Ringkasan Buku

Tentu semua kita sering melakukan perjalanan dan kunjungan. Momentum, artefak, dan situs-situs tertentu akan menyuguhkan kepada kita variasi budaya dan sejarah manusia.

Buku ini berisi bentangan catatan peradaban yang sangat kaya. Ketika seorang pencari makna melakukan perjalanan fisik, maka yang tertangkap bukan hanya keanekaragaman bentuk lahiri serta karya arsitektural tempat yang dikunjungi, namun juga sejumlah gagasan besar yang lahir dari akal budi manusia pada zaman dan lokasi tertentu. Ketika seorang ilmuwan mencatat perjalanan, maka yang tertangkap adalah sejarah peradaban yang kaya dan serba menakjubkan.

Melalui buku ini, Denny JA mengajak kita untuk menghampiri satu titik perjalanan, lalu melihatnya dengan kaca mata yang sangat luas: pengalaman spiritual, sejarah, ilmu pengetahuan, dan imajinasi peradaban. Denny JA menuntun kita untuk memaknai peradaban dari berbagai perspektifnya.

Falsifikasi Fakta Sejarah Agama Tak Meruntuhkan Iman

Mari kita memulai perjalanan dengan menjejakkan kaki menuju Mekkah, Yordania, Mesir, Barcelona, dan menelusuri jejak-jejak agama besar.

Sebuah studi berbasis teknologi modern, termasuk penggunaan GPS (Global Positioning System) menemukan bahwa pada 100 tahun pertama Islam, kiblat masjid tidak mengarah ke Mekkah, namun ke Petra, Yordania. Ini termasuk temuan penelitian yang menggemparkan. Keyakinan berabad-abad difalsifikasi oleh riset modern.

Tahun 2001, sebuah proyek dengan pendekatan ilmiah juga menyimpulkan: Yesus ternyata berkulit agak hitam, berambut lebih pendek, dan ikal keriting kecil. 10 Desember 2014, Washington Post menurunkan tulisan provokatif: Apakah Nabi Musa benar-benar ada dalam sejarah? Dan para arkeolog pun selama puluhan tahun melakukan penelitian sejarah Nabi Musa. Kesimpulan para arkeolog: Musa bukanlah figur sejarah.

Akankah penemuan ilmiah menghancurkan agama? Sejarah membuktikan, agama dan segala keyakinan di dalamnya bertahan sampai hari ini. Agama memiliki seribu nyawa. Ia tak bisa dibunuh oleh temuan ilmiah sehebat apapun.

Tak Ada Yang Mustahil Dalam Sejarah Politik

Kita lanjutkan perjalanan berikutnya, dimulai dari Korea Utara. Mari kita lihat jejak perubahan sejarah dan keunikan peradaban manusia melalui politik.

Adakah yang tak kenal Kim Jong Un? Ia adalah penguasa atau Pemimpin Tertinggi Korea Utara sejak tahun 2011. Pada tahun 2012, konstitusi negara itu ditulis ulang. Dan dalam konstitusi itu pula termaktub keputusan yang ajaib: mengangkat kakeknya: Kim Il-Sung yang sudah meninggal tahun 1994 sebagai Presiden Abadi Korea Utara, dan ayahnya: Kim Jong-Il yang sudah meninggal tahun 2011 sebagai Sekretaris Jenderal Abadi Korea Utara. Ya, ini hanya bisa terjadi di Korea Utara, negara sosialis yang dipimpin oleh diktator termuda di dunia.

13 Februari 2008 adalah tanggal penting bagi sejarah peradaban di Australia. Hari itu, Perdana Menteri Kevin Michael Rudd secara resmi meminta maaf kepada warga suku Aborigin yang selama puluhan tahun dianggap sebagai warga kelas dua, “Half Caste”. Kebijakan itu telah memisahkan ratusan ribu anak dari ibunya, anak dari ayahnya. Lahirlah apa yang dsebut sebagai “generasi yang hilang.” Beberapa kisah kasus half caste ini diabadikan dalam sebuah museum di Canberra, yakni National Museum of Australia.

Seni Dan Kegilaan, Dua Elemen Warna Peradaban

Mari kita lihat sebuah bangunan gedung teater.

Tahun 1997, seorang aktor bernama Sam Wanamaker mendedikasikan diri membangun sebuah gedung teater. Gedung itu adalah replika dari Globe Theater, tempat di mana Shakespeare mementaskan karya-karyanya. Globe Theater aslinya dibangun tahun 1599, ambruk beberapa kali, terbakar di tahun 1613. Lalu dibangun lagi tahun 1614, dan dihancurkan tahun 1644. Membaca karya-karya Shakespeare seolah kita meringkas puncak-puncak emosi sejarah manusia.

Sahabat, tahukah Anda, ada hubungan apa antara kreativitas dan kegilaan? Mengapa banyak kalangan genius memiliki isu mental? Pelukis Van Gogh yang genius memotong kupingnya sendiri. Beethoven memiliki masalah mental disorder. Sastrawan Ernest Hemingway dan Virginia Woolf mengakhiri hidupnya sendiri.

