Andai saat itu negosiasi Sukarno alot dan tak juga menghasilkan titik temu antara semua golongan yang kita sebut sebagai funding fathers Indonesia, bisa jadi dasar negara kita adalah Gotong Royong.

Negara Gotong Royong adalah tawaran terakhir Sukarno jika Pancasila dan Trisila tidak disepakati. Dalam pidato panjangnya di depan Dokuritu Zyunbi Tyoosakai pada tanggal 1 Juni 1945 (yang kemudian diputuskan sebagai hari lahir Pancasila), Sukarno menawarkan tiga opsi untuk merumuskan apa yang disebut sebagai Philosofische grondslag (“pundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi”). Opsi itu adalah 5 sila, dan kemudian bisa diperas menjadi 3 sila, dan kemudian bisa diperas menjadi 1 sila (Eka Sila). Eka sila itulah Gotong Royong.

Sukarno merumuskan Gotong Royong dengan penjelasn yang clear, yang menunjukkan kecerdasannya sebagai pendiri sebuah bangsa:

Sebagai tadi telah saya katakan: kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus men-dukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Van Eck buat indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, – semua buat semua ! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong”. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong! Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong!

(Tepuk tangan riuh rendah).

“Gotong Royong” adalah faham yang dinamis, lebih dinamis dari “kekeluargaan”, saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu faham yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo satu karyo, satu gawe. Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini, bersama-sama ! Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong!

(Tepuktangan riuh rendah).

Prinsip Gotong Royong diatara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia.

Namun ternyata kemudian para funding fathers kita menyepakati lima sila yang ditawarkan Sukarno, yang dalam pidatonya saat itu dirumuskan dalam lima prinsip:

  1. Kebangsaan Indonesia.
  2. Internasionalisme, – atau peri-kemanusiaan.
  3. Mufakat, – atau demukrasi.
  4. Kesejahteraan sosial.
  5. Ketuhanan

Lalu jadilah rumusan Pancasila seperti sekarang ini.

Lalu saya berandai-andai: Andai urutan lima prinsip itu tak berubah. Andai tawaran lima itu ditolak dan lalu disepakati bahwa dasar negara kita adalah Eka Sila. Andai….

Indonesia tak akan terpecah belah seperti ini, atau sebaliknya. Indonesia tak akan semiskin ini, atau sebaliknya. Indonesia tak akan sekorup ini, atau sebaliknya.

Yang jelas, Indonesia akan menjadi negara yang sangat berbeda.