Tag

Satu senja di tahun 1987 atau 1988. Bersama banyak kawan sebaya, saya terlibat persiapan keberangkatan kami ke satu lokasi sekitar 7 km dari kampung kami. Malam itu kami menghadiri pengajian umum di Purwogondo, yang menghadirkan kyai Imam Abu Hanifah dari Jakarta. Ia memang tak setenar Zainuddin MZ saat itu, tapi sebelum hari itu ia pernah tampil di beberapa kecamatan di wilayah Jepara. Malam itulah pertama kali saya mendengar sebuah nama seorang perusak Islam: Nurcholish Madjid atau Cak Nur.

Menurut Abu Hanifah, orang bernama Nurcholish Madjid ini sangat berbahaya karena menerjemahkan la ilaha illallah dengan “tiada tuhan selain tuhan”, sebuah terjemahan yang melenceng dari pakem yang kita ketahui bersama: “tiada tuhan selain Allah”. Terjemahan seperti Nurcholish ini adalah pendangkalan akidah, dan melemahkan posisi Islam sebagai agama yang ya’lu wala yu’la ‘alaih (agama tertinggi). Terjemahan ini menunjukkan Nurcholish berpihak kepada Tuhan-tuhan ala Barat, bukan kepada Allah, Tuhan Islam.

Saya melangkah pulang membawa endapan pengetahuan tentang seorang perusak Islam. Seseorang nun jauh di Jakarta yang menantang Allah dengan caranya sendiri. Endapan itu melekat dalam ruang memori saya, tanpa ada second opinion, klarifikasi, meski setelah pengajian itu saya juga tidak merasa berkepentingan mencari tahu lebih jauh tentang Nurcholish Madjid dan segala macam ide rusaknya. Saya juga tak peduli dengan Abu Hanifah lagi.

Sampai kemudian pada 1994 saya menginjakkan kaki di Ciputat, tempat di mana ide-ide Cak Nur menjadi makanan dan perdebatan sehari-hari. Tempat di mana agama dan keyakinan diposisikan sebagai sesuatu yang bisa diperdebatkan, didiskusikan, dan dikontestasikan. Tempat di mana segala hal yang kita terima bisa dimintakan klarifikasi dan dicari second opinionnya, bahkan tenth opinionnya. Karena atmosfir Ciputat itu pula bukan saja saya berkesempatan mendengar langsung ceramah dan pengajian Cak Nur, namun juga bertatap langsung dalam obrolan yang lebih intensif dan personal.

Memori saya tentang Abu Hanifah dan “tiada tuhan selain Tuhan” kembali meruyak di tengah intensi pergulatan pemikiran di Ciputat. Klarifikasi dan rasionalisasi saya dapatkan di sana. Istilah “t” kecil dan “t” besar juga baru saya tahu. Provokasi Abu Hanifah tercoret dari memori saya. Bahkan bisa dibilang, saya termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang mendakwakan dirinya sebagai Caknurian. Ya, pemikiran ala Cak Nur sudah menjadi isme di Ciputat. Meskipun, saya sendiri bukan pembaca yang baik. Tak semua buku Cak Nur saya baca, dan hampir tak ada buku Cak Nur yang saya baca dari awal sampai akhir. Hanya tema dan bagian tertentu saja yang saya baca secara intensif.

Cak Nur dan Wahib

Saya sebenarnya lebih suka Ahmad Wahib, penulis  Pergolakan Pemikiran Islam yang mati muda karena kecelakaan motor. Bagi saya, Wahib lebih lugas dan tegas bersikap dalam mengurai pemikiran dan argumennya. Beberapa ide cemerlangnya hampir tak terbayangkan akan keluar dari mulut dan tulisan Cak Nur.

Mungkin karena berbentuk catatan harian, dan dipublikasikan setelah ia meninggal, ide Wahib mengalir lebih jujur tanpa beban. Dengan mudah buku ini meracuni anak-anak muda Ciputat seperti saya. Kebebasan berpikir, sebagian bahkan lebih suka menyebut keliaran berpikir, yang sebenar-benarnya, saya temukan lewat bukunya itu. Biarlah Cak Nur menyusun puluhan buku, biarlah Cak Nur hidup 60 tahun, namun kisah singkat dalam sepenggal buku Wahib cukup lengkap bagi saya. Ketakberhinggaan ruang yang dihadapinya membuat saya menyadari bahwa selama ini kita terbelenggu. Ruang, waktu, kepentingan publik, atmosfir, membuat apa yang kita sebut kebebasan berpikir hanya sampai ke otak kita, solilokui. Jika hendak ditarik lebih maksimal, mungkin hanya sampai pada orang-orang terdekat di sekitar kita.

