Pernahkah Anda mengurus KTP? Tentu saja bagi kita yang berumur lebih dari 17 tahun hampir bisa dipastikan menjawab ya. Pertanyaan selanjutnya; pernahkah Anda mengurus KTP sendiri dari A sampai Z, sampai KTP ada di tangan Anda? Jawaban ya dari pertanyaan kedua ini kemungkinan besar jauh lebih kecil daripada yang pertama. Soal bagaimana kita mengurus KTP akan memunculkan beragam jawaban: mengurus sendiri, melalui Ketua RT, melalui Kepala Desa, melalui calo tak resmi, atau bahkan melalui Satpam Kelurahan. Begitu juga dengan soal berapa uang yang dibutuhkan untuk memperoleh KTP: bisa 1.300 rupiah, 3.000 rupiah, 100.000 ribu rupiah, bahkan 500.000 rupiah, tergantung berapa lama KTP itu diproses dan melalui siapa kita memperolehnya.

Mungkin kita semua tahu betul bahwa memperoleh KTP adalah hak kita, bukan kewajiban. Kita juga tahu bahwa ada prosedur dan mekanisme yang baku untuk memperolehnya. Bahkan kita tahu berapa uang yang seharusnya dikeluarkan untuk itu, dan lebih dari itu adalah ilegal, unprosedural, dan berbau kolusi.

Entah karena malas, berbelit-belit, atau memang kondisinya mengharuskan kita kompromi terhadap yang ilegal, atau memang kita telah menjadi bangsa yang sakit sehingga yang ilegal seperti itu kita anggap sebagai kewajaran. Yang jelas, faktanya kita masih melihat dengan kasat mata praktek-praktek seperti itu. Kalau sudah begini, mungkin memang kita harus membenarkan petuah Ronggowarsito bahwa saat ini “jaman wis edan. Yen ora melu edan ora keduman.”