Tanggal 1-9 yang baru lalu saya berkesempatan mengikuti Workshop on Human Rights di sebuah Lodge di Kowloon, Hongkong. Tutornya adalah para aktivis Asian Human Rights Commission yang berkantor di kota itu pula. Pesertanya adalah anak-anak muda dari beberapa negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan (Indonesia, Filipina, Cambodia, Thailand, Srilanka). Berikut sedikit cerita tentang lawatan saya.

Tentang Hongkong

Kesan pertama saya menginjakkan kaki di Hongkong justru membuyarkan bayangan kemewahan tentang kota itu. Tadinya saya berpikir Hongkong adalah kota datar tanpa tanah, dipenuhi gedung-gedung bertingkat sekelas Plaza Indonesia atawa Artha Graha. Ternyata gedung-gedung bertingkat yang ada di sana yang kebanyakan adalah rumah-rumah Hongkonger rata-rata lebih mirip rumah susun dari pada apartemen ala Rasuna. Dan ternyata masih banyak tanah kosong berupa bukit-bukit cadas berbatu. Memang susah dijumpai rumah tak bertingkat dengan halaman dan taman yang luas di sana, kecuali di pinggiran, di kampung nelayan. Masih banyak rumah-rumah gantung di kampung ini, meskipun dengan fasilitas air bersih semacam PAM.

Hongkong adalah kota yang sangat aman dan nyaman untuk jalan-jalan, bahkan di tengah malam. Di siang hari, asal tidak siang bolong di mana matahari tepat di atas kita, jalan-jalan adem karena dikelilingi gedung-gedung beringkat. Ini adalah kota yang bersih, rapi, dengan fasilitas transportasi yang betul-betul bisa dinikmati.

Untuk urusan transportasi ini, yang paling enak dan massal adalah kereta. Jika Anda naik busway di Jakarta, seperti itulah rata-rata daleman kereta maupun bis di sana, lengkap dengan banner dan audio “The Next Destination, is Tsim Tsa Sui”. Untuk membayar be transportasi ini, mereka biasanya menggunakan satu kartu yang disebut kartu Octopus. Kalau di Indonesia seperti kartu Flazz BCA yang bisa diisi di tempat-tempat tertentu. Cara membayarnya hanya dengan mendekatkan kartu tersebut ke detector, seperti kasir Indomaret mendekatkan barcode produk ke detectornya.

Hongkong adalah kota yang sangat ramai. Di setiap sudut pertigaan atau perempatan, akan selalu tampak orang berkulit putih jeprat jepret ambil foto.  Jadi bukan cuma manusia kulit coklat macam awak yang plesiran ke sana, namun turis domestik (China) juga tiap hari mondar mandir ke kota ini.

Dan justru keramaian Hongkong dimulai sore hari, sejak jam 5-an, sampai tengah malam. Ini karena di siang hari mereka kebanyakan ngendon di kantor masing-masing. Bahkan di beberapa pasar, banyak toko yang buka menjelang sore.

Tentang TKW

Di sela-sela agenda workshop saya yang sangat padet, saya dan kawan-kawan menyempatkan diri untuk jalan-jalan keliling kota yang masih terjangkau dalam waktu singkat dari Lodge tempat kami menginap.

Dari kesempatan yang sedikit itu, saya sempat ketemu dengan beberapa TKW asal Indonesia, terutama ketika di hari Minggu kami mengunjungi Giant Buddha dan Hongkong Island. Hari berikutnya juga kami sempat mengunjungi shelter khusus yang menampung TK bermasalah dari Indonesia dan Filipina.

