tengah budaya sastra yang tinggi di kalangan bangsa-bangsa Arab. Sunan Kalijaga mengislamkan tanah Jawa dengan wayang dan gamelan, hingga melahirkan istilah-istilah Islam-Jawa, semisal jimat kalimosodo (kalimat syahadat). Para ahli tarekat bernyanyi dan menari untuk mendekat kepada Sang Kuasa.

Lalu apa yang salah dengan seni? Apa yang salah dengan musik? Sebagai sebuah sarana, alat, ia bersifat netral. Puisi, ritme musik dan lagu, gerak tari, lukisan, atau apapun yang bernilai estetik, adalah ruang kosong. Ia menyimpan energi kesalehan, sekaligus energi kemaksiatan. Ia hanyalah sebagian dari ribuan, miliaran, sesuatu yang bernama “sesuatu”.

Keindahan menjadi bermakna ketika ruang kosong itu dipenuhi dengan energi kesalehan. Ia bisa menjadi alat menuju ke hadirat-Nya. Ia bisa menjadi penanda betapa agungnya Sang Maha Pencipta.

al-Tasamuh, Edisi 23, 27 september 2002