Dalam True Crime, Steve Everett (Clint Eastwood), seorang jurnalis, melakukan investigasi jurnalistik untuk menyelamatkan Frank Beachum, seorang kulit hitam yang menunggu giliran eksekusi hukuman mati. Ia dituduh menembak mati seorang perempuan (kulit putih) penjaga toko yang sedang hamil tua saat ia merampok toko itu.Everett berhasil menemukan bukti kebenaran itu hanya beberapa saat sebelum Beachum menjalani eksekusi.

Kompas, 10 Maret 2003

Akhirnya Fabianus Tibo, Marinus Riwu, dan Dominggus da Silva dihukum mati. Akhirnya petani-petani itu ditembus peluru. Kerusuhan meletus setelah itu. Eksekusi ini menyisakan sekian pertanyaan, dan seakan menutup kemungkinan alternatif pembuktian, siapa yang benar-benar bersalah, siapa yang benar-benar dalang, siapa yang sebenarnya hanya menjadi korban.

Mungkin sebentar lagi, Amrozi dkk juga dieksekusi.

Diskusi tentang kasus Tibo bergulir. Ada yang keberatan Tibo dieksekusi sekarang karena 16 nama yang disebutkannya belum diusut. Ada yang menolak eksekusi karena Tibo bukanlah dalang. Ada yang menolak dieksekusi karena Tibo hanya korban. Ada yang menolak juga karena Tibo hanya punya dua pilihan: membunuh atau dibunuh. Ada yang menolak karena hukuman mati tidak manusiawi dan melanggar HAM.

Di pihak lain, ada yang mendukung Tibo dieksekusi karena telah terbukti bersalah dengan kejam membunuh dan menyebabkan kerusuhan. Ada yang mendukung karena jika tidak, akan terulang kejadian ini di kemudian hari. Ada yang mendukung karena dia non-Islam. Ada yang mendukung karena jika tidak, Amrozi juga tidak boleh dieksekusi.

Ada sekian pertanyaan lain yang terasa mengganjal, untuk kasus Tibo, Amrozi, atau siapapun yang dihukum mati:

– Apakah hukuman mati memang patut diberlakukan, sementara hak hidup seseorang adalah termasuk nonderogable rights dalam International Covenant on Civil and Political Rights? Apakah karena dia membunuh, maka lantas layak dibunuh? Apakah manusia bisa kehilangan kemungkinan untuk memperbaiki diri? Apakah kalau kita percaya bahwa manusia bertanggung jawab terhadap Tuhannya, kita tidak bisa kasih kesempatan untuk bertobat atau apapun namanya?

– Prolog tulisan ini mengutip tulisan di Kompas tentang kesalahan vonis. Di Amerika juga sempat terdengar kabar, vonis 18 tahun yang dijatuhkan kepada seorang warganya, terbukti salah setelah dia dipenjara selama beberapa belas tahun. Nah, gimana kalau ternyata orang yang divonis hukuman mati, di kemudian hari dia tidak terbukti bersalah? Siapa yang bertanggung jawab? Gimana kalau ternyata Tibo atau Amrozi berada dalam posisi: jika tidak membunuh, keluarganya akan dibunuh?

– Bagaimana kalau hukuman mati ternyata tidak lebih efektif daripada hukuman seumur hidup, misalnya? Bagaimana kalau dia justru menganggap hukuman mati lebih enak daripada hukuman seumur hidup? Bagaimana kalau justru mereka menginspirasi orang lain untuk berbuat yang sama karena hukuman mati adalah jalan heroisme? Di mana efek jeranya?

Tentu saja kita layak meragukan bahwa mereka-mereka akan sadar dan bertobat jika dipenjara seumur hidup misalnya. Tentu saja kita patut ragu karena bahkan di penjara pun Imam Samudera konon mampu mengendalikan pengeboman berikutnya. Tapi bukankah pertanyaan itu ditujukan pada security system di penjara kita? Bukankah kalau penjara kita bener, mereka justru bisa dimanfaatkan produktivitasnya di dalam penjara untuk berkarya dan kerja sosial? Bukankah setiap orang punya potensinya sendiri?

Bukankah lebih baik membebaskan orang yang bersalah daripada menghukum orang yang tak bersalah?

Entahlah….