Ringkasan Buku

Jika Anda ditanya: masihkah ada diskriminasi di Indonesia? Mungkin tak akan ragu anda menjawab iya, sekaligus menyediakan contoh-contoh yang sangat gamblang di depan mata. Pertanyaan berikutnya tentu akan lebih sulit dijawab: mampukah kita mewujudkan Indonesia tanpa diskriminasi? Kapan itu bisa diwujudkan?

Buku ini dipicu oleh pertanyaan penting itu, lalu menstimulasi sebuah mimpi besar seorang Denny JA untuk turut berkontribusi mewujudkan Indonesia tanpa diskriminasi.

Buku karya Denny JA ini menyediakan banyak data dan analisa, serta menawarkan beberapa strategi dalam upaya mewujudkan bangsa Indonesia yang bebas diskriminasi. Berdasarkan kajian data dan analisisnya, Denny JA sampai pada rumusan formula untuk mencapai kondisi Indonesia tanpa diskriminasi, yakni ND= 55%I+45%A. ND adalah keadaan Non-Diskriminasi, sementara I adalah Infrastruktur Sosial dan A adalah Aktor atau Agency. Formula ini adalah peta jalan strategis dalam upaya mewujudkan mimpi di atas.

Setiap Manusia Pada Dasarnya Memiliki Hak Yang Sama

Dunia ini mengalami sejarah diskriminasi yang sangat panjang. Diskriminasi adalah prasangka atau perilaku yang membedakan seseorang hanya karena ia berasal dari sebuah identitas sosial (agama, etnis, ras, gender, orientasi seksual). Hanya karena berbeda agama, misalnya, ada orang yang dibakar hidup-hidup. Hanya karena berkulit hitam, misalnya, orang bisa dijadikan budak, diperkosa, atau dianiaya tanpa bisa dibela.

Dalam perjalanan sejarah, muncul pula antitesis kultur diskriminatif tersebut. Lahirlah konsep bahwa setiap manusia, apapun agama, etnis, jenis kelamin, ras, kelas sosial ataupun orientasi seksual pada dasarnya mempunyai hak-hak yang sama. Konsepsi inilah yang kemudian dikenal sebagai Hak Asasi Manusia.

Meski sejarah konsepsi HAM ini bisa dirunut sampai abad ke-18, namun momentum terbesar dari perkembangan HAM adalah lahirnya Deklarasi Universal HAM oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1948. Sejak itulah kemudian mayoritas negara-negara di dunia mulai mengadopsi dan menerapkan prinsip-prinsip HAM.

Tingkat Diskriminasi Di Indonesia Berada Pada Posisi Warning Zone

Mari kita bicara tentang data. Seberapa jauh diskriminasi terjadi hari ini di Indonesia dan di dunia? Isu apa saja yang menjadi titik krusial ketika kita membicarakan diskriminasi? Semua ada datanya.

Bayangkan, di Indonesia ini, selama masa reformasi, sudah lebih dari 10.000 nyawa melayang hanya karena perbedaan agama, paham agama, dan etnis. Lebih dari 700.000 penduduk mengungsi karena konflik primordial.

Kita akan mendapatkan gambaran persepsi umumnya jika kita membaca hasil survei Lingkaran Survei Indonesia tahun 2010. Publik Indonesia mayoritas (75,6%) memang menyatakan mereka tidak masalah dan bisa menerima tetangga orang yang berbeda agama. Hanya 22,6% saja publik yang tidak bisa menerima. Tetapi hanya 51,9% masyarakat yang bisa menerima kalau di lingkungan mereka didirikan tempat ibadah dari agama lain. Data survei ini memperlihatkan bahwa pendirian rumah ibadah, aktivitas, dan upacara keagamaan tetap bisa memancing sentimen negatif.

Dari semua data di dunia, diskriminasi di Indonesia berada di “warning zone,” area agak berbahaya, , di atas rata-rata walau bukan area yang terburuk. Baik diskriminasi karena agama, etnis, perempuan ataupun orientasi seksual, rapor Indonesia masih merah, jika prosentase rata-rata itu dianggap sebagai ambang batas prosentase diskriminasi.

Tentang Penyebab Diskriminasi

Praktik diskriminasi terjadi akibat masyarakat tidak mempunyai toleransi terhadap orang yang mempunyai latar belakang berbeda–agama, ras, jenis kelamin, orientasi seksual dan sebagainya. Kata “diskriminasi” kerap kali dilawankan dengan “toleransi”. Masyarakat yang toleran adalah masyarakat yang tidak melakukan diskriminasi, dan demikian juga sebaliknya.

Terdapat tiga penjelasan klasik mengenai penyebab tinggi rendahnya toleransi di kalangan masyarakat, yakni penjelasan sosiologis, psikologis dan politik.

