Gadis kecil nan lincah itu bernama Roja. Umurnya menginjak 13 tahun. Ia bisa cerita banyak tentang keluarga dan lingkungannya. Dengan jernih ia bisa cerita tentang orang kaya yang menindas dan tak peduli pada orang miskin di sekitarnya, tentang sistem kasta yang menjerat dirinya sejak ia dilahirkan di muka bumi, tentang agama yang tak punya jawaban apapun terhadap penindasan dan kemiskinan. Ia adalah satu dari 74 anak yang beruntung bisa mengenyam pendidikan gratis di sebuah sekolah kecil bernama Bandhavi.

Sekolah ini didirikan oleh beberapa aktivis yang lama berjuang mengadvokasi kemiskinan dan penghapusan system kasta di India. Di luar 74 anak itu, ribuan, bahkan mungkin jutaan, anak lainnya tak bisa mengenyam pendidikan secara normal. Pada level pendidikan dasar, sebagian dari mereka memang boleh bergabung dengan pendidikan umum. Namun mereka harus mengikuti pendidikan di luar jendela, di luar ruang kelas. Mereka tak berhak duduk sebangku sekelas dengan anak-anak normal lain.

Roja adalah seorang Devadasi. Sejak umur 11 tahun, Ibunya yang juga devadasi sudah mendedikasikan Roja untuk menjadi salah satu bagian dari tradisi kuno yang masih bertahan itu. Devadasi adalah pelayan tuhan. Ia melayani “orang-orang yang dekat dengan Tuhan” dalam arti yang sebenarnya. Ia dididik menari, menyanyi, dan secara mental disiapkan menjadi “hidangan” para Yellamma (para pemimpin agama) itu. Ia tak berhak menyandang status istri, meski diperlakukan seperti istri (gundik).

Dalam kategori genetik, Roja adalah juga anak dari seorang Yellamma, karena ibunya juga seorang devadasi. Namun devadasi bukan istri, dan anaknya tidak berhak mendaku anak Yellamma.

Roja masih beruntung. Ia bisa menghirup udara bebas, kecuali pada saatnya nanti Yellamma yang telah memilihnya membutuhkannya. Ia lebih beruntung dari para pendahulunya, ketika para penguasa candi menyediakan tempat khusus bagi para devadasi, dan menampungnya di sana.

Dalam pandangan ibunya, ia juga patut merasa beruntung, karena menjadi devadasi mengangkat derajatnya. Menjadi devadasi berarti melayani Tuhan. Menjadi devadasi berarti menjadi bagian dari kehidupan pemilik kasta tinggi. Menjadi devadasi berarti hak hidupnya dilindungi.

Ia beruntung. Ia adalah golongan untouchable, dalit. Golongan di luar empat kasta ini tak boleh berhubungan dengan kasta manapun. Ia harus bertransaksi dan berjual beli di antara mereka sendiri. Ia harus memiliki candi sendiri untuk beribadah. Ia bahkan tak boleh lewat di depan rumah para pemilik kasta. Apalagi bersentuhan. Jika kebetulan bertemu di jalan, ia harus menundukkan muka dan menunggu sampai pemilik kasta melewatinya. Dalam satu desa, perkampungan dalit minimal harus berjarak 500 meter dari perkampungan pemilik kasta.

Pada suatu masa, para dalit juga dipekerjakan oleh para pemilik kasta. Mereka bekerja tanpa gaji. Mereka hanya memiliki hak mendapatkan jatah makan, jika ada sisa makanan dari para tuan tanah. Itupun dengan cara dilemparkan dari dalam rumah atau dari kejauhan.

Seorang dalit tak bisa dan tak akan bisa berubah menjadi pemilik kasta. Seorang dalit bisa kaya, tapi tak bisa berkasta.

Saat ini ada sekitar 180 juta warga India dalit. Sekitar 60 juta lainnya tersebar di Srilanka, Nepal, dan beberapa wilayah lain. Jumlah ini lebih dari total warga negara Indonesia.

Apakah Islam atau Kristen punya jawaban terhadap mereka? Ternyata tidak. Meski sistem kasta ini didasarkan pada ajaran Hindu, Islam dan Kristen tak mampu membebaskan mereka. Dus, kita bisa temukan kemudian, di komunitas Islam ada juga dalit Islam. Di komunitas Kristen, ada pula dalit Kristen.

Dalam praktek saat ini, tak semua negara bagian menerapkan devadasi system, meskipun sistem kasta dan dalit masih berjalan. Hanya beberapa negara bagian seperti Karnataka State dan Andhra Pradesh State. Itupun sebenarnya secara resmi pemerintah negara bagian sudah melarangnya. Namun para pemimpin agama Hindu seperti tak peduli, dan pada dasarnya mereka memiliki posisi tawar tersendiri berhadapan dengan pemerintah. Saat ini, tercatat lebih dari 40 ribu devadasi di seluruh India.

islamlib