Struktur sistem kehidupan, seperti layaknya sebuah mobil, merupakan perpaduan dari ribuan unsur. Mobil akan berjalan normal jika semua unsurnya berfungsi sebagaimana mestinya. Meski berbeda tingkat pentingnya, seorang pemilik mobil tidak bisa mengabaikan peran sekrup dan hanya mengandalkan roda. Tanpa sekrup, roda akan berputar di luar jalur fungsinya.

Betapapun penting posisi seorang presiden, tidak mungkin roda kehidupan berbangsa berjalan normal tanpa keterlibatan petani, dan rakyat kecil pada umumnya. “Waja’alnakum syu’uban waqabaila,” demikian firman Allah. Manusia terdiri dari berjenis-jenis suku, kemampuan, potensi, profesi, “lita’arafu,” untuk saling kenal, saling sadar diri, serta menjalankan fungsi dan profesinya untuk kesejahteraan bersama.

Seorang presiden tidak boleh menyepelekan rakyat kecil, sekrup. Karena pada suatu saat, ketika semua sekrup bersepakat untuk tidak menjalankan fungsinya, sang presiden tidak akan berarti apapun. Karena seekor gajah pun akan dengan mudah dikalahkan oleh semut-semut yang bekerja sama. Ketika sang presiden merumuskan kebijakannya tanpa mempedulikan rakyat banyak, itulah saat di mana picu kemarahan disuntikkan kepada pemegang kedaulatan tertinggi tersebut. Dan pada saatnya, kemarahan itu akan mampu meluluhlantakkan singgasana sang presiden.