Antoni Gaudi adalah seorang arsitek Spanyol yang karyanya dianggap paling monumental dalam sejarah. Gereja Basilica, yang dibangun berdasarkan karyanya “La Sagrada Familia” tidak kunjung selesai dibangun selama 100 tahun, sangking rumitnya perhitungan matematika dalam arsitekturnya. Di masa tuanya, ia mengisolasi diri dan hidup seperti pengemis.

Fiksi Dan Imajinasi, Dua Elemen Pembentuk Peradaban

Apakah kaum pekerja selalu menjadi manusia miskin? Dan pengusaha selalu menjadi orang kaya?

Sahabat, jika Anda mengunjungi Moskow, di salah satu sudutnya menjulang patung tinggi besar. Tingginya 98 meter. Itulah patung Peter The Great, bapak modernisasi Rusia. Rusia hari ini adalah Rusia yang menjadi alternatif dari apa yang disebut peradaban Barat. Dan ia memulai modernisasi dengan langkah ajaib: menerapkan pajak untuk jenggot.

Dan tahukah Anda bahwa kisah yang ditulis oleh Marco Polo adalah kisah fiksi? Sejarawan menyimpulkan bahwa kisah yang ditulis Marco Polo adalah kisah fiktif. Meski demikian, kisah itu telah mempengaruhi perjalanan sejarah peradaban setelahnya.

Dan fiksi itupun bergerak searah zaman. Fiksi dari kebijakan publik dan ideologi modern menggantikan fiksi yang merujuk kitab suci. Fiksi kebijakan publik dan ideologi modern berbasis pada otonomi individu dan kehebatan proses analisis manusia. Kini justru basis itu yang kini keropos. Robot dan aplikasi yang bersandar artificial intelligence terbukti lebih akurat, lebih cepat, lebih kuat, juga lebih murah. Artificial intelligence telah mengalahkan akurasi dan kecepatan berpikir manusia. Maka kita membutuhkan fiksi baru untuk menyambut peradaban baru.

Perubahan Zaman Mengubur Raksasa Usang

Kereta perubahan bergerak sangat cepat saat ini. Proses bergesernya peradaban menggilas para raksasa yang sangat kokoh pada zamannya.

Tahukah Anda siapa yang menjajah Indonesia pada abad 17 hingga 18? Ia bukan sebuah negara, melainkan sebuah perusahaan bernama VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie). Ini adalah perusahaan yang paling tinggi kekayaannya sepanjang sejarah. Ia lebih kaya dibandingkan dengan gabungan kekayaan Apple, Google, Microsoft, Petri China, dan Saudi Aramco. Ia bahkan memiliki pasukan militer sendiri. Namun ia kemudian runtuh karena konflik politik, dan pendirinya, Johan Olden Barnavelt dihukum pancung.

Kisah raksasa lain adalah kisah keluarga Medici. Keluarga ini berkontribusi besar dalam menumbuhkan peradaban. Adalah keluarga ini yang ikut membantu keuangan dan karya seniman besar Leonardo da Vinci, Michelangelo, ilmuwan Galileo Galilei, dan Machiavelli. Sebesar apa kehebatan keluarga Italia ini? Tiga keturunan keluarga ini menjadi paus (pope). Dua putrinya menjadi ratu dari dua raja Prancis. Keluarga mereka sendiri tumbuh menjadi penguasa di Florensia, Italia. Oleh keniscayaan perubahan zaman, akhirnya keluarga ini runtuh.

Penutup

Titik sejarah yang mana yang membuat peradaban kita hari ini menjadi seperti ini? Akankah kita bisa menikmati Facebook, Instagram, film-film Hollywood, jika Hitler dan Naziisme-nya tidak tumbang saat itu? Akankah agama-agama bertahan hidup jika tidak ada kisah tentang Perang Salib dan Raja Konstantinus tidak dilahirkan? Benarkah satu titik sejarah akan berpengaruh pada titik sejarah berikutnya?

Pertanyaan-pertanyaan menggelitik seperti inilah yang mestinya menggelantung dalam pikiran kita ketika kita melakukan perjalanan yang bermakna. Monumen, museum, patung, karya seni, ilmu pengetahuan, keputusan politik, semua itu adalah titik sejarah yang mengandung cerita yang kaya di belakangnya.

Denny JA adalah pemikir dan perenung dengan pengetahuan dan perspektif yang sangat luas. Dan ia menggunakan seluruh aspek pengetahuannya dalam melihat titik sejarah dan menikmati monumen penanda peradaban. Dan tentu, ia penulis yang mahir meracik khazanah itu menjadi ramuan optikal, cara pandang.

Di situlah buku ini berdiri.

[]

Anick HT

Judul: Renungan Peradaban: Catatan Perjalanan Lima Benua

Tahun: Oktober, 2019

Tebal: 155 Halaman

Penulis: Denny JA

Penerbit: Jakarta, Cerah Budaya Indonesia

Mencatat Perjalanan, Memaknai Peradaban