buku_atas_nama_tuhan.gifSejak awal, seorang yang mempelajari hukum Islam juga akan mengetahui bahwa ketika al-Manshur, seorang khalifah Abbasiyah, mengusulkan agar al-Muwaththa’ karya Imam Malik ibn Anas dijadikan hukum positif yang berlaku di wilayah Islam, Malik menolak usulan tersebut karena di wilayah-wilayah Islam itu telah tumbuh berbagai macam praktik hukum yang telah mapan dan tidak ada alasan untuk memaksakan penyeragaman hukum untuk berbagai wilayah Islam tersebut. Diriwayatkan bahwa Malik berargumen, tidak seorang pun ahli hukum atau tradisi pemikiran hukum yang berhak memiliki klaim eksklusif  atas kebenaran Tuhan, sehingga khalifah tidak memiliki wewenang untuk mendukung mazhab tertentu dan melarang mazhab-mazhab lain. (Syah Wali Allah, al-Inshaf, hlm. 12; al-Suyuthi, Ikhtilaf al-Madzahib, hlm. 22-23; Dutton, The Origins of Islamic Law, hlm. 29; Crone dan Hinds, God’s Caliph, hlm. 86).

Lebih jauh lagi, seorang yang mempelajari hukum Islam akan mendapati sebuah pernyataan terkenal dari Abu Hanifah, “Saya yakin bahwa pendapat saya benar, tapi saya mengakui bahwa pendapat saya mungkin salah. Saya juga yakin bahwa pendapat lawan saya salah, tapi saya mengakui bahwa pendapat mereka mungkin benar.” (Ibn Hazm al-Zhahiri, Kitab al-Fashl, jilid II hlm. 46; Mahmashani, Falsafat al-Tasyri’, hlm. 42 [dengan redaksi yang agak berbeda].
Ada yang bilang juga, ini ungkapan al-Syafii, bukan Hanafi)

~Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan, Serambi 2004, hlm. 24~