Siapa yang tidak berbangga melihat kampusnya megah, cantik, penuh fasilitas? Siapa yang tak senang menikmati decak kagum orang lain mengomentari kampus UIN yang serba wah dan modern? Siapa yang tak mau dibilang kuliah di kampus yang dibangun dengan biaya triliunan? Adakah yang dirugikan dengan kemewahan ini? Logika yang paling sederhana sekalipun akan mengatakan bahwa mahasiswa UIN Benarkah semuanya merasa begitu? Benarkah segala fasilitas dan kemewahan ini memberikan segalanya?

Ternyata kalau kita tanya lebih jauh, sebagian mahasiswa kita mempunyai jawaban yang beragam. Ada yang senang, setengah senang, biasa saja, setengah marah, dan bahkan ada yang sangat marah dengan kemewahan ini.

Lhoh kok, apa pasal?

Ternyata bagi sebagian mahasiswa kita, kampus UIN sekarang ini ibarat kampus kardus. Mengapa kampus kardus? Konstruksi kampus yang meninggi, bukan meluas, mungkin salah satu faktornya. Konstruksi ini, dan juga kemewahan di dalamnya, ternyata berimplikasi langsung maupun tak langsung terhadap perubahan pola kehidupan kampus. Kampus sederhana yang dulunya “hidup”, menjadi kampus mati, tak bernyawa, mengalienasi, dan merisaukan. Satu komentar ekstrem terdengar: “Malam hari, kampus kita hanya milik satpam, tak ada aktivitas dan kehidupan akademis.”

Mungkin komentar itu terlalu ekstrem. Tapi ada kebenaran di sana, ketika kita membandingkan kehidupan dan mobilitas mahasiswa di kampus mewah ini, dengan kampus kumuh sebelumnya. Seorang kawan berceloteh: “Di kampus kumuh yang dulu, kita bersahabat dengan rerumputa n dan kenyamanan diskusi dan obrolan di kerindangan pohon. Di kampus sekarang, kita dikondisikan untuk selalu bergegas karena harus menempuh jalanan panas dan tak bersahabat. Tak ada tegur sapa.”

Bagai kotak kardus yang ditumpuk, pola relasi antarmahasiswa yang dulunya terbangun romantis dan produktif, kini menjadi segmented. Bagai kotak kardus yang bertumpuk, relasi horisontal antarmahasiswa, antarfakultas, menjadi terbatasi oleh tembok yang beku dan angkuh. Bagai kotak kardus yang bertumpuk, mahasiswa hanya berangkat ke kampus untuk kepentingan kuliah formal. Mobilitas informal yang menjadi “ruh” dinamika intelektual Ciputat terlempar keluar tembok, hanya ada di pinggiran-pinggiran.

Lalu muncul pertanyaan-pertanyaan klise semi-teoritis di pojokan Kafe Inovasi: benarkah modernitas mengalienasi manusia? Benarkah sistem pendidikan yang klasikal menyempitkan dinamika sosial? Benarkah kebersamaan dan relasi sosial harus berhadapan dengan sistem struktural yang membatasi, serta kapitalisasi pendidikan? Benarkah upaya memajukan fasilitas pendidikan harus bertabrakan dengan kultur yang memanusiakan manusia?

Entahlah. Mungkin kita yang gagap dengan modernitas. Mungkin kita yang perlu sedikit waktu untuk beradaptasi dengan kultur dan struktur baru kehidupan, kehidupan robot yang mekanis. []

Tulisan ini aku bikin ketika kampusku, IAIN, berubah menjadi UIN, dengan perubahan gedung-gedung 2-3 tingkat menjadi 7-8 lantai, dengan lift dan performance yang sangat megah dan mewah. Pembangunan ini didanai oleh Islamic Development Bank dalam bentuk utang atas nama negara. Tulisan ini dimuat di buletin kecil di kampus, tahun 2003 atau 2004.