Undzur ma qola, wa-la tandzur man qola. “Lihat apa katanya, jangan siapa yang berkata,” demikian Nabi bersabda. Dalam bahasa mahfudzat juga disebut, “Laisa al-fata an yaqulu kana abi, walakin al-fata man yaqulu ha ana dza”. Tidak layak seorang pemuda berkata “aku anaknya Lurah”, seorang pemuda adalah ketika ia berkata “inilah aku”.

Dua ungkapan di atas mengajari kita untuk menilai orang. Jabatan, keturunan, jenis kelamin, status, posisi seseorang tidak menentukan apakah dia benar atau salah. Seorang kyai sekalipun bisa salah. Seorang pencuri juga punya potensi kebenaran pada dirinya. Anak Lurah bisa saja bodoh, begitu juga anak pemulung bisa sangat pintar. Seorang perempuan bisa jadi pemenang, seperti halnya seorang laki-laki bisa menjadi pecundang.

Membeli kucing dalam karung, istilah dalam perpolitikan kita yang mangandaikan kita memilih seseorang yang tak kita kenal. Kita memilih dan mempercayai seseorang bukan karena ia mampu menjadi pemimpin kita, tapi karena ia saudara kita, karena ia temennya si Anu, atau hanya karena kita terpaksa memilih dia.

Sudah saatnya kita berpikir dan bertindak rasional, bukan karena suruhan atau paksaan. Sudah saatnya kita menghargai akal dan kecerdasan kita. Sudah semestinya kita menyadari bahwa pilihan kita, kepercayaan kita, akan berakibat pada masa depan kita, masa depan orang lain, masa depan bangsa. Sudah waktunya kita menyatakan untuk tidak membeli kucing dalam karung. Sudah seharusnya kita berkata: “ha ana dza!,“inilah aku”.