Baca juga prolog untuk masuk ke pembahasan pasal RUU KUHP ini dan pasal 341.

Pasal 342

Setiap orang yang di muka umum menghina keagungan Tuhan, firman dan sifat‑Nya, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Kategori IV.

Pertanyaan tentang definisi dan batasan penghinaan seperti pada pasal 341 berlaku juga untuk pasal ini. Begitu juga dengan soal subyek, obyek hukum, dan motif.

Yang perlu diperjelas lagi adalah soal definisi ”keagungan Tuhan”, ”firman Tuhan”, dan ”sifat Tuhan”.

Pertama, pasal ini jelas bias agama besar—untuk tidak mengatakan bias Islam. Jelasnya, apakah semua agama memiliki definisi—apalagi yang konkret–tentang keagungan, firman, dan sifat Tuhan? Jangankan masuk ke wilayah tiga kategori itu, definisi tentang Tuhan saja bisa berbeda antara agama satu dan lainnya. Sebagian kita menganggap Tuhan orang Islam sama dengan Tuhan orang Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Sebagian besar yang lain tidak bisa menerimanya. Sebagian yakin bahwa Tuhan itu mewujud, konkret, memiliki nama dan sifat. Sebagian yang lain percaya bahwa yang disebut Tuhan adalah esensi, ruh, tak berbentuk sesuatu yang bisa dibayangkan manusia. Sebagian yang lain lagi yakin bahwa Tuhan bersemayam dalam akal kita. Tuhan hanyalah causa prima, dan setelah itu, manusia sendirilah yang menentukan segala kehidupannya.

Lalu, Tuhan siapa atau Tuhan yang mana yang dimaksud dalam pasal ini?

Kedua, tentang keagungan Tuhan. Apa yang disebut keagungan Tuhan? Jika ada kawan kita dari agama lain yang percaya bahwa patung atau arca adalah representasi Tuhan dan karena itu mereka mengagungkannya, lalu kita bilang ”Arca koq disembah…” apakah ini yang disebut menghina keagungan Tuhan? Jika saya percaya bahwa Tuhan saya berbeda dengan Tuhan kawan saya yang Nasrani, dan sebagai konsekuensi dari keyakinan politheis saya lalu saya bilang bahwa Tuhan kaum Nasrani ”tak Agung” karena Tuhan saya hanya satu dan yang lain bukan, apa hakim harus mengadili saya?

Ketiga, tentang firman Tuhan. Apakah yang disebut firman Tuhan itu bunyi firmannya ataukah ”cetakan” firmannya? Jika dilihat bahwa pada pasal berikutnya ada istilah ”kitab suci”, kemungkinan yang dimaksud dengan ”firman” adalah makna pertama: bunyi firmannya. Lalu, tahukah para perumus pasal ini bahwa tak semua agama yang ada di Indonesia ini memercayai apa yang disebut sebagai firman Tuhan? Dalam kasus Islam misalnya, tahukah mereka bahwa ada sekian perselisihan tentang versi Alquran mana yang benar dan Alquran mana yang salah? Tahukah mereka ada sekian konflik dan nuansa politik pada zaman Umar ibn Khattab dan Utsman ibn Affan ketika proses kodifikasi Alquran dilakukan? Lalu apakah perbedaan pemahaman dan tafsir terhadap satu ayat, misalnya, bisa didefinisikan sebagai penghinaan firman? Tahukah mereka bahwa persoalan paling krusial kasus Ahmadiyah misalnya, adalah pemaknaan kata ”khataman-nabiyyin” dengan ”cincin para nabi/nabi yang paling utama” sementara kalangan mainstream memaknainya dengan ”nabi terakhir”? Tahukah mereka bahwa ada sekian ribu pemaknaan yang berbeda antara ulama satu dengan lainnya, ada sekian ratus tafsir ditulis, bahkan sampai sekarang?

Keempat, tentang sifat Tuhan. Siapa yang sebenarnya merumuskan sifat Tuhan? Apakah semua agama di Indonesia ini memiliki rumusan sifat Tuhan itu? Lalu, seperti apa bentuk konkret penghinaan terhadap sifat Tuhan? Jika seseorang merasa bahwa ”Tuhan tak Adil” karena ia sering kena musibah, ia bisa dihukum karena itu? Atau, dalam Islam misalnya, Allah diyakini memiliki sifat pendendam (al-Muntaqim) yang dalam keseharian kita dimaknai sebagai sifat negatif, maka ketika kita di muka umum bicara ”Tuhan Maha Pendendam” kita bisa diadili karena itu?