Oleh: Husni Mubarok

Tinggal menghitung hari, Susilo Bambang Yudoyono (SBY) akan menyelesaikan tugasnya sebagai presiden Indonesia. Genap 10 tahun, ia menjabat sebagai kepala negara. Ada banyak hal yang sudah ia kerjakan. Ada pekerjaan yang tuntas, ada pula yang tidak. Pekerjaan yang belum atau tidak tuntas ia kerjakan, otomatis menjadi warisan untuk presiden berikutnya.

Mengingat besarnya wilayah dan kompleksitas persoalan bangsa Indonesia, SBY mewariskan seabrek pekerjaan rumah. Kali ini, saya ingin mencatat warisan SBY terkait masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan. Warisan pada bidang ini penting mengingat Indonesia telah meratifikasi konvensi internasional mengenai hak sipil politik.

***

Kita akan memperoleh informasi warisan SBY bidang ini dari berbagai laporan-laporan yang ditulis sejumlah lembaga, dalam maupun luar negeri. Di sana, kita akan mendapati jumlah, lokasi, dan aktor-aktor, baik negara maupun non-negara. Namun, saya tertarik melihat warisan SBY itu dari buku kecil Kuburlah Kami Hidup-hidup (2014).

Buku ini ditulis Anick HT, aktivis yang selama ini bekerja membela kebebasan beragama dan berkeyakainan. Ia memiliki pengalaman panjang mendampingi komunitas yang selama ini kesulitan hidup di Indonesia lantaran agama dan keyakinannya. Ia, dalam buku ini, merajut persoalan kebebasan beragama dari sudut pandang korban melalui puisi. Kegalauan, kesulitan dan kerisauan dalam buku ini merepresentasikan persoalan yang selama ini belum atau tidak disentuh secara serius oleh SBY.

Buku ini terdiri dari lima cerita. Cerita pertama, Anick membawa kita pada kegundahan hati tetua Patuntung—sebutan untuk aliran kepercayaan di Tanah Toa Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Tetua suku Kajang gundah lantaran anak suku Kajang yang kini sudah beragama Islam menyebarkan ajaran baru itu kepada warga penganut Patuntung. Mengapa ajaran baru itu mesti menganggap ajaran Patuntung sebagai tak suci dan tak bernilai di hadapan Tuhan.

Kegundahan hati tetua suku Kajang ini merepresentasikan konflik batin antara penganut aliran kepercayaan (atau agama lokal) dengan penganut agama yang membawa misi di Indonesia. Sapto Dharmo di Yogayakarta, cerita kedua buku ini, adalah korban perseteruan ini. Sekelompok orang, menggunakan atribut FPI, menyambangi padepokan Sapto Dharmo. Dengan alasan aliran sesat dan menodai Islam, mereka obrak abrik padepokan tersebut.

Cerita ketiga, tidak kalah tragis. Penganut Ahamdiyah di Lombok, Nusa Tenggara Barat terusir dari tanah kelahiran karena meyakini apa yang tak dikehendaki mayoritas Muslim. Lebih dari 473 hari, mereka hidup seadanya. Mereka hidup di pengungsian setelah mereka diserang sekelompok orang beberapa kali.

Nasib serupa dialami sejumlah umat Kristen di Jakarta dan sekitarnya, pada cerita keempat. Mereka tak dapat mendirikan gereja. Ada gereja baru sosialisasi hendak mendirikan gereja, ditolak warga. Gereja lainnya telah mendapat dukungan warga sebagaimana dipersyaratkan regulasi, juga ditolak warga. Bahkan, gereja lainnya sudah mendapat izin mendirikan bangunan (IMB) tak dapat membangun gerejanya.

Cerita kelima, buku ini mengisahkan seorang pengembara yang mempertanyakan posisi Tuhan di tengah-tengah penindasan dan penderitaan umat manusia.

***

Berkaca pada cerita di atas, paling tidak ada tiga warisan persoalan yang harus diemban presiden baru. Warisan pertama adalah mengupayakan penganut aliran kepercayaan mendapat tempat yang setara dengan penganut agama lainnya di Indonesia. Harus diakui bahwa rezim SBY mewarisikan satu kebijakan baik dalam konteks aliran kepercayaan. Pemerintah membolehkan penganut aliran atau agama lokal mengisi dengan nama agamanya atau mengoosongkan kolom agama pada kartu identitas (KTP).

Kebijakan itu tentu saja langkah maju yang patut diapresiasi, tetapi belum cukup untuk menyelesaikan persoalan. Meski sudah boleh mengosongkan kolom agama, tetapi administrasi lain tidak otomatis mengikuti. Misalnya, surat nikah, akta kelahiran anak dan seterusnya. Mereka juga masih mendapat perlakuan diskriminatif di sekolah, di tempat kerja, di kelurahan, sampai di tempat pemakaman umum.

Warisan berikutnya adalah pengungsi akibat konflik antar sekte keagamaan. Penganut Ahmadiyah di NTB dan Syiah di Jawa Timur adalah dua kelompok yang masih mengungsi lantaran kampung halamannya diserang. Rezim SBY tidak mampu mengembalikan mereka ke tempat asalnya. Di tempat pengungsian, mereka tidak dapat fasilitas pendidikan layaknya warga biasa; mereka tidak dapat layanan kesehatan normal; bahkan anak yang menjelang dewasa tak mendapatkan kartu identitas sebagaimana warga lainnya.

Warisan lainnya adalah masalah pendirian tempat ibadat. di pulau Jawa, umumnya masalah menimpa mereka yang ingin mendirikan gereja. Sementara di wilayah seperti Nusa Tenggar Timur, orang terhambat untuk mendirikan masjid. Di sejumlah tempat, vihara dan tempat ibadat lainnya tidak bisa mereka bangun. Masalah ini bisa melebar jika terus menerus dibiarkan.

***

Betul bahwa SBY pernah mendapat penghargaan “World Statesman Award” dari Appeal of Conscience Foundation karena dianggap telah memelihara perdamaian bersama dan meningkatkan hak asasi manusia, kebebasan beragama dan kerjasama antaragama. Faktanya, ia mewariskan masalah sosial keagamana yang sangat serius.

Kurang dari empat bulan ke depan, kita akan mempunyai presiden baru. Ia harus bersiap menanggung dan menyelesaikan tiga warisan SBY di atas. Jika prediksi sejumlah lembaga survey benar bahwa Jokowi yang akan menjadi presiden Indonesia berikutnya, peluang untuk mengatasi warisan masalah di atas cukup terbuka. Terbukti, Jokowi tegas mempertahankan Susan Jasmin sebagai lurah Lenteng Agung, yang diprotes sejumlah warga karena agamanya. Ia bertahan, dan pemrotes sedikit demi sedikit berguguran.

Namun jika hasil survey-survey itu meleset, dan kita mendapatkan presiden lain, maka perlu kerja ekstra untuk mendesakkan kesetaraan warga negara dalam meyakini dan menjalankan keyakainannya itu.

Siapapun presidennya, buku Kuburlah Kami Hidup-hidup perlu dibaca para pemimpin negeri ini untuk dapat merenungi dan merasakan apa yang diderita dan dirasakan warga kelompok minoritas di Indonesa. Melalui buku ini juga, kita akan tahu sebagian dari masalah yang diwariskan rezim SBY kepada presiden berikutnya.

Sumber: Inspirasi.com