Dari pertemuan sepintas-sepintas itu, ada beberapa cerita yang saya dapat:

  • Secara umum, TKW di HK jauh lebih baik kondisinya daripada TKW di Timur Tengah, bahkan domestic worker (house helper, PRT) di Indonesia. Rata-rata mereka dapat hari libur sehari dalam seminggu (hari Minggu), dan mereka gunakan untuk jalan-jalan dan sosialisasi dengan sesama TKW. Tempat ngumpul yang paling terkenal adalah Victoria Park (sayang saya nggak sempat ke sana), tapi sebenarnya itu tergantung mereka juga. Banyak yang liburan ke sana kemari. Sebagian yang saya temui mengaku betul-betul beruntung bisa bekerja di sana; ia bisa berbahasa Canton, ia mengenal internet dan diperbolehkan mengakses internet oleh majikannya, ia bisa bergaya ala Hongkong ketika jalan-jalan, ia bisa menikmati kota yang sangat aman dan nyaman. Seorang TKW berjilbab mengaku majikannya membolehkannya memakai jilbabnya, meskipun dia juga bilang ada beberapa majikan yang melarang pekerjanya menganakan jilbab.
  • Penyumbang TKW terbesar dari Indonesia di HK adalah provinsi Jawa Timur. Dengan mudah kita bisa ketemu anak Ponorogo, Jember, Salatiga, Malang, Jombang. Namun penyumbang terbesar domestic worker di HK adalah anak Filipina.
  • Perbedaan mendasar antara TKW Indonesia dan Filipina adalah: rata-rata TKW Indonesia bisa berbahasa Canton (biasanya mereka dikursusin 3 bulan sebelum berangkat) tapi tidak bisa berbahsa Inggris, jadi tidak pernah paham kontrak kerja dalam bahasa Inggris yang ditandatangani. Sementara TKW Filipina rata-rata bisa berbahasa Inggris tapi nggak bisa bahasa Canton, terutama di awal mereka datang.
  • (Ini cerita seorang majikan). Ada kasus di mana seorang TKW mengaku berpindah ke agama Kristen. Dia mngaku sudah lama tertarik dengan agama Kristen, tapi perpindahan itu tidak mungkin dilakukan ketika masih di Indonesia. Dia juga mengaku ketika kembali ke Indonesia nanti, dia pasti akan menjadi muslimah lagi seperti sebelumnya. Nah lho…
  • Tentang shelter. Shelter ini dikelola oleh sebuah NGO. Di dalamnya terdapat aktivis dari Filipina, Indonesia, maupun Hongkong sendiri. Saat saya mengunjunginya, ada sekitar 40 TKW Indonesia yang bermasalah di sana. Mereka menginap di shelter tersebut, sambil mengurus masalahnya ke meja hijau, atau menunggu mencari majikan baru, atau menuju saatnya pulang kampung. Rata-rata masalah mereka adalah underpayment, interminute (pemecatan), majikannya tidak memberi hari libur, yang sebenarnya jika itu terjadi di Indonesia maka tidak ada logika meja hijau ataupun persoalan hukum. Salah seorang TKW yang saya temui dipecat setelah dia mempertanyakan kepada majikannya mengapa dia tidak mendapatkan liburan ketika hari Minggu. Dia datang ke shelter tersebut, lalu didampingi beberapa aktivis ia membawanya ke meja hijau. Akhirnya dia menang. Majikannya didenda puluhan juta rupiah, atau kalau nggak dipenjara. Beruntunglah dia, pulang membawa “hasil pampasan perang”. Saat itu dia berencana pulang beberapa hari setelah ketemu saya. Ini sesuatu yang tak pernah terbayangkan terjadi di Indonesia.
  • Banyak kasus bonded labor (istilah ini saya dapat dari India, untuk menjelaskan buruh-buruh yang kerja-paksa tanpa gaji karena orang tuanya berutang kepada sang majikan dan nggak sanggup bayar). Artinya, TKW yang sudah bekerja, dia tidak akan menerima gaji selama waktu tertentu (biasanya 6-7 bulan). Ini karena mereka terikat kontrak dengan agennya di Indonesia. Bulan berikutnya mereka baru dapat gaji. Sementara kadang-kadang kasus interminute (bener gak sih tulisannya?) terjadi pada bulan-bulan pertama. Bayangkan jika selama 7 bulan mereka nggak terima gaji, lalu di bulan ke-8 karena alasan tertentu mereka dipecat majikannya.

Demikianlah.
Ini hanya hasil ngobrol-ngobrol, bukan survey, bukan riset, bukan fact finding.
Titik.