Kekejaman Israel memang tak ada habisnya. Ehud Olmert ternyata setali tiga uang dengan Ariel Sharon, pendahulunya. Setelah meluluklantakkan Jalur Gaza minggu kemarin, kini Lebanon menjadi sasaran serangan bom dan mortir mereka. Tentara Hizbullah Lebanon juga tak tinggal diam. Mereka menyatakan perang terbuka terhadap Israel. Ini akan menjadi perang serius.

WNI di Beirut mengungsi ke Kedubes Indonesia di lebanon, AS juga mengevakuasi warganya.

Dunia bereaksi. Ahmadinejad berseru keras.

Alhamdulillah, reaksi pemerintah Indonesia sangat bagus dalam hal ini. Pemerintah mengecam serangan Israel ke Palestina, juga penangkapan wakil Perdana Menteri Palestina dan beberapa kabinetnya. Selain itu, pemerintah secara resmi memutuskan untuk tidak jadi mengirimkan tim tenis ke Israel dalam rangka play off fed cup, dan memberi bantuan pangan dan obat-obatan ke Palestina.

Ada juga pernyataan dari NGO Islam seluruh dunia, aksi kader PKS ke Kedubes AS, ada juga pernyataan bagus Din Syamsuddin untuk mengirimkan bantuan ke Palestina dan menolak mengirim mujahid ke sana.

Bagaimana dengan Bush? Alih-alih ikut mengecam serangan Israel, dia justru meminta Hizbullah menghentikan serangannya. Entah setan macam apa yang ada dalam kepala Bush.

Memang kita juga tak setuju dengan Hamas yang juga menghalalkan kekerasan. Kita juga mengecam Hizbullah yang juga memprovokasi Israel dan ngotot bersenjata, meskipun sudah ada resolusi PBB untuk melucuti senjata mereka.

Tapi kita layak marah pada Israel. Kita layak marah pada Bush. Perang ini mengorbankan banyak warga sipil. Perang ini membuat setitik harapan kita untuk terwujudnya perdamaian dunia kian kecil. Tentu saja tetap dengan kesantunan kita. Agar kita tak menjadi Ehud, atau menjadi Bush berikutnya.

sumber berita