Konon, ia adalah orientalis sejati, yang bukan hanya mengkritik pedas seluruh terminologi dan sejarah Islam. Ia adalah murid langsung dari Montgomery Watt, salah satu orientalis yang sangat populer dan menjadi rujukan banyak orang. Ia bicara banyak tentang Alqur’an, Sejarah Muhammad, tentang Mu’tazilah, dan doktrin-doktrin Islam.

Baginya, Islam adalah agama yang totalitarianistik, mengatur seluruh kehidupan manusia pemeluknya dari A sampai Z, dari hidup sampai mati. Tentang Muhammad, ia mengumpulkan banyak bahan yang berujung pada kesimpulan bahwa Muhammad adalah nabi palsu, penipu, tukang kawin, haus darah. Baginya, sejarah Muhammad perlu dipertanyakan validitasnya, karena sejarah pertama yang dianggap valid tentang Muhammad ditulis oleh Ibn Ishaq, 120 tahun setelah Nabi wafat. Konsekuensinya, proses verifikasi dan pencarian data sejarahnya pasti penuh reduksi dan kesilapan.

Tentang Alqur’an, seperti para orientalis lain sebelumnya, ia mempertanyakan proses kodifikasi yang kental dengan nuansa politis. Banyak versi berbeda dari al-Qur’an dibakar dan dilenyapkan untuk kepentingan penyeragaman teks al-Qur’an.

Baginya, adalah salah menganggap Mu’tazilah sebaga satu kelompok free-thinker, pemikir bebas. Menurutnya, Mu’tazilah memiliki dua kelemahan mendasar: 1) Mereka tetap berbasiskan al-Qur’an dan sunnah, yang sudah jelas membatasi kebebasan mereka. 2) Kebebasan mereka tidak teruji sebagai kebebasan yang ideologis, karena pada saat kekuasaan ada di tangan kelompok ini, mereka memberangus kebebasan yang lain.

Bukan hanya kalangan konservatif dan dundamentalis Islam yang tidak terima dengan semua asumsi dan analisanya itu. Kalangan moderat dan liberal pun merasa bahwa dia sudah kebablasan. Ia bukan lagi pengritik Islam, tapi pembenci Islam, dan berorientasi menjatuhkan Islam dengan cara apapun. Secara ilmiah, ia dianggap curang dan tak jujur, karena hanya mengumpulkan antologi kebencian dan persepsi negatif tentang Islam. Ia tak melirik sedikitpun kontribusi positif Islam dalam kemajuan peradaban dunia.

Belakangan, konon ia terinspirasi oleh Bertrand Russel yang menulis esai berjudul Why I am Not a Christian. Ia menulis buku berjudul Why I am not a Moslem.

Tesis utamanya, ia membuat tipologi model keberagamaan muslim. Ia menyebut Islam satu, Islam dua, dan Islam tiga.

Islam satu adalah Islam tekstual, muslim mendasarkan seluruh hidupnya pada al-Qur’an dan Sunnah secara letterlijk, tekstual, bibliolatrik. Bagi kelompok model ini, tak ada kompromi dengan ruang dan waktu, tak ada kompromi dengan konteks, kultur, dan perkembangan peradaban.

Islam dua adalah Islam yang telah diinterpretasi, Islam tafsir. Apa yang dirumuskan para ulama sebagai fikih termasuk dalam kategori ini. Apa yang disebut ijma’ dan qiyash ada di dalamnya. Apa yang dikenal sebagai tafsir kontekstual, pembaruan Islam, ada di dalamnya.

Islam tiga adalah apa yang secara aktual dan faktual dijalani oleh para penganut Islam. Kemajuan peradaban yang dihasilkan oleh kalangan muslim adalah contohnya. Ilmu kedoteran, arsitektur, teknologi, yang dihasilkan oleh para muslim dan dianggap sebagai kemajuan peradaban, masuk kategori ini. Ia memasukkan Abu Nuwas, al-Razi, Ibn Sina, al-Kindi, dalam kategori ini.

Kesimpulannya kira-kira: Islam akan maju jika para penganutnya memilih Islam tiga sebagai model keberagamaanya.

Lebih jauh, melalui buku itu ia ingin menegaskan bahwa ia telah keluar dari Islam dan menjadi agnostis.

Belakangan, ia menegaskan pilihannya dengan membuat lembaga bernama Institute for the Secularisation of Islamic Society.

Ia adalah Ibn Warraq. Ini adalah nama samaran dari seseorang yang hingga sekarang belum mengaku secara publik. Sepertinya ia sudah siap dari awal bahwa Islam mengandung elemen kekerasan yang mengancam hidupnya. Kasus Salman Rushdie dan koran Jyllands Posten membuktikan kekhawatirannya.

Pada kasus kartun Denmark Jyllands Posten, bersama beberapa intelektual, termasuk Salman Rushdie dan Ayaan Hirsi Ali, ia menandatangani sebuah petisi berjudul MANIFESTO: Together facing the new totalitarianism.

Kesimpulan saya, jika Islam terus menerus dihadirkan dan direpresentasikan dengan wajah kerasnya, bukan tidak mungkin virus Warraqisme akan menggejala. Jika Islam identik dengan kekerasan, alih-alih tertarik dengan Islam, akan semakin banyak orang membencinya.

Islam ya’lu wala yu’la ‘alaih akan terwujud secara permanen justru ketika ia datang membawa kabar damai, membebaskan, menentramkan, dan mampu berdialog dengan perubahan.