buku-kompas.jpgJudul Buku : Dari Katabelece Sampai Kakus

Penyunting : Nuradji

Penerbit : Penerbit Buku Kompas

Cetakan : Oktober 2003

Jumlah Halaman : 234 + xxvi 

Bahasa adalah alat, sekaligus objek perkembangan budaya masyarakat dan bangsa. Sebagai alat, ia membentuk persepsi seseorang terhadap objek yang dibahasakan. Sebagai penanda (signifie), ia merepresentasikan petanda (signifiant) yang ingin dibahasakan.

Sebagai objek, perkembangan bahasa–termasuk di dalamnya adalah pola pengucapan, kesantunan berbahasa–dalam masyarakat mempengaruhi dan dipengaruhi perkembangan kultur masyarakat tersebut. Bahkan pada tingkat tertentu, tingkat keberadaban sebuah komunitas bisa dilihat dari pola berbahasa yang ada di komunitas tersebut; bahasa pesisir berbeda dengan bahasa pedalaman, bahasa kota berbeda dengan bahasa kampung, dan sebagainya.

Dalam setiap masyarakat bahasa, selalu ditemukan dua jenis pola berbahasa; resmi dan pergaulan, fushah dan amiyah dalam istilah bahasa Arab. Bahasa resmi biasanya diidentifikasi sebagai bahasa yang dipakai dalam surat menyurat resmi, bahasa pengantar lembaga pendidikan, pidato-pidato para pejabat, buku-buku dan tulisan ilmiah, serta pemberitaan media massa. Sementara bahasa pergaulan dipakai kebanyakan dalam tataran lisan; percakapan sehari-hari, komedi situasi, serta orasi-orasi umum. Secara sederhana, orang mengidentifikasi bahasa pergaulan ini sebagai “bahasa pasar”.

Tapi betulkah dua kategorisasi pola berbahasa itu berlaku dalam realitas kita? Entah siapa yang memulai, kita belakangan sering menemukan bahasa pasar dalam surat-surat resmi, pidato-pidato kenegaraan, berita dan tulisan-tulisan di koran. Begitu juga sebaliknya, kita kadang harus tertawa mendengar “bahasa resmi” dipakai seseorang dalam pergaulan di Jakarta, entah karena ia “orang daerah” atau “orang asing“ yang baru belajar ber-“bahasa Jakarta”, atau karena memang ia nggak gaul.

Media massa, konon adalah “penjaga bahasa (resmi)” dan mampu menjadi norma atau nilai sentral dalam masyarakat, sehingga apa yang baik menurut media massa, maka baik pulalah menurut masyarakat; demikian pula sebaliknya (h.8). Sebagai penjaga bahasa, tak urung belakangan kita menemukan “kerancuan berbahasa”. Banyak media cetak kita menerapkan bahasa gaul untuk memberitakan sesuatu, mengikuti alur segmen pembacanya. Tentu saja fungsi sebagai penjaga bahasa memang harus berkompromi dengan strategi pasar. Karena itu pula banyak kita temukan media yang mengidentifikasi dirinya sebagai Majalah Gaul, Tabloid Gaul, atau Koran Gaul. Meski begitu, banyak juga media non-gaul yang juga dengan sadar meminimalisasi penggunaan bahasa resmi (baca; sesuai kaidah Ejaan Yang Disempurnakan). Ini masih diperparah dengan pola pembentukan struktur kalimat yang asal-asalan. Sebut saja contoh penulisan judul berita salah satu harian di Jakarta berikut ini:

2X DILANGKAHIN

KAWIN ADIKNYA

PEMUDA MARAH

Bakar Bapaknya

Sampai Mati

Bakar Rumahnya

Sampai Rata Tanah

Bakar Dirinya

Nggak Sampe Mati

Judul berita yang memakan seperempat halaman depan seperti ini banyak kita jumpai di harian-harian di Jakarta. Lebih gaul lagi, dalam kasus ini, setelah membaca dua alinea berita tentang kasus tersebut, kita disuguhi sepenggal kalimat yang cukup membuat kita tersenyum simpul: Jangan Ngelamun, Lanjutin dulu ke hal. 10 kol. 4.

***

Kehadiran rubrik dan kolom Bahasa di Kompas memberi setitik harapan kepada kita bahwa masih ada sejumlah orang dan media yang peduli menjaga bahasa Indonesia. Buku yang merupakan kumpulan kolom Bahasa Kompas ini tentu saja berisi serpihan-serpihan instan tentang problem teoretis bahasa Indonesia, penggunaan bahasa (resmi) dalam media, kerancuan-kerancuan umum semantis maupun gramatikal berbahasa, sampai pada problem politik bahasa.

