Anakku,
Hari-hari ini adalah hari penuh darah. Entah mengapa para manusia beradab itu bisa tahan menghunus parang tajam menumpahkan darah dengan sumringah. Anak-anak kecil 5-6 tahun itu juga mengerubungi penumpahan darah itu dengan penuh suka cita. Entah mengapa hunusan parang tajam itu harus dipertontonkan ke publik tanpa batas usia, tanpa rasa perih di dada.

Anakku,
Bukan tanpa alasan jika aku tak mengajakmu menjadi penyaksi kepasrahan para sapi dan kambing itu dimanfaatkan oleh manusia, ditumpahkan darah mereka. Bukan tanpa alasan jika aku hanya mengajakmu menyaksikan para relawan memberi makan para kurban itu sehari sebelumnya.

Anakku,
Meski ayahmu ini juga dilahirkan dengan kultur karnifor, bahkan omnifor, namun tetap ada yang terasa mengganjal dengan banyaknya kehidupan dicerabut dalam waktu singkat di depan publik seperti itu. Ada sedikit tanya: adilkah Tuhan dengan ajaran kurban ini? Benarkah Tuhan membangun sistem dunia ini secara antroposentris? Bahwa kambing, sapi dan kawan-kawannya itu dicipta untuk dan hanya untuk kepentingan sang penguasa alam bernama manusia? Benarkah mereka sekadar pelengkap penderita untuk menyempurnakan ciptaan berakal ini? Benarkah Tuhan kita tak menyediakan celah alternatif pengganti ritual semacam ini?

Anakku,
Sedikit tanya itu selalu menggelantung. Tapi semoga kita masih selalu berhak melontar tanya…