15. Prohibition of discrimination on grounds of religion, race, caste, sex or place of birth.(1) The State shall not discriminate against any citizen on grounds only of religion, race, caste, sex, place of birth or any of them.(2) No citizen shall, on grounds only of religion, race, caste, sex, place of birth or any of them, be subject to any disability, liability, restriction or condition with regard to

(a) access to shops, public restaurants, hotels and places of public entertainment; or

(b) the use of wells, tanks, bathing ghats, roads and places of public resort maintained wholly or partly out of State funds or dedicated to the use of the general public.

(3) Nothing in this article shall prevent the State from making any special provision for women and children.

(4) Nothing in this article or in clause (2) of article 29 shall prevent the State from making any special provision for the advancement of any socially and educationally backward classes of citizens or for the Scheduled Castes and the Scheduled Tribes.

The Constitution of India, Article 15

India adalah contoh unik negara demokrasi di Asia. Mayoritas penduduknya beragama Hindu, tapi presidennya muslim, dan perdana menterinya beragama Sikh. Tapi India juga adalah contoh lain betapa lemahnya konstitusi berhadapan dengan tradisi yang ditopang oleh kepercayaan agama. Betapa mandulnya hukum negara di tangan para penguasa berkasta. Meski dengan sangat tegas disebutkan dalam konstitusi bahwa diskriminasi berdasarkan agama, kasta, warna kulit, dan kelas sosial tidak boleh ada lagi di India, namun fakta di lapangan sebaliknya.

Berdasarkan kitab suci agama Hindu, Rig Veda, Brahma melahirkan empat golongan manusia yang disebut dengan Varna (warna dalam bahasa Indonesia). Brahmin, kasta tertinggi, merepresentasikan kepala Brahma. Ia adalah golongan pemikir. Golongan ini memiliki hak untuk mengakses dan mengajarkan Veda, kitab suci Hindhu. Kshatrya, kasta kedua, merepresentasikan bahu Brahma. Mereka adalah para pengawal dan tentara abdi negara.

Vaysha, kasta ketiga, mereprentasikan perut Brahma. Mereka adalah pedagang, pebisnis, dan tukang. Shudra, kasta terakhir, adalah golongan pelayan, merepresentasikan kaki Brahma.

Di luar empat kasta itu adalah golongan yang disebut Panchamas, golongan untouchables, yang lebih sering disebut Dalit. Dalit sendiri berarti rusak, broken people. Golongan di luar empat kasta ini tak boleh berhubungan dengan kasta manapun. Mereka terlahir sebagai manusia kotor, manusia setengah manusia. Mereka bahkan tak boleh lewat di depan rumah para pemilik kasta. Apalagi bersentuhan. Jika kebetulan bertemu di jalan, mereka harus menundukkan muka dan menunggu sampai pemilik kasta melewatinya. Mereka harus bertransaksi dan berjual beli di antara mereka sendiri. Mereka tak boleh memasuki candi.

Dalam satu desa, perkampungan Dalit minimal harus berjarak 500 meter dari perkampungan pemilik kasta. Dalam sebuah warung kopi, seorang Dalit akan dilayani dengan gelas yang berbeda dari gelas pemilik kasta. Seorang Dalit adalah polutan, yang akan mengotori pemilik kasta. Meski begitu, hidup mereka bergantung pada pemilik kasta. Mereka dipekerjakan untuk hal-hal yang dianggap kotor; membersihkan dan membuang kotoran para manusia berkasta, mencuci dan membersihkan jasad manusia berkasta dan bangkai binatang. Mereka juga dipekerjakan di sawah-sawah dan ladang pemilik kasta. Mereka bekerja tanpa gaji. Mereka hanya memiliki hak mendapatkan jatah makan, jika ada sisa makanan dari para tuan tanah. Itupun dengan cara dilemparkan dari dalam rumah atau dari kejauhan.


Jika secara umum warga Dalit tidak bisa bersentuhan dengan warga pemilik kasta, tidak begitu dengan para perempuannya. Untouchability berlaku untuk semua segi kehidupan Dalit, kecuali relasi seksual. Relasi seksual ini bahkan menjadi bagian dari kepercayaan Hindu. Sebagian perempuan Dalit didedikasikan sebagai seorang Devadasi. Ini adalah sebutan umum. Di beberapa tempat, mereka menggunakan istilah berbeda: Jogins, Basavis, Kalawants, Paravatis, atau Mathammas.


Devadasi adalah perempuan yang dipersembahkan untuk melengkapi ritual dan perayaan-perayaan resmi dalam agama Hindu. Mereka akan menari dan menyanyi, sebagai bagian dari upacara. Mereka adalah pelayan Tuhan, sebagaimana melekat dalam nama mereka, Deva (Tuhan, dewa) Dasi (pelayan).

Dan representasi dari Tuhan atau dewa adalah para pendeta, pemimpin agama yang memiliki wewenang mengatur segala kepentingan agama Hindu dan Mandir (candi). Sebagai pelayan Tuhan, hidup dan aktivitas mereka bergantung pada instruksi dan ketentuan yang diberikan para wakil Tuhan pada mereka.

Berikut adalah perjalanan saya mengunjungi beberapa kampung Dalit.

Parangipettai

Ini adalah kampung di pesisir pantai West Bengal, Tamilnadu. Warga Dalit tinggal terpisah dengan para nelayan lainnya. Kebanyakan mereka adalah buruh harian yang bekerja tanpa modal. Artinya, perahu yang dipakai adalah milik warga berkasta. Kadang mereka digaji berdasarkan ikan yang diperolehnya, tapi kebanyakan digaji harian dengan jumlah tetap.

Ketika tsunami melanda kawasan Asia, kampung ini, dan 48 kampung lain di distrik Chennai juga tersapu oleh gelombang air mematikan itu, rusak parah. Tercatat 70 warga Dalit meninggal, 22 hektar ladang dan sawah Dalit hancur, dan lebih dari 12.000 warga kehilangan tempat berteduh.

Selama dua hari semua warga, Dalit maupun warga berkasta, panik dan lari tunggang langgang menghindar dari terjangan air. Pada momentum itulah warga Dalit bisa berinteraksi dan berkumpul bersama warga berkasta di pengungsian. Tsunami adalah bencana, sekaligus momentum bersejarah bagi warga Dalit. Pada saat itu mereka tak lagi unthoucable.

Namun memasuki hari ketiga, ketika kesadaran sudah mengalir kembali ke otak, ketika kepanikan berangsur surut, bias kasta kembali muncul. Warga berkasta mengusir warga Dalit dari pengungsian sementara. Mereka harus mengungsi terpisah. Ketika bantuan datang dari pemerintah dan NGO, mereka habis di pengungsian warga berkasta, dan melarang para pemberi bantuan untuk mengirimkan bantuan ke kampung Dalit. Jika mereka sudah merasa berlebih, barulah mereka mau mentisakan sedikit untuk kampung Dalit.

Mereka juga menghalangi pemerintah dan NGO mengidentifikasi kerusakan kampung Dalit, dan menghalangi warga kampung Dalit untuk melaporkan data warga kampung mereka yang meninggal. Mereka tahu, jika pemerintah mengganti kerusakan, memberi bantuan kepada keluarga yang ditinggalkan, dan membangun rumah untuk warga Dalit, itu berarti ancaman untuk mereka. Mereka akan kehilangan buruh mereka, karena warga Dalit akan mendapatkan modal yang cukup untuk hidup mandiri. Dalam hal ini pejabat pemerintah tak bisa berbuat banyak. Selain karena kampung Dalit biasanya di belakang kampung berkasta dan mereka memblokir jalan masuk, juga karena kebanyakan pejabat pemerintah adalah warga berkasta.

Saat itulah beberapa NGO mulai bergerak untuk kepentingan kaum Dalit. Mereka mendesak pemerintah untuk tidak diskriminatif. Mereka juga bekerja langsung membangun pengungsian dan rumah-rumah warga kampung Dalit, memberi sumbangan perahu untuk para nelayan Dalit, dan mempublikasikan besar-besaran di media tentang diskriminasi yang terjadi. Dan karena saat itu pandangan dunia sedang tertuju ke tsunami, media internasional juga ikut bicara. Mau tak mau, pemerintah mulai bersikap tegas terhadap para warga berkasta yang menghalangi bantuan untuk korban tsunami.

Phattarakottai

Di kampung ini, warga Dalit terpisah satu kilometer dengan warga berkasta. 200 keluarga Dalit tinggal di sini, dan 500 warga berkasta tinggal di sebelahnya. Kebanyakan warga Dalit adalah petani penggarap sawah dan ladang milik warga berkasta. Anak-anak warga Dalit juga berkesempatan bersekolah di tingkat sekolah dasar warga berkasta, meski tentu saja dengan bangku terpisah.

25 Oktober 2006 adalah hari pemilihan kepala desa yang disebut Panchayat. Oleh karena kesadaran warga Dalit terhadap politik yang setiap saat meningkat, dan dijamin oleh hukum resmi negara, mereka juga merasa memiliki hak untuk berpartisipasi dalam pencalonan kepala desa. Saat itu muncullah satu nama dari warga Dalit sebagai kandidat, sementara dari warga berkasta muncul empat nama. Keempat calon dari warga berkasta itu tak mau saling mengalah dan masing-masing merasa memiliki kepercayaan diri dan suara yang cukup untuk maju. Dus, majulah keempat calon itu.

Warga berkasta mulai panik terhadap kemungkinan warga Dalit memenangi pemilihan. Kemenangan warga Dalit berarti ancaman bagi mereka. Kemenangan warga Dalit berarti kesempatan mereka untuk lepas dari ketergantungan dan penindasan. Kemenangan warga Dalit berarti warga berkasta akan harus tunduk di bawah aturan warga kelas dua. Dan itu adalah pelecehan.

Tiga hari menjelang pemilihan, sekitar 1000-1500 warga berkasta mendatangi kampung Dalit dengan parang, golok, dan pentungan. Kontan, warga Dalit lari tunggang langgang menyelamatkan diri karena tak menyadari apa yang terjadi. Sebagian warga mengadakan perlawanan seadanya karena ingin melindungi rumah dan keluarga mereka.

Mereka menghancurkan apapun yang ada di hadapannya, membakar beberapa rumah, merusak barang-barang berharga yang ditinggal lari pemiliknya, memasukkan racun dan puluhan sepeda milik warga Dalit ke dalam sumur utama, sumur besar yang menjadi sumber air utama warga.

Beberapa warga Dalit, dan juga warga berkasta, terluka. Namun, polisi kemudian menangkap 23 warga Dalit dan seorang warga berkasta, meskipun selama sebulan kemudian polisi juga berjaga di sekitar kampung untuk menghindari terjadinya bentrokan berikutnya.

Akibatnya, bukan hanya warga Dalit tidak jadi berpartisipasi dalam pemilihan, setelah kejadian itu anak-anak warga Dalit tidak bisa lagi bersekolah di kampung warga berkasta. Mereka terpaksa pindah ke sekolah kampung lain yang jaraknya dua kilometer dari kampung mereka. Warga Dalit juga tidak lagi bisa bekerja di sawah dan ladang milik berkasta. Mereka terpaksa mencari alternatif pekerjaan di kota, sebagai buruh pabrik, buruh upahan, atau mengemis. Itupun mereka harus berangkat mencari kerja secara berbondong-bondong, karena mereka harus melewati kampung warga berkasta yang masih tetap mengancam keselamatan mereka. Tentu saja karena rata-rata pendidikan mereka rendah, kebanyakan mereka tak mampu bersaing dengan warga kota lain yang berpendidikan.

Tumkur

Ini adalah sebuah distrik di wilayah Bangalore utara, Negara Bagian Karnataka. Distrik ini terdiri dari 24 desa, dan kebanyakan desa itu juga memiliki kampung Dalit. 19 tahun yang lalu, sepasang suami istri datang dari Tamilnadu ke wilayah ini. Buat sang istri, ini adalah kampung halaman ibunya.

Mereka adalah MC Raj dan Jyothiraj. MC Raj adalah Master di bidang Filsafat, sementara Jyothi adalah Master di bidang manajemen. Mereka datang ke kampung itu dengan kesadarn penuh bahwa pengetahuan mereka hanya akan berguna jika mereka berinteraksi langsung dengan warga dan membangun kesadaran politik warganya.

Kesadaran filosofis MC Raj membuatnya tertarik untuk menggali kearifan lokal warganya, warga Dalit. Ia memulai penggaliannya dengan mengunjungi warganya dari desa ke desa, dari rumah ke rumah, mendengar segala masalah dan cara mereka menghadapi masalah. Bertahun-tahun ia melakukannya. Ia menyebut ini sebagai “kemampuan untuk membuang waktu” bersama warga. Ia menyindir para pegiat gerakan atau aktivis NGO yang hanya mengeksploitasi warga dan tak mau mendengar apa yang dibutuhkan dan dirasakan warga itu sendiri.

Ia sampai pada kesimpulan bahwa warga Dalit memiliki kepercayaan dan kearifan sendiri yang berbeda dengan mainstream Hindu, bahkan berbeda dengan Hinduisme itu sendiri. Ia percaya, Hinduisme datang belakangan dan mengeksploitasi kesederhanaan dan kearifan mereka ke dalam struktur Hinduisme yang mereka sebut sebagai Kasta.