Pertama, penjelasan sosiologis. Tingginya toleransi atau rendahnya praktek diskriminasi menurut teori ini disebabkan oleh faktor-faktor sosiologis. Kedua, penjelasan psikologis. Sikap diskriminasi adalah bagian dari kepribadian sebagai akibat dari kondisi psikologis seseorang.

Ketiga, penjelasan politik. Menurut teori ini, lahirnya sikap diskriminatif bukan akibat latar belakang seseorang (sosiologis) ataupun kepribadian (psikologis), tetapi akibat nilai, kepercayaan yang dimiliki oleh seseorang.

Perjuangan Melawan Diskriminasi

Perjuangan melawan diskriminasi memiliki sejarah yang amat panjang. Jika kita hari ini melihat bahwa seorang Obama yang berkulit hitam bisa menjadi presiden Amerika, maka itu tak lepas dari perjuangan panjang para penentang diskriminasi. Mari kita belajar dari sejarah perjuangan di negara-negara lain.

Sejarah mencatat bahwa diskriminasi atas nama agama bisa didamaikan asalkan pihak-pihak yang terlibat dalam diskriminasi konflik tersebut bersedia menerima kehadiran orang lain yang mempunyai keyakinan berbeda. Salah satu keberhasilan perjuangan melawan diskriminasi yang berhasil adalah kesetaraan Kristen Protestan dan Katolik dalam kehidupan masyarakat Amerika.

Contoh lain adalah perjuangan warga kulit hitam (Afrika-Amerika). Gerakan atau perjuangan tersebut bukan hanya berhasil dalam mengubah konstitusi agar melindungi hak mereka, tetapi juga secara perlahan mengubah pandangan masyarakat. Warga kulit hitam yang sebelumnya dipandang warga kelas dua, saat ini dipandang tidak ada bedanya dengan warga kulit putih.

Dengan Peta Jalan Yang Jelas, Indonesia Tanpa Diskriminasi Akan Terwujud Lebih Cepat

Di Amerika dan Eropa, perjuangan melawan diskriminasi membutuhkan waktu yang lama, puluhan hingga ratusan tahun. Perjuangan kalangan homoseksual misalnya secara sistematis telah dimulai sejak tahun 1969, dan baru terlihat hasilnya 40 tahun kemudian. Perjuangan masyarakat kulit hitam di Amerika bahkan sudah dimulai sejak awal abad XX, dan baru terlihat hasilnya satu abad kemudian.

Indonesia tentu tidak perlu harus menunggu ratusan tahun untuk menciptakan masyarakat bebas diskriminasi. Perjuangan tersebut harus dirancang dengan baik sehingga berhasil. Karena itu, kita membutuhkan roadmap, peta jalan strategis.

Peran aktor juga menempati posisi penting dalam peta jalan ini. Salah satunya adalah masyarakat sipil. Dari pembelajaran kita terhadap pengalaman di negara-negara lain seperti di atas, kita bisa menyimpulkan juga bahwa perjuangan anti diskriminasi tidak akan berhasil tanpa keterlibatan masyarakat sipil yang kuat.

Penutup

Diskriminasi adalah konstruksi sosial manusia. Karena itu, tidak ada alasan bahwa kita tidak bisa mengubah konstruksi itu menjadi konstruksi lain yang lebih baik, Indonesia Tanpa Diskriminasi.

Buku ini dengan sangat runut menggiring kita untuk memahami sejarah, teori, dan konsepsi diskriminasi serta faktor-faktor penyebabnya di Indonesia dan dunia. Buku ini juga bergerak ke konsepsi dan strategi untuk melawan diskriminasi, hingga menghasilkan apa yang dibayangkannya sebagai “Indonesia Tanpa Diskriminasi”.

Seperti diakui pula oleh Denny JA, penulisnya, buku ini memang juga diniatkan untuk memberi arah sebuah gerakan sosial. Di Indonesia banyak sekali gerakan sosial yang terjadi tanpa satu buku putih. Banyak sekali terjadi aktivisme tanpa roadmap perjuangan. Buku ini diniatkan untuk membuat tradisi baru gerakan sosial, dengan menyediakan roadmap, data, dan tahapannya.

Membaca buku yang sangat kaya data ini bukan saja mengenyangkan, namun juga membuat kita menyadari bahwa banyak hal yang bisa dan perlu kita lakukan untuk Indonesia yang lebih baik. Semoga.

[]

Anick HT

===

Judul: Menjadi Indonesia Tanpa Diskriminasi

Tahun: Maret, 2014

Tebal: 332 Halaman

Penulis: Denny JA

Penerbit: Jakarta, Inspirasi.co