Bagai salik yang mencari Tuhan, lewat karya ini Anick menuturkan pergumulan mencari keping perikemanusiaan dan perikeadilan yang hilang. Karya ini menabur banyak pilu, namun harapan. Ada kegelisahan, juga tawaran jalan keluar bagi anak bangsa yang tengah bergulat dengan tantangan sejarah, yaitu tumbuh menjadi bestari di tengah kepungan pemahaman keagamaan yang menyempit, pengetahuan miskin tentang kebhinnekaan Indonesia dan rakus kekuasaan yang menggurita di sebuah era yang disebut-sebut “reformasi”. Puisi essay ini, karenanya, adalah juga catatan tentang Menjadi Indonesia.

— Andy Yentriyani, Komisioner Komnas Perempuan