Seorang kawan lama ngajak ketemuan via YM. Usul punya usul, Taman Ismail Marzuki akhirnya menjadi pilihan. “Ada nasi bebek murah meriah”, serunya. Jadilah kita janjian ketemuan di ruang publik itu. Sambil menunggunya yang datang agak telat, aku nongkrong sendirian di tengah kerumunan banyak orang. Tersalurkanlah salah satu hobiku: melamun.

Sudah lama sekali aku tak menikmati ruang publik yang dahsyat ini. Aku ingat pertama kali berkehendak untuk memilih hidup di Jakarta, 1994. Saat itu karena belum tahu barat timurnya metropolitan ini, aku numpang seorang paman jauh yang ternyata tinggal di sekretariat sebuah kelompok studi di Jl. Pramuka, Kajian 164.

Beberapa hari tinggal di situ, 21 Juni 1994 (aku ingat betul tanggalnya, semoga ingatanku nggak salah), Tempo, Editor, dan Detik dibredel oleh pemerintah Orde Baru karena pemberitaan tentang BJ Habibie (Menristek saat itu, anak emas Soeharto) yang membeli kapal bekas dari Jerman. Besoknya, meledaklah protes besar mahasiswa dan aktivis pro demokrasi.

Karena nggak punya kerjaan di Jakarta (nunggu hasil test masuk kuliah), aku dan dua temen sekampungku ikut larut dalam aksi besar di Monas, bersama para aktivis Kajian 164. Waktu itu Rendra dan seluruh kru teaternya ikut, dan waktu itulah seniman bernama Semsar Siahaan sempat dipukul polisi. Besoknya lagi, anak-anak 164 menggelar aksi sendiri di pelataran TIM. Kami juga ikut. Kita duduk bersila, membentuk lingkaran, dan secara bergantian berorasi tentang kebebasan pers, otoritarianisme rezim Orde Baru, tentang para pejabat negara yang antikritik, tentang hak rakyat atas informasi yang dibelenggu.

Datanglah polisi, meminta KTP semua peserta aksi. Kami tetap cuek, meskipun aku menahan rasa ngeri dan cemas yang luar biasa. Itulah demonstrasi pertama yang aku ikuti, karena di Monas aku lebih banyak menikmati kerumunan dan tontonan teatrikal di lapangan.

Lamunan berlanjut.

Aku baru menyadari pentingnya ruang publik semacam TIM, yang bisa diakses siapapun warga negara ini, tak peduli agama, ras, bahasa, dan status sosial. Seniman, sastrawan, penyair, kritikus, yang biasa kita lihat di TV dan di koran sebagai bagian dari tokoh antah berantah dan selebriti, di ruang ini menjadi manusia biasa yang ngleprah di lantai dan ceng-cengan. Jangankan minta tanda tangan, menyapa dan ngajak berkenalan seperti layaknya ketemu artis, pun menjadi kelihatan norak di sana. Mereka bercampur dengan mahasiswa, pengamen jalanan, wartawan, gelandangan, dan bahkan jika kita kemaleman di Jakarta dan ikutan nongkrong sampai pagi di sanapun nggak akan ketahuan.

Di TIM ini juga, pedagang ketupat sayur dan pengelola kafe mahal bersaing memperebutkan pasar. Seniman kelas internasional makan pecel lele bareng mahasiswa yang baru sebulan menghirup nafas Jakarta.

Jadi kalau kantong Anda cekak dan pengen nongkrong semaleman, datanglah ke tempat ini. Sayang nggak banyak lagi ruang publik seperti ini tersisa di Jakarta.

Lamunan terhenti oleh kedatangan temen lamaku itu, makan nasi bebek tradisional dengan sambel yang menggairahkan.