Setelah membaca pelan-pelan dan meresapi kata per katanya, saya sampai pada kesimpulan bahwa puisi esai ini tidak cuma bagus (biarpun kejadian-kejadian yang diambil dan dijadikan inspirasi adalah kondisi yang memprihatinkan bahkan sampai pada ‘sangat membahayakan’) tapijuga penting untuk mereka yang selama ini masih diam dan takut
bersuara. Ini bukan cuma puisi yang berhenti pada soal berindah-indah, dan untuk itu saya salut sekali.

Puisi esai ini mengingatkan tanpa menggurui bahwa yang terpenting dari kehidupan manusia adalah rasa kemanusiaan.

Saya berterima kasih sudah diberi kesempatan membaca puisi esai ini. Saya suka bagaimana pembaca dibuat “keliling” ke tempat-tempat ibadah yang berbeda-beda. Juga pemahaman yang berbeda-beda.

— Sari Safitri Mohan, penulis novel Negeri Neri, 2012