water

Ini tentang Chuyia, gadis 7 tahun yang ditinggal mati suaminya sebelum ia sadar bahwa ia adalah seorang istri. Gadis yang hidupnya bahkan masih bergantung pada ibunya.

Ini tentang Kalyani, gadis 25an tahun yang ditinggal mati suaminya pada umur 9 tahun, bahkan sebelum ia sempat bertemu suaminya itu.

Ini tentang Auntie, nenek 80-an tahun yang hanya punya satu keinginan: makan ladoo dan meninggal di luar rumah.

Ini tentang Shakuntala, satu-satunya janda berpendidikan yang bisa baca tulis. Ia adalah Didi karena kepintarannya.

Ini tentang Madhu, penguasa para janda yang memegang kendali manajemen rumah janda, termasuk mengatur pengiriman dan transaksi para janda kepada lelaki hidung belang. Ia adalah Didi.

Ini tentang Gulabi, seorang banci yang jadi perantara transaksi prostitusi antara Madhu dan para lelaki hidung belang.

Ini tentang Narayan, pemuda tampan yang baru menyelesaikan masternya dalam bidang hukum.

Ini tentang Rabindra, sahabat karib Narayan yang kaya dan berkehidupan ala Amerika.

Ini tentang Kaluu, seekor anjing milik Kalyani ynag disembunyikan dalam kamarnya karena para janda lain akan melarangnya memelihara di dalam ashram. Seekor anjiang yang pada saatnya mempertemukannya dengan Narayan.

Ini tentang Gandhi, yang pada saat dibebaskan oleh penjajah inggris berkata di depan ratusan penduduk yang mengelu-elukannya: “Untuk waktu yang lama, aku percaya bahwa Tuhan adalah Kebenaran, tapi saat ini aku percaya bahwa Kebenaran adalah Tuhan”.

Ini tentang air, air suci dari sebuah sungai yang dipercaya mampu menjawab segala hal, di samping menjadi bagian penting dari hidup dan kehidupan.

Ini tentang India, 1938.

Sesegera mungkin setelah suaminya meninggal, oleh orang tuanya Chuyia dikirim ke rumah janda, ashram khusus untuk para janda di sudut sebuah kampung, di tengah komunitas pinggiran berkasta rendah. Yang disebut ashram adalah sebuah rumah dengan beberapa kamar di dalamnya.

Para janda ditampung di rumah itu karena menjadi janda adalah menjadi polutan, mengotori penduduk lain jika mereka bersentuhan atau berhubungan dengan mereka. Berdasarkan Kitab Hindu yang disebut Manusmrithi, seorang janda hanya memiliki tiga pilihan: ikut membakar diri bersama jasad suaminya sesaat setelah suaminya meninggal, tinggal di rumah janda seumur hidupnya, atau jika disetujui oleh keluarga dan keluarga suaminya, ia bisa dinikahi oleh saudara laki-laki suaminya.

Seminggu sekali para janda itu mendengan ceramah dari seorang Brahmin, seseorang yang punya wewenang membaca kitab suci dan mengajarkannya kepada khalayak.

Hari pertama, Chuyia tidak tahu apa artinya ia dikirim ke ashram ini, dan apa artinya menjadi janda dan memakai (dan hanya memakai) pakaian putih-putih seperti pakaian ihram. Ia masih berharap esok hari ibunya akan menjemputnya pulang ke rumah.

Hari berikutnya, Chuyia tahu bahwa dirinya tak mungkin pulang. Ia masih terus berkata ibunya esok akan menjemputnya, sekadar menenangkan dirinya dan membayangkan bahwa ia tak selamanya terkurung di tempat itu.

Chuyia berkawan dengan Kalyani yang tinggal di kamar khusus lantai 2, karena para janda di lantai bawah tak mau terpolusi olehnya. Mereka hanya tahu, Kalyani adalah janda pelacur. Mereka hanya tahu, hampir setiap hari Madhu mengirimnya menyeberang sungai untuk “melayani” orang kaya berkasta, dengan bayaran yang diatur oleh Madhu.

