Judul buku ini sangat memiriskan: Kuburlah Kami Hidup-hidup. Nampaknya judul ini diambil dari surat keputusasaan yang dikirimkan oleh pengungsi Ahmadiyah di Asrama Transito, Mataram, setelah bertahun-tahun mereka tinggal di pengungsian tanpa kejelasan status.

Ini adalah sebuah buku yang memotret kisah-kisah tragis kaum minoritas di Indonesia, negeri yang demokratis dan menjunjung tinggi toleransi. Buku ini mengungkap fakta-fakta miris betapa kelompok minoritas di negeri ini masih mengalami diskriminasi, persekusi, dan kekerasan. Kebhinnekaan dan kemajemukan yang dianggap sebagai aset penting pemersatu bangsa seperti halnya jargon-jargon yang dipertontonkan oleh para pejabat tinggi, dalam realitasnya justru seringkali menjadi alasan untuk menebar kebencian antar kelompok.

Meski cukup banyak hasil riset dan laporan media tentang tren intoleransi ini, namun kepedulian publik terhadap masalah ini masih sangat minim. Meski juga sudah banyak lembaga swadaya masyarakat yang melakukan advokasi terhadap isu ini, namun sepertinya negara tersandera oleh kelompok masyarakat yang lebih besar yang seringkali menghalalkan kekerasan untuk mengekspresikan keinginan mereka. Bahan tak jarang kita melihat aparat negara yang sangat supportif terhadap kelompok intoleran yang makin marak.

Keresahan dan derita kaum minoritas semacam inilah yang coba ditebarkan oleh penulis buku ini, Anick HT. Buku ini memuat lima kisah dramatis yang menimpa kelompok minoritas. Kisah pertama adalah tentang tergerusnya agama lokal berhadapan dengan agama mayoritas yang melakukan dakwah atau penginjilan. Kisah kedua adalah kisah tentang kelompok penghayat kepercayaan Sapta Darma yang karena dalam KTP-nya harus mencantumkan satu di antara enam agama “yang diakui”, maka identitas mereka dalam KTP adalah “Islam”.

Kisah ketiga memotret kehidupan warga pengungsi Ahmadiyah di Asrama Transito, Mataram yang telah menjadi tempat tinggal mereka selama bertahun-tahun. Kisah berikutnya adalah kisah tentang konflik batin dan dinamika kehidupan yang dialami oleh seorang pendeta yang hampir putus asa menghadapi kesulitan mendirikan rumah ibadah mereka.

Kisah terakhir adalah kisah seorang anak muda pencari Tuhan. Kisah ini menggambarkan dengan apik proses dialog seorang anak manusia dengan Tuhannya, dialog dan perjumpaan dia dengan agama-agama yang ada, hingga pertanyaan eksistensial tentang Tuhan itu sendiri.

Buku yang disebut bergenre puisi esai ini memang dengan jernih memetakan persoalan dan realitas yang disorotnya, baik melalui narasi puisinya maupun melalui catatan kaki yang sangat detil dan lengkap. Puisi esai sendiri diperkenalkan oleh Denny JA melalui bukunya: Atas Nama Cinta (Renebook, 2012). Meski perdebatan tentang puisi bercatatan kaki masih cukup ramai, namun seperti pengakuannya, Anick HT menganggap bahwa format puisi esai ini “mampu menampung luapan amarah yang menggelayut, lalu menularkan amarah itu kepada pembaca, tanpa harus berjarak terlalu jauh dengan bayangan makna yang dipahat dari imaji dan metafor yang terlalu melangit. Di lain pihak, jarak yang sama jauhnya juga seringkali dibangun oleh keniscayaan prosedural ilmiah atawa etika jurnalistik yang harus diamini oleh para penulis fakta.” (h. 17)

Membaca buku ini seperti membaca kepedihan dan tragedi kemanusiaan yang menimpa kelompok minoritas di Indonesia. Penulisnya berhasil menghadirkan secara dramatik kasus-kasus penting dalam konteks relasi antar-agama dan relasi antara agama dengan negara. Melalui perpaduan antara fiksi dan fakta, buku ini seperti menularkan keresahan dan konflik batin yang dialami para korban diskriminasi.

Buku ini menyentil kesadaran pembacanya untuk turut ambil bagian dalam kekacauan yang ada di negeri demokrasi ini. Buku ini juga mengingatkan kita untuk mengembalikan agama pada fungsi fitrahnya, membebaskan dan mencerahkan. []

Judul buku : Kuburlah Kami Hidup-hidup
Penulis : Anick HT
Penerbit : ICRP dan Inspirasi.co
Halaman : 170 halaman.
Edisi : Cetakan Pertama, Januari 2014

resensi tangsel pos 22 feb kecil

Sumber: Tangsel Pos, Edisi Weekend: Sabtu-Minggu, 22-23 Februari 2014