Dan Cak Nur adalah salah satu dari “kita dalam belenggu” itu. Progresivitas dan pembaruan Cak Nur terbatasi atau dibatasi dengan apa yang disebut sebagai keinginan “merawat publik”, minimal “merawat umat”.

Namun mungkin itu bukan sekadar batasan atau pagar yang dihadapi seorang Cak Nur. Mungkin memang itu pilihan Cak Nur. Mungkin itulah Cak Nur.

Mungkin juga sia-sia saya berharap ada semacam buku harian posthumous ala Pergolakan Pemikiran Islam yang dikeluarkan dalam 1000 hari [sayangnya tertulis di buku, tak terdeteksi editor: 1000 tahun] wafatnya Cak Nur sekarang ini. Buku yang menampilkan wajah lugas beliau.

Cak Nur Butuh Agen

Terlepas dari kecenderungan pilihan saya ke model Wahib, dengan ilustrasi pembuka saya di atas sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa Cak Nur adalah produsen ide. Di tengah kemalasan berpikir dan kejumudan umat Islam Indonesia, ide-ide beliau sudah sangat cukup untuk menjadi dasar, bahkan acuan, bagaimana Islam berhadapan dengan modernitas, bagaimana kita berislam di tengah keragaman, dan bagaimana kita berpikir bebas tanpa meninggalkan ruh dan tradisi. Lebih jauh, ide-ide dan pola berpikir ala Cak Nur membuat umat Islam sendiri masih sanggup menepuk dada bahwa Islam adalah agama yang “shalih li-kulli zaman wa-makan”.

Namun adalah hampir mustahil membayangkan Cak Nur sebagai produsen ide, berkeliling kampung-kampung di seantero Indonesia memasarkan idenya. Sementara, pemikiran, tepatnya simtom pemikiran, Cak Nur dipasarkan secara negatif oleh “lawan-lawannya” seperti Imam Abu Hanifah. Dan saya tahu persis, ada ribuan bahkan jutaan kyai dan ustadz sejenis Abu Hanifah yang menebar hujatan dan penghakiman sepihak terhadap ide-ide pembaruan ala Cak Nur. Ada ilustrasi yang populer di kalangan kawan-kawan Ciputat untuk menggambarkan ini: Ide Cak Nur berkembang dalam deret hitung, sementara ide anti-Cak Nur berkembang dalam deret ukur. Dan kelipatan deret ukur itupun berkembang, dari per puluhan, per ratusan, sampai per ribuan. Artinya, saat para pengecer ide Cak Nur mampu meyakinkan 7 orang, para penghujat Cak Nur sudah memvirusi 7.000 orang.

Cak Nur tak mungkin mampir ke Purwogondo. Jika kita percaya pada adagium “al-haqqu bi-la nidzam yaghlibuhu al-bathil binidzam”, tak ada jalan lain bagi para Caknurian selain merumuskan strategi pemasaran dan memperbanyak pemasar atau agen ide Cak Nur. Sudah cukup bagi kami jika ada agen Cak Nur yang mampir ke Purwogondo, agar teman sebaya saya di kampung juga tersentuh oleh akar idenya, tak cuma simtom, tanpa harus melangkahkan kakinya ke Ciputat.

Alih-alih mengorganisasi agen, belakangan yang terjadi justru sebaliknya: sependek pengetahuan saya, ada kecenderungan kelompok pewaris Cak Nur berduyun-duyun memperebutkan simbol, citra, dan ketokohan Cak Nur. Semua mengklaim paling dekat dengan Cak Nur, paling mengerti paket pemikiran Cak Nur, dan paling sah mendakwakan diri sebagai juru bicara isme Cak Nur, sambil menegasikan kelompok lain. Tentu saja argumen yang lebih substantif dirumuskan pula untuk memperkuat klaim itu.

Yang muncul adalah kesan, bahwa paket ide dan pemikiran Cak Nur adalah paket final, bukan lagi korpus terbuka, bukan hanya dasar pijakan, karena output finalnya juga sudah jelas: nama, citra, ketokohan.

Saya kira, seperti halnya Cak Nur melihat Islam dan Alquran, ide dan pemikiran Cak Nur harus diletakkan sebagai satu step pemikiran tertentu, bukan step akhir. Seperti halnya Rasulullah Saw, Cak Nur juga akan bilang kepada kita: “La tusawwiduni”. Bukankah yang abadi di dunia ini hanyalah perubahan? []

Dimuat sebagai salah satu tulisan dalam buku “All You Need is Love; Cak Nur di mata anak muda” yang diluncurkan pada malam “Nurcholish Madjid Memorial Lecture”, Universitas Paramadina, 23 Oktober 2008.

Dicomot dari Facebooknya Lisa

Gambar dicomot dari Facebooknya Lisa