Bersama Chuyia, Kalyani akhirnya mengenal Narayan, lelaki yang terpesona padanya pada pandangan pertama. Lelaki pengagum Gandhi. Narayan memberi harapan. Kalyani menaruh harapan. Chuyia menjadi perantara yang baik.

Narayan melawan takdir, melawan tradisi. Dengan tegas ia menentang ibunya dengan niatnya mengawini seorang janda. Sang ibu menangis meratap.

Chuyia polos membocorkan rencana pernikahan Kalyani. Madhu Didi meradang, marah karena Kalyani melawan tradisi, melawan agama. Juga karena ia akan kehilangan penghasilan yang disebutnya “pertahanan hidup” para janda. Ia memotong rambut indah Kalyani dan menguncinya di dalam kamar.

Shakuntala Didi tak bias melawan agama, tradisi. Ia bertanya pada sang Brahmin pada kesempatan ceramah. Brahmin menjelaskan posisi janda dalam Manusmrithi, seraya menambahkan bahwa sebenarnya India memiliki hukum negara yang mengijinkan janda menikah lagi. Shakuntala meradang, mempertanyakan kenapa sang Brahmin bahkan tak pernah menyebut bahwa ada hukum seperti itu. Dengan enteng sang Brahmin menyatakan, menegaskan, para Bahmin tidak melaksanakan hukum negara, karena hukum itu tak menguntungkan bagi para Brahmin. Ia seolah menegaskan bahwa hukum adalah soal untung rugi, bukan soal manusia dan kemanusiaan.

Shakuntala marah. Shakuntala melabrak Madhu, dan memaksa Madhu memberikan kunci pembebasan Kalyani. Shakuntala tak pedul bahasa agama Madhu. Kalyani bebas.

Madhu meradang, dan menemukan Chuyia sedang mencari harapan. Madhu mengirim Gulabi membawa Chuyia menyeberang, “melayani” sang Tuan. Chuyia hanya tahu, menyeberang berarti harapan.

Chuyia meradang, tak paham apa arti “melayani”.

Narayan menemukan harapan, menjemput Kalyani menyeberang pulang. Kalyani meragu begitu melihat rumah Narayan. Kalyani mengenal rumah itu. Kalyani mutung, meminta Narayan mengantarnya kembali, dan meminta Narayan bertanya kepada ayahnya.

Narayan yakin, sang ayah berkehidupan Amerika. Sang ayah liberal. Sudah pasti akan mengijinkannya melabrak tradisi. Narayan tak sadar, ayahnya adalah pelanggan Kalyani. Ayahnya menolak, dan hanya membolehkan Narayan mempergundik Kalyani, bukan memperistrinya. Narayan meradang, tak habis pikir.

Kalyani sadar ketidakmungkinan itu. Ia mencoba kembali ke ashram, kembali ke kehidupannya. Madhu menolak karena sebelumnya sudah mengultimatum: “Sekali kau keluar dari rumah ini, aku tak akan menerimamu lagi.”

Kalyani meradang, melangkahkan kaki menuju sang Sungai, air suci. Kalyani melangkah memasuki sungai, tanpa bermaksud kembali. Kalyani melenyap.

Narayan meradang, tak tahu jawab, rak paham misteri. Ia mengutuk sistem. Mengutuk politisasi agama.

Shakuntala meradang, menemukan Chuyia menjadi korban.

Narayan pasrah, mencari harapan pada Gandhi.

Shakuntala berjuang, menemukan harapan pada Gandhi.

Shakuntala membopong Chuyia, mencoba mengais harapan pada Gandhi, mengejar kereta, memasrahkan kebebasan Chuyia padanya. Tak seorangpun peduli.

Hanya Narayan. Chuyia beralih tangan. Narayan membopong Chuyia, melaju bersama kereta Gandhi.

 

Ini tentang sebuah film, ditulis dan disutradarai oleh Deepa Mehta. Meski banyak protes menderanya, ia nekat. Ia percaya, kebenaran harus dikatakan, harus ditunjukkan. Ia percaya, ini bukan hanya India 1938. Ini juga India 2005.

Ini tentang perjuangan melawan penindasan. Ini tentang kebenaran.

watersss.jpg