Ikatan darah puluhan tahun itu akhirnya putus. Kedua keluarga sepakat menggeser hubungan darah menjadi hubungan permusuhan. Caci maki terlontar. Saling ejek tak terhindarkan.

Ini adalah sepenggal kisah tetangga saya, di kampung yang sejatinya damai, ketika partai politik memporakporandakannya pada 1999. Partai politik yang kemudian bertransformasi menjadi identitas hidup-mati, melebihi identitas agama.

Kisah itu hanyalah fragmen kecil dari sebuah tragedi besar pertarungan berdarah antara massa PPP dan PKB saat itu. Kisah lainnya adalah perang fisik antara massa PPP dan PKB yang menumpahkan darah dan nyawa, permusuhan satu pesantren dengan pesantren lain, saling hujat dan caci maki antara kyai satu dengan kyai lain, persaingan pengajian kyai PPP dan kyai PKB di satu RT, pelemparan kyai yang sedang berceramah di atas podium.

Kisah di atas adalah kisah nyata akibat perselingkuhan antara politik dan agama. Wajah kejam dan bengis politik akan selalu menampakkan taringnya jika kekejaman itu dibumbui dan dijustifikasi oleh ayat, doktrin, dan ruang sakral bernama agama.

Karena mayoritas penduduk Indonesia memilih Islam sebagai agamanya, maka ketika kita bertanya pada petinggi partai buruh, Partai Golkar, PDIP, atau bahkan Partai Sosialis sekalipun; “Apa agama mayoritas anggota partai mereka?”, niscaya kita akan mendapatkan jawaban yang sama: Islam.

Alquran adalah bagian penting dari eksistensi Islam. Ia menjadi landasan dan pijakan sejarah serta perilaku moral umat Islam. Dalam kehidupan keseharian, ayat-ayat di dalamnya mempunyai kekuatan teologis dan daya rekat keislaman yang kuat. Pada titik tertentu, orang yang berbicara dan berargumen disertai ayat Alquran otomatis dianggap sebagai kebenaran. Ayat memiliki tuahnya di kalangan umat.

Posisi ayat Alquran yang demikian kemudian banyak disalahgunakan oleh banyak pihak untuk mendukung dan menjustifikasi kepentingan sempit mereka, termasuk dalam hal ini adalah partai politik peserta pemilu. Banyak partai memakainya untuk mengangkat kebenaran sepihak sebagai kebenaran tunggal. Banyak partai menggunakan ayat untuk menyatakan bahwa ia lebih Islam dari partai lain. Banyak partai mendatangi pesantren dan mencari dukungan kyai-kyai untuk menciptakan kesan punya kedekatan dengan kalangan Islam. Tujuannya cuma satu: meraih suara sebanyak-banyaknya di kalangan umat Islam.

Mereka lupa, masyarakat kita punya kecerdasannya sendiri. Masyarakat kita mampu membedakan mana perilaku yang benar dan mana yang manipulatif. Mereka abai bahwa tindakan jual ayat dan sikap “sok-Islam” mereka justru bisa dinilai merusak citra Islam yang luhur, dan menodai sosok agung kyai yang berdiri di atas semua golongan dan lapisan, rahmatan li al-‘alamin. Mereka tak sadar, keagungan Islam dan Alquran tak bisa demikian mudah dipersempit dan dimanipulasi untuk kepentingan kerdil mereka.

Tak salah jika pada akhirnya masyarakat pemilih kita justru menjauhi partai-partai yang mempersempit kepentingan Islam menjadi hanya sekadar kepentingan partai. Tak aneh jika justru perolehan suara partai yang berlabel sektarian jauh lebih kecil dibanding partai-partai yang terbuka, berdiri di atas semua golongan. Pada dasarnya tidak salah, bahkan pada titik tertentu menjadi keharusan, bagi setiap individu untuk berpolitik, minimal melek politik. Namun bukan berarti menjadi sah untuk mempolitisasi agama, memanfaatkan agama untuk kepentingan sempit politik, atau menjual ayat untuk kepentingan kampanye. Islam terlalu luhur untuk dimanipulasi. Agama terlalu luas untuk diklaim menjadi milik segolongan orang.

Mereka juga lupa, kekerasan, kebengisan, akan selalu meninggalkan trauma. Manusia akan belajar dari trauma-trauma itu, bahwa kebencian, permusuhan antar sesama akan selalu menimbulkan rugi di kedua pihak. Mereka akan belajar menghadapi 2009 dengan cara santun, damai, dan anti manipulasi. Semoga.[]