Puisi esai Anick HT menyuarakan pandangan dan sikap yang sangat mendesak di Indonesia dewasa ini, yaitu keharusan menyikapi perbedaan bukan saja secara terbuka, melainkan juga dan terutama dengan rasa hormat. Diperlukan kedewasaan dan kematangan dalam meladeni berbagai perbedaan (faham) agama, etnis, dan lain-lain di Indonesia, baik pada aras individu maupun lebih-lebih pada aras kolektif dan sosial.

Puisi esai Anick mengajak kita menyelami dunia batin tokoh-tokoh yang terlibat dalam berbagai konflik akibat perbedaan, khususnya dunia batin para korban. Ia mengajak kita merasakan perasaan mereka. Dengan cara itu, ia mengiur barang sesuatu dalam membangun sikap terbuka, rasa hormat, kedewasaan dan kematangan dalam meladeni berbagai perbedaan yang bagaimanapun tak mungkin dielakkan.

— Jamal D. Rahman, Pemimpin Redaksi majalah Horison dan Jurnal Sajak.