Dimuat di The Torchbearers’ Newsletter, edisi 3/2008

“Negara mana yang paling miskin?” tanya Bapak Anand Krishna kepada 200 mahasiswa lebih yang memadati aula Assalam, One Earth Ciawi pada perayaan harlah (hari lahir) NIM (National Integration Movement) yang ketiga (11/4) silam. Generasi penerus bangsa atau – secara puitis Bung Hatta acapkali menyebut – Pahlawan dalam Hatiku – itu berasal dari 25 kampus dan 3 gerakan kemahasiswaan se-Jabodetabek.

Hadir pula malam itu, Kristan dari Jaringan Tionghoa Indonesia, Salman dari PMKRI, Nikson dari GMKI, Sdr. Arya Weda dari Pemuda Hindu Indonesia, Anick HT dari Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), Rektor Universitas Indonesia Prof. Gumilar R Soemantri, Sutradara Reza, Bapak Palar Batubara dari GMNI dan Bapak Sudharmadi dari Kantor Deppolhukkam.

Mayoritas peserta belum tahu bahwa USA ialah negara termiskin di dunia. Tahun 1929, pemerintah Amerika Serikat mengalami krisis keuangan parah sehingga untuk membiayai operasional negara mereka terpaksa meminjam dana kepada konsorsium 14 bank swasta (dulu masih 4 bank) yang tergabung dalam The Fed. Semua pajak yang ditarik dari masyarakat langsung masuk ke kantong mereka sebagai jaminan pengembalian utang dan mereka diberi hak pula untuk mencetak uang.

Ironisnya, ketika beliau memaparkan hal ini di depan 80-an orang di California September 2007 silam, hanya 2 orang yang mengetahui hal ini, yakni penulis naskah pidato Presiden Truman yang telah berusia 90 tahunan, dan seorang eksekutif perusahaan media.

Amerika adalah salah stu dari lima produsen senjata terbesar di dunia. Dan, ke-5 negara itu duduk sebagai anggota tetep Dewan Keamanan PBB. kemudian mereka pula yang mempersenjatai Hezbollah yang tadinya cuma parpol biasa, agar menjadi kekuatan bersenjata di Lebanon. Maka, rakyat Lebanon yang menjadi korban dan menanggung penderitaan dari konflik bersenjata antar kelompok di sana.

Kenapa mereka musti menjual senjata sekaligus menciptakan perang antara kedua belah pihak? Supaya bisa membayar utang dan bunganya kepada konsorsium perusahaan raksasa yang menjadi donor. Pada masa pemerintahan Megawati ada seorang mentri yang berani mengungkap fakta ini, tapi beliau justru dipecat seminggu kemudian.

Itulah sebabnya kenapa Bung Karno lantang mengatakan, “Go to hell with your aid!” Karena Sang Putra Fajar Penyambung Lidah Rakyat mengetahui semua hal ini. Pernyataan keras Bung Karno ini sebenarnya bukan ditujukan kepada rakyat atau pemerintah Amerika Serikat, tapi kepada konsorsium korporasi internasional ini.

Sekarang konsorsium korporasi itu sedang melirik Indonesia yang penuh dengan sumber daya alam dan manusia. Politik lama “devide et impera” sedang dimainkan di sini. Bila 250 juta manusia Indonesia in conflict maka tidak kepikiran lagi untuk makan. Yang melintas di benak cuma bagaimana caranya membeli senjata untuk mempertahankan diri.

Makanya, kita perlu membentengi diri kita sendiri dengan jati diri budaya bangsa. Bapak Anand Krishna mengingatkan bahwa para pemimpin kita di masa silam pun pernah berbuat salah. Kita musti belajar dari sejarah dan tidak mengulanginya lagi. Misalnya, Bung Karno yang menjadikan Pancasila menjadi 7 bahan indoktrinasi dan Pak Harto yang memberikan penataran P4. Jadilah Pancasila sebagai ideologi semata.

Hal itu justru menafikan esensi Pancasila sebagai – meminjam istilah dari Rektor UI – “Core Value” atau seperti kata Ki Hadjar, Saripati Budaya dan unggulan-unggulan dari setiap budaya Nusantara. Kesalahan ini musti diperbaiki dan beliau melihat mahasiswa sebagai satu-satunya harapan badi masa depan menuju Indonesia yang lebih baik.

Untuk mengimbangi kekuatan 14 korporasi raksasa ini Bapak Anand Krishna menggalakkan kembali falsafah gotong-royong dan kemandirian yang menjadi ruh Koperasi. Bung Hatta sempat menelurkan gagasan brilian ini, namun sayang Sang Putra Andalas belum sempat mpempraksisikannnya di sini. Tugas sejarah kita untuk melanjutkan visi beliau. Dan Alhamdulilah itu sudah kita rintis bersama dengan mendirikan Anand Krishna Global Cooperation di Bali, Joglosemar dan Jakarta pada Juli setahun silam.

Kita harus menerapkan ajaran Gandhi dengan memproduksi sekaligus mengkonsumsi barang-barang buatan negri sendiri, mulai dari diri sendiri dan menyebar ke seluruh masyarakat Indonesia. Sekarang ini touge dan sayur rebung diimpor dari China, semenpun diimpor dari Jerman. Sementara pasar-pasar eceran kita sudah dikuasia oleh peretail asing. Inilah keadaan kita sekarang.

Sdr. Anick HT (AKKBB) acapkali menyaksikan langsung di lapangan betapa parah tindakan diskriminatif yang menimpa saudara-saudari kita yang menganut aliran kepercayaan. Ketika mangkat, mereka tak bisa dikubur hanya karena aturan yang diskriminatif. Kita sengaja dibuat fanatik untuk dipecah belah supaya mudah dikuasia. Pandangan fanatis itu pula yang di sebarluaskan oleh Wilder dengan film “Fitna” dan Ustad Abu Bakar Baasyir lewat ceramah-ceramahnya yang provokatif dan mendiskreditkan orang yang berbeda agama dan keyakinan.

Kini saatnya mahasiwa bersatu, jangan mau dipecah-belah lagi oleh para penyusup. Pembentuk federasi mahasiswa se-Indonesia perlu dilakukan sebagai antidot bagi semua ini. “Tolong bantu saya mengumpulkan 10.000 mahasiswa di Jakarta, Di Jogja, di Bali, di mana saja. Lalu kita putarkan film dokumenter sarat data mutakhir yang mengungkap konspirasi besar yang menggurita bumi kita ini,” ujar Bapak Anand Krishna berjanji.

Buku Cindy Adam yang mengulas kehidupan Soekarno, sebenarnya mengungkap sedikit anjuran Arek Suroboyo tersebut kepada J. F Kennedy untuk segera melunasi hutangnya. Salah satu agenda KAA di Bandung 1955 ialah untuk saweran alias membantu Amerika melunasi hutang. Tapi sayang Kennedy keburu dibungkam dengan peluru tajam.

Oleh sebab itu kaum muda bersatulah! Parpol kita yang menggunakan sentimen agama hanya mengacaukan dan memperparah kondisi Ibu Pertiwi. Mereka juga tidak tahu bahwa cuma diperalat. Ada ketua di balik ketua yang mendikte setiap kebijakan parpol tersebut. Perkejaan kita memang berat, tapi kita pasti bisa melaksanakannya asalkan kita bersatu.

Source: Local Wisdom