Melihat luasnya area pembahasan dalam buku ini, tentu saja kita tidak akan mendapatkan satu gambaran utuh tentang fenomena kebahasaan yang diangkat. Meski demikian, karena buku ini adalah kumpulan kolom periodik Kompas, ia merepresentasikan problem kebahasaan yang menonjol, aktual, dan dekat dengan keseharian kita. Lewat buku ini, Kompas mampu merekam dan menegaskan pada kita, bahwa bahasa Indonesia kaya, bergerak, dan berkembang, entah mempengaruhi ataupun dipengaruhi perkembangan masyarakatnya. Dan media massa berperan signifikan dalam memotret, mempengaruhi, dan mengawal perkembangan itu.

Di luar peran dan pengaruh buku ini dalam perkembangan kebahasaan kita, ada beberapa kesalahan cetak/tulis yang jika ini terjadi pada buku dengan tema-tema umum tidak cukup penting. Bukan bermaksud memfokuskan diri pada hal-hal yang “remeh-temeh”, namun karena buku ini memang mengkhususkan diri juga membahas detail-detail berbahasa, kesalahan ini menjadi penting. Pembahasan “teknis” seperti di bawah ini diperlukan justru untuk menegaskan bahwa persoalan berbahasa bukan hanya persoalan menyampaikan sesuatu, tapi juga soal bagaimana struktur penyampaian itu.

Kesalahan tulis itu antara lain sebagai berikut:

rasialisme        tertulis         rasionalisme    (h. 77)

asykar             tertulis         tentara             (h. 94)

fathara            tertulis         fahara              (h. 128)

Sebenarnya beberapa kesalahan itu secara umum tidak terlalu mengganggu keseluruhan buku ini, jika kita tidak menemukan beberapa kerancuan struktur kalimat, justru pada tulisan Pengantar oleh St. Sularto, yang adalah mantan Ketua Tim Bahasa Kompas.

Pengantar St. Sularto diawali dengan kalimat tak sempurna, tak ber-predikat:Bahasa pers menurut istilah wartawan senior, Rosihan Anwar, sebagai  salah satu ragam  yang memiliki sifat khas: singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, dan menarik (H. Rosihan Anwar, Bahasa Jurnalistik Indonesia dan Komposisi, Deppen, Jakarta 1979).

Beberapa “kerancuan” lain kita temukan setelahnya:

Dia katakan, pertanyaan “merusak atau mengembangkan bahasa
Indonesia” di atas berlangsung sejak… 
(h. xiii)

(akan lebih “benar” jika tertulis: pertanyaan…    …muncul…)

pakar bahasa lainnya, Prof. J.S. Badudu. Menurut Yus Badudu… (h. xiii)

(bukan tabiat Kompas mengubah nama seseorang dengan nama sebutan, tanpa penjelasan. Dalam penulisan seperti itu, biasanya Kompas akan menulis: Yus Badudu [sebutan akrab beliau])

… menjadi lebih ekspresif, lebih menggugah, dan lebih menggugah. (h. xv)

(berdasarkan kutipan H. Rosihan Anwar di atas—yang juga sempat dikutip ulang di akhir tulisannya, sebaiknya tertulis … menjadi lebih menarik, ekspresif, dan menggugah.)

Dialah termasuk satu dari beberapa… (h. xv)

(alternatif yang lebih “benar” adalah: Dia adalah satu dari beberapa… atau bisa juga: Dia termasuk satu dari beberapa…)

Di luar beberapa contoh di atas, masih ada beberapa kerancuan yang agak “ringan, seperti penggunaan kata ramai–yang dalam tradisi berbahasa saat ini sudah jarang dipakai, diganti dengan banyak–dalam beberapa kalimat, atau penggunaan frasa di mana–yang dalam buku ini juga dibahas oleh Nuradji (h. 160)—pada susunan kalimat:  …tahun 1970-an, di mana bahasa media massa… (h. xv). Tentu saja kerancuan-kerancuan ini, sebagaimana hakikat bahasa secara umum, tidak bisa langsung dianggap “salah”. Kadang ia hanya bersifat aneh, mengganjal, atau tidak umum.

Di samping kerancuan, ada sedikit ketidakjelian, untuk tidak mengatakan kealpaan, penyunting ketika mengutip salah satu tulisan di buku ini:

…oleh Harrisusanto (“Mengentaskan Kemiskinan Menjadi Salah Kaprah”, halaman 180)

Jika Anda mau rajin memperhatikan, halaman 180 adalah halaman akhir tulisan dengan judul dimaksud. Di samping itu, kita tidak akan menemukan judul seperti itu di buku ini. Yang ada di daftar isi maupun di halaman 176 adalah: Mengentaskan Kemiskinan Menjadi Salah Kiprah?, meskipun kita juga tidak akan menemukan satupun kata kiprah di tulisan itu. Entahlah.[]

Resensi ini aku bikin awal 2004, tapi gak sempat mempublikasikannya.