Isu diskriminasi sangat pekat di Indonesia. Adanya penolakan terhadap yang bukan golongannya semakin digelorakan; dari mahzab ke mahzab, dari sosial ke ruang ruang struktural. Begitulah secara nyata kaum mayoritas di negeri ini memamah biak untuk memangsa kaum minoritas; baik dari asal-usul keyakinan, agama maupun sosial; dunia seakan milik kaum superior dan tidak ada tempat bagi kaum mayoritas.

Sementara itu kaum minoritas berharap cemas dengan pelbagai “kepentingan” yang digaungkan oleh kaum mayoritas—ini berlaku bagi aspek apapun—dan lebih kejamnya separuh lubang minoritas ini menjadi titik masuk untuk memasang perangkap dari kaum minoritas itu. Terutama dalam kerangka politis—politik praktis, ekonomi, kebudayaan dan pembangunan.

Nampaknya sangat paradoks, jika dibandingkan dengan “ideologi” negara yang mengusung pancasila. Sikap saling menghormati, menghargai satu sama lain harus dijadikan landasan sosial. Ini harga mati, sebab negara Indonesia sudah mengikrarkan Bhineka Tunggal Ika: berbeda tetap satu jua.

Secara sosial, baik isu atau laku konflik diskriminatif harus segera disadari oleh berbagai pihak untuk dihindari. Namun, proses penyadaran itu perlu menitik pada kesadaran ruang sosial. Para aktivis sosial, peneliti, tidak henti-hentinya menyerukan untuk dapat berlaku menghargai sesama. Toleransi adalah harga mati. Ini penting diperhatikan jika melihat sejumlah ungkapan para pegiat sosial-keagamaan yang ada di Indonesia.

Tentu saja sejumlah kasus konflik yang pernah terjadi—baik agama ataupun sosial–namun, lain halnya dengan seorang Anick HT.  Ia kerapkali dikenal sebagai peneliti sosial pada isu yang terkait plularisme, toleransi dan diskriminasi. Ia sudah bergelut sekian lama dengan isu-isu yang “genting” di Indonesia. Sebagai pengelola Democracy Project, Yayasan Abad Demokrasi—sebuah lembaga yang menerbitkan perpustakaan digital untuk isu-isu Islam dan Demokrasi. Selain itu pula, pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif ICRP periode 2008-2010. Sementara untuk tulisan kolomnya, ia juga berfokus pada isu-isu Islam, plularisme, dan dialog antar-agama.

Dengan demikian, tidak salahlah secara biografi ia menerbitkan kumpulan Puisi-Esai yang berjudul “Kuburlah Kami Hidup-hidup”. Sekilas membaca judulnya, terkesan adanya kegentingan dalam puisi-esai yang ia bukukan ini.

Dalam buku ini, ada lima puisi-esai yang disajikan. Kelima puisi itu, mengangkat tema yang tidak jauh dari fokus kajiannya; diskriminasi, pluarisme, dan dialog antar agama. Bedanya, dalam bentuk puisi-esai fokus naratif menjadi lebih segar dengan ungkapan prosaik—metafora simile—yang ada dalam puisi-esainya.

Kenapa Anick HT menulis dalam puisi-esai? Tentunya pertanyaan ini akan dijawab hanya persoalan pilihan media/bentuk saja. Karena yang terpenting dalam fokusnya adalah mengangkat isu-isu diskriminasi yang tengah (telah) terjadi di Indonesia.

Oleh karena itu, Acep Zamzam Noor dalam pengantar buku ini menyebutkan “Ketiga Puisi Anick HT; “Olenka Generasi yang Hilang,” Tuhanmu bukan Tuhanmu” dan “Kuburlah Kami Hidup-hidup,” menampakan  watak kepenyairannya ketimbang intelektualnya, atau paling tidak ada keseimbangan di antara keduanya…dengan sudut pandang tersebut ia menyuarakan apa yang menjadi gagasan.  Ia bertutur bukan sebagai peneliti, tapi sebagai tokoh fiktif yang diciptakannya. Realitas dan imaji berkelindan dalam tubuh puisi, lalu metafor yang merupakan unsur penting dari puisi juga kerapkali muncul di antara keduanya. Adapun catatan kaki menjalankan tugasnya di balik layar sebagai pemberi data tambahan, atau dalam beberapa bagian menjadi perekat antara fakta dan fiksi.” (hlm 29).

Sebagaimana diketahui bahwa puisi-esai bentuk puisi yang meramu antara fakta dan fiksi itu. Dua jenis yang dapat merangkainya hingga dapat ditemukan logika fiksi dan catatan kaki sebagai racikan data untuk menciptakan tokoh-tokoh yang bersuara kegentingan.

Pada puisi Anick HT berjudul “Olenka, Generasi yang Hilang,” ia dapat memunculkan tokoh tetua adat yang menjadi saksi penerapan syariah yang dipaksakan pemerintah Bulukumba. Sementara itu, pada puisi “Tuhanmu bukan Tuhanmu,” ia menampilkan tokoh anak FPI terhadap aliran kepercayaan di Yogyakarta. Selanjutnya pada “Kuburlah Kami Hidup-Hidup” diciptakannya tokoh korban yang menjadi saksi dari semua kekerasan terhadap jemaat Ahmadiyah, termasuk sejarah panjang Ahmadiyah di Lombok.

“Aku bersaksi

juga kursi roda ini

gadis kecil itu setegar karang

ia telah melewati 473 hari

tanpa sesunggih senyum pun di bibirnya” (hlm 88).

Begitulah narasi kegentingan pada pembukaan “Kuburlah Kami Hidup-Hidup”. Selain ada beberapa puisi-esai yang dapat kita baca serta cermati untuk memberikan kesadaran lain terhadap isu plurasime, dialog antar agama dan diskriminasi pada kelompok minoritas.

Oleh karenanya, tidak salah untuk menjadi buku ini sebagai ruang mencecap elemen-elemen puitika; metafora, simile dan racikan data dari pelbagai peristiwa yang terjadi dalam pergolakan diskriminasi sehingga dari kegentingan itu dapat memberikan ruang kesadaran bagi para pembacanya agar dimanifestasikan dalam laku sosial. Selamat membaca!

_____________________________________

Judul    : Kuburlah Kami Hidup-Hidup

Penulis: Anick HT

Pengantar: Acep Zamzam Noor

Penerbit: Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)

Cetakan I : Januari 2014

ISBN: 978-979-18746-2-5

Peresensi : Gustaf Aminudin, Pegiat Pendidikan, Sosial dan Keagamaan, bermukim di Bandung.

Sumber: rimanews.com

abuku