Perihal yang paling nyata dari kekerasan berbasis agama adalah kematian dan perusakan tempat peribadatan para Liyan. Yang terburuk adalah penghinaan atas keseluruhan pandangan dunia para penganutnya. Fasisme model baru ini tidak serta merta merupakan anak kandung dari ortodoksi agama, tetapi merupakan anak kandung dari modernitas juga, dimana kebenaran tunggal atas segala keragaman tafsir merupakan kemestian. Kebenaran tunggal selalu terobsesi dengan penghinaan atas Liyan. Secara kronis keinginan untuk menghina dan merendahkan Liyan ini menjadi paranoia tersendiri yang dibangun untuk membesarkan sikap ingin menjadi paling mulia, yaitu fasisme.

Puisi-puisi di dalam buku ini merupakan kumpulan swara-swara Liyan yang mendapatkan represi dan penghinaan dari para fasis tersebut. Simptom, sikap, agresi dan tindakan-tindakan kekerasan fisik dapat dinarasikan dan direpresetasikan dengan metafor-metafor yang kuat.

Puisi-puisinya juga dengan kuat menggambarkan kerentanan perikehidupan Liyan tersebut. Buku Puisi ini penting untuk dibaca oleh siapa pun yang peduli pada kedamaian.

— Dewi Candraningrum, Jurnal Perempuan & Univ Muhammadiyah Surakarta