Rakyat Merdeka

Judul buku : Kuburlah Kami Hidup-hidup
Penulis : Anick HT
Penerbit : ICRP dan Inspirasi.co
Halaman : 170 halaman.
Edisi : Cetakan Pertama, Januari 2014

Indonesia adalah negara dengan keragaman yang luar biasa, termasuk keragaman agama dan keyakinan. Konstitusi yang dianutnya menjamin kesetaraan antar warganya, tanpa melihat suku, agama, dan ras. Konstitusi juga menjamin kebebasan warganya untuk memeluk agama dan beribadah menurut keyakinan mereka. Meski begitu, belakangan ini muncul begitu banyak fenomena kekerasan atas nama agama, dan juga muncul banyak kebijakan bernuansa syariat karena tuntutan dan atas nama mayoritas. Dalam hal ini, kelompok minoritaslah yang kerap menjadi korban, baik diskriminasi, kekerasan, dan bahkan dalam beberapa kasus, korban jiwa tak terhindarkan, seperti dalam kasus warga Ahmadiyah di Cikeusik.

Potret kehidupan kaum minoritas yang menjadi korban inilah yang ditampilkan oleh Anick HT dalam buku ini. Buku ini memuat lima kisah dramatis yang menimpa kelompok minoritas. Kisah pertama adalah tentang tergerusnya agama lokal berhadapan dengan agama mayoritas yang melakukan dakwah atau penginjilan. Kepercayaan Patuntung yang sudah dianut oleh warga Suku Kajang turun temurun harus berhadapan dengan pendatang yang membawa agama baru dari luar.

Kisah kedua adalah kisah tentang kelompok penghayat kepercayaan Sapta Darma yang karena dalam KTP-nya harus mencantumkan satu di antara enam agama “yang diakui”, maka identitas mereka dalam KTP adalah “Islam”. Namun salah satu ormas Islam memprotes dan melakukan penyerangan ke padepokan mereka karena mereka dianggap sesat; beribadah menghadap ke Timur.

Kisah ketiga memotret kehidupan warga pengungsi Ahmadiyah di Asrama Transito, Mataram yang telah menjadi tempat tinggal mereka selama bertahun-tahun, setelah kampung diserang dan diporakporandakan. Kisah inilah yang nampaknya menginspirasi Anick HT untuk memilih judul “Kuburlah Kami Hidup-hidup”, berdasarkan sebuah surat yang ditulis oleh warga pengungsi kepada Walikota Mataram saat itu.

Kisah berikutnya adalah kisah tentang konflik batin dan dinamika kehidupan yang dialami oleh seorang pendeta yang hampir putus asa menghadapi kesulitan mendirikan rumah ibadah mereka di negeri yang menjamin kebebasan beragama.

Kisah terakhir adalah kisah seorang anak muda pencari Tuhan. Kisah ini menggambarkan dengan apik proses dialog seorang anak manusia dengan Tuhannya, dialog dan perjumpaan dia dengan agama-agama yang ada, hingga pertanyaan eksistensial tentang Tuhan itu sendiri.

Anick HT, penulis buku ini adalah aktivis isu-isu pluralisme dan dialog antar-agama. Seperti komentar KH Husein Muhammad dalam buku ini: “Anick seperti tak sabar memendam resah yang berlapis. Ia menumpahkannya dalam rangkaian kata-kata sarkasme yang manis sekaligus menggugah dan menohok. Dengan ketajaman mata hatinya, ia melihat realitas bangsa yang mendeklair diri religious itu sungguh menjerat. Agama tak lagi ramah. Ia justeru jadi pedang yang siap menebas leher mereka yang kecil, lemah dan tersingkir. Dan ia ingin menyentuh kesadaran pembaca “Pusi Essai”nya ini untuk kembali kepada makna genuine agama: “membebaskan dan mencerahkan”. (h. 7) []

Sumber: Rakyat Merdeka Cetak, 17 Februari 2014, h.6