Arsip Formaci

From: apakabar@access.digex.net
Date: Sat Oct 05 1996 – 06:26:00 EDT

INDONESIA-L

Subject: SiaR–Diskusi Formaci Dibubarkan Polisi

Jakarta, SiaR — Sebuah diskusi yang sedianya diselenggarakan Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci), Selasa (1/10) malam lalu, dibubarkan aparat. Sedianya forum yang merupakan forum diskusi mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu, hendak menyelenggarakan diskusi bertema Pers Indone- sia pasca Peristiwa 27 Juli 1996, dengan pembicara Santoso, Ketua Presidium Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

Acara itu urung, karena sejak semalam sebelumnya, sejumlah orang yang mengaku petugas polisi, mendatangi sekretariat Formaci yang berlokasi di sekitar kampus IAIN. Pada tengah malam itu, mereka mengajak serta Ketua Rukun tetangga (RT) setempat, menanyakan izin dan hal-hal lain menyangkut kegiatan itu. Pak Ketua RT kelihatan panik, gemeter. Dia memang jantungan. Kayaknya sih Pak RT diteror oleh mereka, kata seorang aktifis Formaci, kepada SiaR.

Keesokan harinya, beberapa jam sebelumnya, lebih dari tujuh orang polisi berpakaian preman, kembali mendatangi sekretariat Formaci yang juga akan jadi tempat berlangsungnya diskusi. Mereka menanyakan Santoso, yang akan jadi pembicara. Tapi kan Santoso belum datang. Mereka juga bertanya, apa maksud kami menyelenggarakan diskusi yang berhubungan dengan Peristiwa 27 Juli 1996. Ya, kami jawab, lurus-lurus saja, ingin bertukar pikiran dengan orang-orang yang berkompeten, mengenai hal-hal aktual, ungkap Ray, salah seorang anggota Formaci.

Seterusnya sudah bisa diduga. Para petugas itu meminta agar diskusi itu ditangguhkan sampai suasananya memungkinkan. Formaci tentu saja menolak. Kami sudah biasa menyelenggarakan diskusi semacam ini, dan tak apa-apa. Kok sekarang minta dibubarkan, cetus seorang aktifis.

Beberapa saat sebelum acara dimulai, para petugas itu datang lagi, dengan tujuan sama: menanyakan Santoso, dan meminta agar acara dibatalkan. Padahal saat itu puluhan mahasiswa IAIN sudah berdatangan, siap mengikuti diskusi. Akhirnya, penyelenggara dan para peserta diskusi, tak bisa berbuat apa-apa. Dan panitia, terpaksa mengontak Santoso, mengabarkan bahwa diskusi urung dilaksanakan, karena dilarang petugas. Tapi para petugas ternyata belum puas. Mereka masih juga menongkrongi kawasan sekitar sekretariat Formaci, sampai jauh malam, lengkap dengan peralatan Handy Talky-nya. Baru sesudah lewat tengah malam, sesudah dirasa yakin bahwa diskusi tak akan diselenggarakan, para petugas polisi meninggalkan lokasi.

Ini penggrebekan kedua yang dilakukan polisi sesudah peristiwa 27 Juli. Sebelumnya, acara peringatan 40 hari Peristiwa 27 Juli, juga digrebek. Padahal beberapa hari sebelumnya, acara serupa yang diselenggarakan CIDES, think-tank-nya ICMI, bisa berlangsung dengan lancar-lancar saja. Ini juga, merupakan pembubaran pertama yang dialami Formaci. Sebelumnya, Formaci sering sekali menyelenggarakan berbagai kegiatan diskusi di tempat itu, dan semuanya berlangsung biasa-biasa saja. Terhadap para anggota Formaci yang memprotes pembunbaran itu, polisi menyatakan, bahwa diskusi mereka kali ini menyangkut hal yang sensitif, Peristiwa 27 Juli. Tapi seorang panitia membantah, Kalau acara CIDES bisa berlangsung, kenapa acara Formaci digrebek?. Toh temanya sama, seputar 27 Juli. Latar belakang penyelenggaranya pun sama-sama kelompok Islam. Apakah karena acara CIDES sudah pasti memberikan kesimpulan yang membela pemerintah dan menyudutkan kalangan pro demokrasi, sementara acara Formaci diduga akan menyuarakan sikap kritis terhadap pemerintah? keluh seorang aktifis. Sang aktifis menduga pula, bahwa pembubaran itu dilakukan agar manipulasi opini oleh pemerintah dan ABRI mengenai Peristiwa 27 Juli, tidak mendapat gangguan.

Agaknya aktifis Formaci itu benar: Karena makin hari makin terbukti, bahwa tuduhan pemerintah dan ABRI, yang menuding Partai Rakyat Demokratik (PRD) pimpinan Budiman Sudjatmiko sebagai kelompok berpaham komunis yang menjadi dalang dalam kerusuhan 27 Juli, merupakan tuduhan yang dibuat- buat.***

-(***)-

Nasional

Lia menolak didampingi pengacara
06 Jan 2006 06:12 pm

JAKARTA – Lia Aminuddin, yang mengaku istri Malaikat Jibril, menolak didampingi pengacara dalam menghadapi tuduhan pelecehan dan penodaan agama yang ditimpakan kepada dirinya. Sementara belasan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Ciputat berunjuk rasa menutut pembebasan pimpinan ‘Kerajaan Tuhan’ Eden itu.
Penolakan Lia didampingi pengacara itu disampaikan Dawam Rahardjo seusai membezuk Lia di tahanan Polda Metro Jaya, Kamis (5/1). Dawam yang juga aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) menawarkan Lia didampingi pengacara dari JIL.

Menurut Dawam yang juga pengamat politik itu, alasan Lia itu karena yang bersangkutan mengatakan hanya dirinya yang bisa memahami masalahnya. ‘’Dia hanya mau didampingi pengacara yang sudah melewati proses pensucian berdasarkan keyakinan Lia,’’ kata Dawam.

Dawam menolak bahwa dirinya merupakan pengikut ajaran Lia Aminuddin. Kedatangan dia ke Polda Metro Jaya membezuk Lia, karena dia simpatik dengan perjuangan wanita yang dulunya dikenal sebagai perancang bunga itu. Pada hari yang sama di Polda Metro Jaja, belasan mahasiswa UIN yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) melakukan demo menuntut dibebaskannya Lia.

Menurut juru bicara Formaci, Kusnandar, polisi tidak berhak menangkap dan menahan Lia. Lia, kata mereka, berhak mengeksperikan diri dan memilih kebebasan beragama. Penahanan dan penangkapan Lia sama saja penganiayaan terhadap kebebasan beragama. Malah, seharusnya Lia itu dilindungi. ‘’Negeri ini harus benarbenar menjamin kebebasan beragama,’’ tambah Iqbal, koordinator Formaci. Ary-Ct

sumber

2 thoughts on “Arsip Formaci”

  1. Baso Affandi said:

    salut buat kawan2 FORMACI yang selalu aktif berdiskusi tentang fenomena agama dan sosial.

  2. salam. Tema-tema diskusi Formaci sekarang lebin beragam . Kalau dulu lebih berfokus pada tiga tradisi yaitu Islamic studies, Sosiologi dan Filsafat. sekarang lebih kaya penjelajahan intelektualnya sebut saja Political philosophy, psicology, political economy, anthopology dan lainnya. terlebih lagi setelah Akses buku2 b.inggris semakin gencar dan banyak dari berbagai perpustakaan di Jakarta seperti perpus STF Dyiarkara, Freedom Institute, UI dan CSIS.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s