Dalam satu diskusi di masjid, seorang peserta dengan bersemangat mengacungkan jari telunjuknya ketika dialog baru dibuka. “Saya mempertanyakan narasumber kita yang menempuh studi Islam di Jerman dan Amerika. Mengapa tidak ke Timur Tengah? Bukankah Jerman dan Amerika negeri kafir?”

Sekilas pertanyaan itu tampak logis, rasional. Islam lahir dan berkembang mulai dari tanah Arab. Karena itu, pemahaman Islam di sana lebih otoritatif dan mendekati “kebenaran” aslinya, ketika dibawa Muhammad.

Ilmu adalah sesuatu yang netral, bebas nilai. Netralitas itu juga yang membuat Rasulullah mengucapkan hadis yang amat populer, “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.” Mengapa Cina? Bukankah Cina adalah negeri kafir? Bahkan atheis?

Tentu saja bukan tanpa sengaja Nabi memilih Cina. Tentu saja Nabi tak sekadar “salah ucap” atau “salah ketik”. Cina adalah negara dengan sejarah panjang tradisi keilmuan dan sastra yang luar biasa. Ia adalah negeri berpenduduk terbesar, sekaligus pemilik kosa kata terbanyak.

Dengan demikian, Islam memberi ruang yang sangat luas kepada umatnya untuk belajar, mengembangkan ilmu pengetahuan, dari manapun ilmu itu diperoleh. Sekali lagi, netralitas ilmu menjadi kata kunci penting untuk membedah pandangan-pandangan sempit dan cupet tentang pendidikan. Ulama ushul fikih dengan jernih merumuskan, “Pada dasarnya segala sesuatu bersifat ‘diperbolehkan’.” Larangan terhadap sesuatu muncul karena implikasi yang dihasilkan, atau metode memperoleh dan menggunakannya. Jual beli pisau adalah sah, mubah. Larangan muncul ketika pisau itu digunakan untuk membunuh seseorang, bighoiri al-haq. Larangan muncul ketika pisau itu diperoleh dengan mencuri.

Jika Jerman dan Amerika ternyata mengajari kita bagaimana membaca “teks” dengan baik; bagaimana memahami kultur Arab ketika Nabi hadir di tengah mereka; bagaimana mengembangkan teknologi yang bermanfaat bagi kemajuan umat; bagaimana beribadah haji tanpa memakan waktu berbulan-bulan karena naik kapal laut, adakah yang salah di sana? Haruskah kita pungkiri bahwa Isaac Newton yang non muslim dengan teori gravitasinya itulah yang membuat salah satu tabir misteri ilahi terbuka?