Yang Mulia jajaran pengurus dan dewan juri Appeal of Conscience Foundation (ACF). Perkenankan saya berdiri di hadapan Anda semua yang telah mempercayai saya, Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia untuk menerima World Statesman Award ini. Penghargaan ini adalah anugerah besar bagi saya, Presiden dari 240 juta penduduk Indonesia.

Bapak Ibu yang saya hormati,

Tentu saja tradisi memberikan apresiasi dan penghargaan untuk orang-orang atau pihak-pihak yang telah memajukan toleransi di muka bumi ini adalah tradisi yang sangat baik dan perlu terus dikembangkan agar menstimulasi lahirnya banyak inisiatif kebijakan dan tindakan toleransi, anti-diskriminasi, dan penghargaan terhadap Hak Asasi Manusia. Adalah tugas kita semua, terutama bagi pemimpin-pemimpin Negara di dunia untuk memastikan bahwa demokrasi dan penghargaan terhadap Hak Asasi Manusia bisa diwujudkan dalam setiap jengkal tanah di bumi yang semakin beradab ini.

Bapak Ibu yang saya hormati,

Saya yakin Anda semua, terutama para dewan juri juga sudah meneliti dengan seksama, bahwa saya dan jajaran pemerintah Indonesia sudah berkomitmen penuh untuk melaksanakan amanat besar kemanusiaan tersebut. Saya juga yakin Anda semua tahu, dalam konteks Indonesia, dan mungkin kebanyakan Negara dunia ketiga, hambatan dan tantangan yang ada cukup besar untuk bisa mewujudkan hal tersebut. Meski secara normatif pemerintah Indonesia telah melakukan banyak upaya ke arah sana, meratifikasi banyak kovenan dan menandatangani beberapa komitmen internasional, namun pada tingkat pelaksanaannya, ini masih sulit dilakukan.

Tentu saja Anda semua juga tahu, untuk kasus Indonesia, di tingkat lapangan masih terjadi banyak diskriminasi dan perlakuan yang tak sewajarnya, persekusi terhadap kelompok minoritas, konflik dan kekerasan yang mengatasnamakan agama, serta kebijakan-kebijakan yang masih mengistimewakan golongan tertentu dan mendiskriminasi golongan yang lain, terutama golongan yang dianggap sebagai minoritas, secara jumlah maupun kekuatan politik.

Saya sendiri menyadari bahwa sebagai Presiden Republik Indonesia, saya belum berbuat banyak terhadap segala kasus intoleransi yang kian tahun kian menaik tersebut.

Karena itu Bapak Ibu yang saya hormati,

Pemberian penghargaan ini adalah tamparan besar bagi saya. Pemberian penghargaan ini mengingatkan saya bahwa persoalan yang selama ini tidak terlalu saya hiraukan adalah persoalan besar, persoalan kemanusiaan yang membutuhkan penanganan serius.

Meski Indonesia boleh dibilang sudah mengalami lompatan yang cukup jauh dalam hal kebijakan normative, namun korban intoleransi masih berjatuhan. Bahkan sebagian kecil nyawa warga minoritas pun melayang. Saya sadar, meski korban itu terbilang sedikit, namun korban diskriminasi bukanlah diukur dari hitungan statistik. Satu nyawa melayang tak wajar di negeri yang damai haruslah dianggap pukulan telak bagi kemanusiaan.

Karena itu Bapak Ibu yang saya hormati,

Ijinkan saya berdiri di hadapan Anda semua untuk menyatakan bahwa saya menolak menerima penghargaan ini. Demi keprihatinan dan solidaritas saya terhadap korban intoleransi yang berjatuhan, saya merasa tidak layak menerimanya.

Sebaliknya, saya merasa berterima kasih atas kepercayaan Anda semua yang telah mengingatkan saya betapa berat beban kita untuk mewujudkan dunia yang toleran, damai, dan tanpa diskriminasi. Melalui panggung terhormat ini, saya ingin menyatakan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh korban diskriminasi dan intoleransi selama ini. Melalui panggung terhormat ini, saya berjanji untuk lebih mendayagunakan potensi dan kebijakan kami untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-cita kita bersama tersebut. Juga seperti yang pernah saya nyatakan di hadapan seluruh warga Indonesia beberapa tahun lalu, “Negara tidak boleh kalah oleh kekerasan”.

Semoga Tuhan memberikan petunjuknya bagi saya dan seluruh aparat pemerintah Indonesia.

SBY

1 Juni 2013

~Anick HT~