Ketika berbagai bentuk petisi, orasi dan demo tak kunjung membuahkan hasil, Anick menuangkan semua perlawanannya dalam bentuk puisi; sebuah perlawanan terhadap fenomena kelompok yang merasa diri mayoritas mendera tanpa ampun mereka yang secara sosiologis tergolong minoritas; perlawanan ketika praktek diskriminasi menjadi keseharian; perlawanan ketika kebenaran, bahkan Tuhan, diklaim sebagai monopoli sendiri; perlawanan ketika pemaksaan kehendak, bahkan lewat kekerasan, seolah mendapat legitimasi dari Tuhan; dan perlawanan ketika negara diam seribu bahasa.

Proficiat, Anick! Salut untuk ekspresinya yang baru. Tapi, tak lantas tinggalkan perlawanan jalanan, bukan?

~ Pdt Gomar Gultom, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia