Bagi Anick, yang penyair sekaligus intelektual muda, data tentang persoalan kemanusiaan harus dibaca bukan dengan otak, tetapi dengan hati. Dunia dan segala persoalannya menjadi kasat mata. Rintihan korban yang terbungkam terdengar jelas. Penderitaan terungkap. Ada pergolakan batin dan sarat dengan pergumulan teologis, dan Anick membebaskan orang memilih jawabnya.

Puisi esai ini pun menjadi sangat menggetarkan. Diksinya liar. Emosi kita diacak-acaknya, tetapi dalam puisi esai ini benih-benih kebaikan dan pengharapan pun ditaburnya. Di balik awan gelap dan hujan lebat yang panjang ternyata ada pelangi yang indah!

— Pdt. Albertus Patty, Rohaniawan Gereja Kristen Indonesia