Bersama Jyothi, ia mulai merumuskan kearifan yang menjadi kepercayaan ribuan tahun itu. Berdasarkan tuturan mereka sendiri, MC Raj kemudian menuliskannya dalam buku besar yang kemudian diberi judul Dalitology.

Bagi MC Raj, Dalitology atau kepercayaan Dalit memiliki semangat kesetaraan dan harmoni yang luar biasa. Kepercayaan ini berbasis pada tiga hal.

Pertama, earthcentric. Bumi adalah tempat berpijak, tempat kita hidup, yang memiliki spirit memproduksi, melindungi, membagi, dan juga memiliki kekuatan amarah jika manusia tidak menjaganya. Dalam hal ini, manusia adalah milik bumi, bukan sebaliknya. Bumi, dan segala isinya, memiliki bahasanya sendiri dan memiliki energi positif maupun negatif. Berdasarkan prinsip ini, warga Dalit adalah warga yang sangat terbuka dan ramah kepada siapapun yang dating kepada mereka. Siapapun yang mengunjungi rumah mereka akan meninggalkan energi positif bagi mereka.

Kedua, womancentric. Sebagaimana bumi, perempuan memiliki spirit membagi, memproduksi, dan melindungi. Karena itu Dalitology memiliki penghargaan yang tinggi terhadap perempuan. Perempuan adalah tiang penyangga kehidupan yang sangat penting.

Ketiga, bodycentric. Mereka percaya bahwa manusia digerakkan oleh sistem sel yang bekerja berdasarkan interaksi kita dengan energi yang terkandung dalam bumi dan isinya, juga energi dari manusia lain di sekitar kita. Berdasarkan prinsip ini, mereka tidak percaya kepada Tuhan sebagai pengatur segala kehidupan kita. Juga kepada kehidupan setelah mati. Bagi kepercayaan ini, setelah mati manusia akan menjadi gelombang, dan gelombang itu juga memiliki energi positif yang bisa bermanfaat bagi manusia yang masih hidup, juga energi negatif yang berpotensi mencelakakan mereka.

Berdasarkan tiga prinsip itu, mereka kemudian merumuskan simbolisasi kepercayaan ini dalam bentuk seorang ibu yang menggendong anaknya di kepalanya. Mereka menyebutnya sebagai Booshakthi, berasal dari Boomi (bumi) dan Shakthi (kekuatan).

Meski awalnya mereka tidak menyebut kepercayaan ini sebagai agama, namun perlahan warga Dalit menganggap ini adalah agama mereka. Dan sebagian warga bahkan menganggap buku Dalitology sebagai kitab suci mereka.

Melalui Dalitology, dan spirit yang disebut sebagai Ambedkar Era, kepercayaan diri dan kesadaran politik warga Dalit mulai menguat. Saat ini, beberapa kepala desa di distrik ini dipegang oleh komunitas Dalit, dan sekarang mereka sudah mulai berpikir untuk berjuang di wilayah pemilu distrik. Ambedkar adalah Dr. Bhimarao Ambedkar, bapak konstitusi India, warga Dalit yang menjadi salah satu tonggak perjuangan pembebasan kaum Dalit.

Melalui spirit Ambedkar ini pula komunitas Tumkur menganggap agama mereka adalah politik mereka. Mereka meneriakkan slogan “Jai Bhim” (Long Life Bhim [Bhimarao]) sebagai simbol perlawanan mereka. Mereka juga juga menegaskan identitas mereka yang berbeda dengan identitas Hindu, dengan cara menggunakan Bindhi (pewarna yang dilekatkan pada dahi). Mereka memakai Bindhi berwarna biru, sementara Bindhi warga Hindu berwarna merah. Mereka menganggap warna biru ini penting sebagai identitas, sekaligus penegasan bahwa mereka adalah warga dengan prinsip ruang tak terbatas, seperti laut dan langit yang biru. Manuasia tak bisa membatasi ruang. Ruanglah yang membatasi manusia.

Spirit Ambedkar ini menemukan puncaknya pada 10 Januari 2000, ketika apa yang disebut oleh MC Raj sebagai Ambedkar Era dideklarasikan dan berhasil mengumpulkan 45.000 warga Dalit dalam satu lapangan terbuka.

Dimuat juga di: Syir’ah Online