Dalam konteks gerakan pluralisme, posisi kelompok minoritas cukup penting; baik sebagai korban langsung diskriminasi dan persekusi atas dasar agama, maupun sebagai bagian dari warga negara secara umum yang berjarak dengan para pelaku persekusi. Gereja misalnya, memiliki posisi strategis untuk turut mendorong tumbuhnya semacam creative minority yang bekerja untuk pluralisme dan misi kemanusiaan secara umum.

Namun, kelompok minoritas ini juga seringkali memiliki masalah di dalam dirinya sendiri. Berikut adalah beberapa persoalan yang melingkupi gereja:

 1.     Sindrom Minoritas

Secara umum, kecenderungan diam, mendiamkan, membiarkan intoleransi dan gerakan antikeragaman merajalela ini menghinggapi kelompok “minoritas”, termasuk kelompok Kristen. Ini sangat berbahaya karena bisa ditangkap sebagai justifikasi pembenaran tindakan intoleran. Apalagi jika kecenderungan diam dan kegamangan ini juga menghinggapi aparat keamanan dan pihak pengelola negara.

Kelompok minoritas ini seakan mengidap sindrom akut yang pada gilirannya memperkuat kelompok-kelompok yang diuntungkan dengan spirit mayoritarianisme. Pada banyak kasus, tindakan “mencari aman” di kalangan kelompok minoritas menyulitkan proses advokasi. Justifikasi teologis untuk “mengalah” mendapat perlakuan diskriminasi dan kesewenangan dari kelompok “mayoritas” juga memberi kontribusi besar terhadap lemahnya gerakan pendampingan kasus-kasus keagamaan. Dalam kasus-kasus gereja misalnya, “sadar minoritas” diterjemahkan dengan memberikan benefit ekonomi-politik terhadap kelompok pelaku kekerasan. Parahnya, pendekatan seperti ini banyak dianggap sebagai “pendekatan persuasif” yang benar dari kehadiran gereja di tengah masyarakat.

Pada banyak kasus lain, kelompok minoritas juga berkecenderungan mengkotakkan diri mereka secara eksklusif, sehingga memperkuat pola segregasi sosial berbasis agama. Pada gilirannya, segregasi inilah yang memproduksi prejudice, generalisasi, dan gap antar-agama. Segregasi ini bahkan bukan hanya pada konteks pendidikan yang sudah sejak lama terjadi. Belakangan, muncul tren perumahan dan perkampungan berbasis identitas agama.

2.     Disorientasi dan masalah internal

Seperti dalam perdebatan yang tak kunjung usai dalam dunia sastra tentang pertanyaan: apakah sastra untuk sastra ataukah sastra untuk masyarakat, dalam perkembangan agama-agama di Indonesia, kecenderungan orientasi eksistensial (agama untuk agama) menjadi masalah pelik yang cenderung merugikan penciptaan kedewasaan beragama masyarakat kita.

Yang agak menonjol dalam kasus ini adalah persaingan perebutan umat antar-denominasi di kalangan penganut Kristen. Karena jumlah umat berbanding lurus dengan privilege, bargain position, dan bahkan benefit langsung, maka orientasi beragama kuantitatif lebih sering menjadi  pilihan, daripada mendewasakan umat dengan kualitas keadaban yang jauh lebih penting. Meski tak nampak di permukaan, konflik internal yang diakibatkan masalah ini banyak terjadi.

Akibatnya, kaum agamawan abai terhadap misi utama agama: memberi terang bagi semua; rahmatan lil’alamin. Karena itu, agak sulit kita mengharapkan tercipta solidaritas dan soliditas gerakan pluralisme dan perjuangan kemanusiaan.

Masalah lain dalam kelompok minoritas adalah minimnya sensitifitas sosial dan early warning system. Di tengah kondisi sosial di mana regulasi sosial seringkali lebih menentukan daripada regulasi negara dan penegakan hukum, kohesi dan kepekaan sosial masih cukup signifikan menjadi jawaban terhadap kerentanan dan gap-gap yang mudah sekali disulut sebagai bahan mentah konflik.

3.     Sikap apolitis dan apatis

Menganggap bahwa masalah kekerasan agama, persekusi, fundamentalisme, dan terorisme adalah masalah internal umat Islam membuat kelompok minoritas memilih sikap diam, tak peduli, dan merasa bahwa ini bukan masalah mereka.

Hasilnya, keterlibatan kelompok minoritas ini dalam gerakan pluralisme, baik pada ranah politik, advokasi kebijakan, maupun keterlibatan mereka dalam kerangka gerakan civil society bisa dikatakan sangat minim. Jikapun ada, lebih banyak menjadi actor komplementer dari gerakan yang diinisiasi dan dimotori oleh “kelompok Islam pluralis.”

Jika mau jujur, sedikit sekali tokoh nasional yang muncul dari kelompok minoritas yang mampu mengatas sekat-sekat identitas dan beban sindrom, terutama yang terlibat dalam isu-isu pluralisme dan kebebasan sipil.

4.     Viktimisasi korban

Alih-alih bersolidaritas dan membangun gerakan bersama ketika ada kelompok minoritas lain menjadi korban persekusi, sebagian kelompok dalam Kristen justru turut mempersalahkan korban persekusi. Ini sering terjadi dalam kasus di mana gereja yang menjadi korban bukan berasal dari denominasinya, atau kelompok yang menjadi korban bukan kelompok Kristen sendiri.

Dalam bentuk yang lain, misalnya kasus HKBP versus Parmalim bahkan menunjukkan kondisi lebih ekstrem: bahwa ketika satu kelompok yang di tempat lain menjadi korban karena minoritas, di tempat lain ia bisa berpotensi menjadi pelaku persekusi dan penindasan terhadap kelompok lain yang “lebih minoritas”.

5.     Dialog antar-agama yang normatif dan melangit

Titik temu dan dialog antar agama sejauh ini masih menjadi konsumsi kalangan tertentu dan terbatas. Jika bukan dialog yang nuansanya politis, kesepahaman antar agama sering kali hanya menyentuh kalangan elite agama saja, tidak menjadi agenda publik sampai ke tingkat grassroot.

Di sisi lain, dialog antar agama selama ini juga hanya menyentuh permukaan saja. Kebanyakan fokus pada “mencari persamaan” antar agama. Persamaan universal yang dalam bahasa Islam disebur sebagai kalimatun sawa’ ini pada level tertentu memang berguna untuk menyemai komunikasi dan kerjasama antar agama. Konsekuensi dari metode ini adalah menyimpan atau menyembunyikan perbedaan yang ada. Dalam beberapa kasus yang lebih serius, menyembunyikan perbedaan adalah berarti menyembunyikan potensi konflik, yang jika dipicu keluar akan mewujud prejudice, prasangka, dan kebencian. Fakta konflik antar agama mengajarkan kepada kita bahwa perbedaan yang disembunyikan seringkali muncul ke permukaan dalam wajah garangnya, mengalahkan persamaan yang sudah dipupuk.[]

*Tulisan ini adalah sebagian kecil dari presentasi pada acara Asosiasi Teolog Indonesia di Makassar, 25 November 2012