Kullukum ra’in, wakullukum mas’ulun ‘an ra’iyatih, demikian Nabi Saw. mengajarkan kepada kita, sebagaimana diteruskan oleh guru-guru dan pendahulu kita. Di negeri yang sedang merangkak ke arah demokrasi ini, setiap warga dituntut tanggung jawabnya untuk memilih pemimpinnya. Presiden, Gubernur, Bupati, Camat, Kepala Desa, Ketua RT bertanggung jawab terhadap kita sebagai pemilih dan pihak yang dipimpin. Sebagai rakyat kita juga punya hak, bahkan kewajiban, untuk mengawasi dan mengontrol kepemimpinan mereka.

Kabar bagus berhembus dari gedung DPR/MPR; pada pemilu mendatang, di samping memilih lambang partai, kita juga bisa memilih gambar/nama calon dari masing-masing partai. Meski bukan jaminan, paling tidak pemilih lebih bertanggung jawab karena lebih mengenal secara langsung seseorang berdasarkan kredibiltas yang dimilikinya, tidak lagi membeli kucing dalam karung. Sudah tentu jika semua calon yang diajukan bermasalah, pemilih berhak untuk tidak memilih alias menjadi Golput (golongan putih).

Tugas kita adalah memastikan bahwa pilihan kita didasarkan atas komitmen moral, kredibilitas, dan program-program kongkrit yang ditawarkan seseorang atau suatu partai. Tidak layak bagi kita memilih pemimpin yang sudah jelas korup, tak bermoral, dan menindas rakyat dengan kekuasaannya. Karena setiap pilihan kita akan kita pertanggungjawabkan ke hadapan Allah Swt. kelak. Karena setiap pilihan kita akan berpengaruh pada perjalanan Indonesia ke depan.