Satu ciuman saja untukku
lunas sudah segala payah

Satu ciuman saja untukku
agar aku tak lagi berharap
agar aku berhenti menyiksa diri
membawakan tas dan belanjaanmu
membukakan pintu mobil untukmu
menuntunmu menyeberang jalan
melindungi dari debu yang hendak menempel
di wajahmu

Satu ciuman saja untukku
agar aku tak lagi berhitung

Aku tak merasa berhak memilikimu
dan ku tak ingin
aku tak merasa berhak dimilikimu
dan ku tak ingin
hanya satu ciuman itu saja

Satu ciuman saja untukku
agar tak lagi aku merasa
surga ada di telapak kakimu

Aku tahu
dengan tangan dan mulutmu
kau menolak memberikan ciuman itu
tapi aku percaya
bahasa matamu memberikan harapan
suatu saat satu ciuman itu
untukku

Atau mungkin kau sengaja
menggantungku
membuat ciuman itu menjadi horison indah
selalu penuh harapan
namun tak pernah jua kesampaian

Satu ciuman saja untukku
tak lebih
tak kurang

Atau mungkin kau menganggap
satu ciuman takkan mungkin cukup untukku
atau
satu ciuman akan membuatku melepasmu
mencari satu ciuman yang lain

Satu ciuman saja untukku
aku akan rela
Memberikan selimutku untukmu
sementara kumenahan gigil
Meminta maaf untukmu
bahkan ketika kau sadar kaulah yang salah
Menelponmu tiap jam 11 malam
sekadar mengucap selamat tidur

Ah perempuanku
kau memang lebih pintar dari yang kukira
aku mati langkah
tak kunjung beroleh satu ciuman saja

Tapi perempuanku
ternyata kau tak cuma pintar
tapi juga kejam
ketika dari sudut mata kiriku
kutahu
dengan mudah kau berikan ciuman yang itu
padanya
entah siapa dia

Satu ciuman saja untukku
tak lagi kubutuhkan

Satu ciuman saja untukku
ternyata tak semahal itu

Ah, dunia memang kejam
atau aku yang sok melankolik

Kau yang dulu mengajariku
sepi ing pamrih hanyalah mitos
bahasa politik raja jawa
untuk membuat para kawula rame ing gawe

bahkan ibu berpamrih pada anaknya, katamu

Perempuanku
kau berhutang pamrihku
kau berhutang satu ciuman yang itu

29 mei 2006