Anick seperti tak sabar memendam resah yang berlapis. Ia menumpahkannya dalam rangkaian kata-kata sarkasme yang manis sekaligus menggugah dan menohok. Dengan ketajaman mata hatinya, ia melihat realitas bangsa yang mendeklair diri religious itu sungguh menjerat. Agama tak lagi ramah. Ia justeru jadi pedang yang siap menebas leher mereka yang kecil, lemah dan tersingkir. Dan ia ingin menyentuh kesadaran pembaca “Pusi Essai”nya ini untuk kembali kepada makna genuine agama: “membebaskan dan mencerahkan”.

— KH Husein Muhammad, Pengasuh Pesantren di Cirebon